Kamis, 27 November 2014

News / Megapolitan

RS Persahabatan: Kematian Anna Bukan Malapraktik

Rabu, 24 April 2013 | 12:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan membantah bahwa insiden kematian pasiennya, Anna Marlina Simanungkalit (38), bukan disebabkan oleh malapraktik. Hal itu terungkap dalam audit medik yang dilakukan oleh pihak rumah sakit seusai kasus tersebut mencuat.

"Malapraktik itu tindakan yang tak sesuai SOP. Tapi ini semua prosedur yang dilakukan dokter kami sudah sesuai dengan SOP yang ditentukan," ujar Mohammad Syahril, Direktur Utama RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, dalam konferensi pers di kantornya Rabu (24/4/2013) siang.

Menurut Syahril, Anna datang ke Poliklinik Bedah Onkologi RSUP Persahabatan 19 Februari 2013 silam atas keluhan benjolan di lehernya sejak tiga tahun lalu dan kesulitan menelan. Oleh dr Budi Harapan Siregar, Sp, B Onk, Anna didiagnosis struma multinodosa non-toksika curiga ganas, T3N1Mx, atau banyak terdapat benjolan tumor.

Saat itu, lanjut Syahril, dr Budi menjelaskan, ada dua pilihan cara operasi. Pertama, operasi satu tahap, yaitu operasi dengan mengangkat tumor itu dan diperiksa di laboratorium patologi anatomi untuk menentukan jinak atau tidak. Jika jinak, maka operasi selesai. Namun, jika ganas, maka akan dilakukan pengambilan terhadap semua tumor itu.

Adapun pilihan kedua, yakni operasi dua tahap. Tumor tersebut diangkat hanya sedikit saja untuk diuji di laboratorium selama satu minggu, apakah benjolan ganas atau tidak. Jika tidak ganas, maka operasi selesai. Namun, jika ganas, maka seluruh tumor itu akan diangkat.

"Perbedaan keduanya hanya pada waktu. Yang pertama langsung. Yang kedua butuh waktu satu minggu. Nah, keluarga pasien Anna memilih opsi pertama, yaitu operasi satu tahap," lanjutnya.

Pada 10 Maret 2013, pasien pun dioperasi. Namun, pada 13 Maret 2013, pasien wajib melakukan operasi ulang. Pasalnya, ada hal yang dianggap rumah sakit sebagai hal yang tak diinginkan dalam operasi pertama, yakni terjadi pembekuan darah di sekitar tumor di lehernya.

Kondisi tersebut, ujar Syahril, bukan disebabkan kesalahan pada operasi pertama, melainkan tumor yang ada di leher Anna sudah menyebar.

"Setelah dioperasi, terdapat kebocoran pada saluran makanan (esofagus), diduga karena proses keganasan dari tiroid itu," ujar Syahril.

Seusai operasi kedua, Syahril mengklaim Anna dalam kondisi stabil. Oleh sebab itu, tim dokter menyetujui pasien dipindah ke ruang perawatan. Namun, tanggal 23 maret 2013 terjadi hal yang tak diinginkan.

Kondisi Anna tiba-tiba menurun. Meski upaya medis telah dilakukan dengan cara memindahkannya kembali ke ICU, Anna tidak tertolong. Pukul 13.45 WIB, Anna meninggal dunia.

Sebelumnya diberitakan, Pandapotan Manurung melaporkan dokter RSUP Persahabatan atas nama Budi Harapan Siregar ke Polda Metro Jaya, Senin (22/4/2013). Ia menilai sang dokter melakukan kesalahan diagnosis terhadap istrinya, Anna Marlina Simanungkalit, sehingga meninggal dunia.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri