Pengendara Sepeda Motor di Jakarta adalah Teroris

Kompas.com - 03/08/2009, 06:31 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Karakter suatu negara dapat dilihat dari perilaku masyarakatnya. Rakyat Indonesia jika dilihat dari Kota Jakarta dinilai tidak disiplin lantaran kebiasaan membuang sampah seenaknya tanpa mengenal tempat.

"Saya tidak suka lingkungan Jakarta! Banyak sampah di mana-mana. Saya prihatin melihatnya," ucap Alvaro Neil, warga Spanyol yang bersepeda keliling dunia untuk melakukan proyek pribadi Miles of Smile Around the World (MOSAW). Kali ini, ia singgah di Jakarta setelah sebelumnya menyambangi Malaysia.

Menurut Alvaro, kebersihan bukan hanya milik negara-negara kaya, tetapi milik semua negara. Namun, menurutnya, Indonesia mempunyai kelebihan yaitu keramahan rakyatnya terhadap orang asing. "Orang Indonesia bersahabat, saling menghormati," ucapnya.

Proyek MOSAW dimulai dari kota kelahirannya, Asturias, Spanyol, pada 2004, kemudian ke Amerika Selatan, Afrika Selatan, Timur Tengah, lalu ke Asia. Hingga di Kota Jakarta ia sudah menempuh jarak 65.089 km dan 1.717 hari perjalanan serta berganti 3 kali sepeda yang ia dapat dari sponsor.

Dalam setiap perjalanan tersebut, ia selalu membuat tersenyum warga di daerah yang disinggahinya. Prinsip yang dipegang teguh selama perjalanan yaitu jika mendapatkan sesuatu dari seseorang, ia harus memberikan kembali kepada orang lain. "Orang-orang banyak membantu saya," ujar dia.

Untuk membiayai ambisinya tersebut, Alvaro harus menjual mobil dan membawa tabungannya dari penghasilan sebagai pengacara di Spanyol serta dari penjualan buku yang ditulisnya mengenai sepeda. "60 persen uang saya, 20 persen sponsor, dan 20 persen dari orang-orang yang ditemui," kata Alvaro.

Namun, ia menolak menjawab ketika ditanya berapa jumlah uang yang dibawanya saat awal perjalanan. Uang, menurutnya, tidak penting karena yang terpenting adalah kekuatan hati yang dapat membuatnya mendapatkan banyak bantuan. "Jika kamu tidak punya energi yang kuat, kamu tidak akan bisa pergi ke mana-mana," kata dia.

Dengan modal yang dibawa, ia harus berhemat dengan segala cara agar dapat bertahan dengan uang 5 per hari dollar AS. Bahkan, ia tidak segan-segan untuk menawar makanan atau untuk biaya menginap selama perjalanan. "Boleh satu nasi goreng. Berapa harganya? 10.000? Oo, terlalu mahal boleh dikurangi? Mungkin 8.000 tidak pedas," paparnya dalam bahasa Indonesia yang belum fasih menirukan percakapan antara dia dan penjual nasi goreng beberapa waktu lalu.

Dalam perjalanan, ia membawa bekal seberat 80 kg yang dimasukkan ke dalam bagasi sepedanya, seperti tenda, pakaian, makanan, obat-obatan, kantung tidur, dan peta.

 

Tidak takut teroris

 

Ia mangaku tidak takut atas ledakan di Mega Kuningan yang terjadi dua pekan lalu. Tetapi, ia malah takut terhadap perilaku pengendara sepeda motor ataupun mobil yang ugal-ugalan di jalanan Ibu Kota. "Mereka semua teroris," ucapnya.

Usai perjalanan yang ditargetkan tahun 2014, ia mengaku tidak mengetahui apa yang akan dilakukannya. Kemungkinan, ia akan meneruskan pekerjaannya terdahulu sebagai penulis.

