Korban Xenia Diberi Santunan

Kompas.com - 25/01/2012, 03:13 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Korban meninggal akibat kecelakaan yang melibatkan mobil Daihatsu Xenia dan pejalan kaki di Jalan M Ridwan Rais, Gambir, mendapat santunan dari Jasa Raharja, Selasa (24/1). Sementara itu, korban yang dirawat mendapat penggantian biaya perawatan dari Jasa Raharja dan Pemprov DKI Jakarta.

Direktur Operasi Jasa Raharja, Budi Setyarso, mengatakan, santunan diberikan untuk korban meninggal serta yang memerlukan perawatan dan pengobatan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

Besar santunan untuk ahli waris korban meninggal dunia Rp 25 juta, sedangkan korban yang dirawat berhak mendapatkan penggantian biaya perawatan dan pengobatan maksimal