Dari Jakarta, ia akan melanjutkan perjalanan menuju Timor Leste, kemudian menuju Sulawesi, lalu Filipina, Kalimantan, dan Australia. "Setelah itu, ke tempat-tempat Asia seperti Laos, Kamboja, dsb," demikian Alvaro Neil.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keluhkan Kenaikan Harga Cabai Rawit Merah, Warga Kurangi Pembelian hingga Ganti Menu Makanan

Keluhkan Kenaikan Harga Cabai Rawit Merah, Warga Kurangi Pembelian hingga Ganti Menu Makanan

Megapolitan
Kasus di Jakarta Masih Tinggi Setelah Setahun Covid-19, Epidemiolog: Anies Lebih Sibuk Berpolemik dengan Pusat

Kasus di Jakarta Masih Tinggi Setelah Setahun Covid-19, Epidemiolog: Anies Lebih Sibuk Berpolemik dengan Pusat

Megapolitan
Begini Cara Perbaiki Akta hingga Ijazah Rusak Akibat Banjir

Begini Cara Perbaiki Akta hingga Ijazah Rusak Akibat Banjir

Megapolitan
Petani Terdampak Banjir, Harga Cabai Rawit Merah di Jakbar Naik 2 Kali Lipat

Petani Terdampak Banjir, Harga Cabai Rawit Merah di Jakbar Naik 2 Kali Lipat

Megapolitan
Perantau di Jabodetabek Tak Perlu Pulang Kampung untuk Urus SIM, Begini Caranya

Perantau di Jabodetabek Tak Perlu Pulang Kampung untuk Urus SIM, Begini Caranya

Megapolitan
Anggota DPRD DKI dan Keluarganya Jalani Vaksinasi Covid-19

Anggota DPRD DKI dan Keluarganya Jalani Vaksinasi Covid-19

Megapolitan
Pelayan Publik di Jakarta Barat Mulai Divaksinasi Covid-19 April

Pelayan Publik di Jakarta Barat Mulai Divaksinasi Covid-19 April

Megapolitan
Antisipasi Penyebaran Mutasi Virus Corona B.1.1.7, Ini Langkah Bandara Soekarno-Hatta

Antisipasi Penyebaran Mutasi Virus Corona B.1.1.7, Ini Langkah Bandara Soekarno-Hatta

Megapolitan
Kapolsek Menteng: Geng Motor yang Bacok Polisi Ingin Cari Lawan

Kapolsek Menteng: Geng Motor yang Bacok Polisi Ingin Cari Lawan

Megapolitan
Bangunan Liar Ditertibkan, Lahan di Kebagusan Akan Dibangun Asrama Mahasiswa

Bangunan Liar Ditertibkan, Lahan di Kebagusan Akan Dibangun Asrama Mahasiswa

Megapolitan
Tertibkan Bangunan di Kebagusan, Pemkot Jaksel: Tembok Kami Dirobohkan Mereka

Tertibkan Bangunan di Kebagusan, Pemkot Jaksel: Tembok Kami Dirobohkan Mereka

Megapolitan
IDI Jakarta: Setahun Pandemi Covid-19 Harus Jadi Pelajaran bagi Kita Semua

IDI Jakarta: Setahun Pandemi Covid-19 Harus Jadi Pelajaran bagi Kita Semua

Megapolitan
3 Tersangka Pencurian 49 Tabung Oksigen di Penjaringan Ditangkap

3 Tersangka Pencurian 49 Tabung Oksigen di Penjaringan Ditangkap

Megapolitan
Setahun Pandemi: Munculnya Hobi Tanam Sayur Hidroponik dan Budidaya Lele di Tengah Berbagai Pembatasan

Setahun Pandemi: Munculnya Hobi Tanam Sayur Hidroponik dan Budidaya Lele di Tengah Berbagai Pembatasan

Megapolitan
Damkar Bekasi Serahkan Buaya yang Diterima dari Warga ke Balai Konservasi

Damkar Bekasi Serahkan Buaya yang Diterima dari Warga ke Balai Konservasi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X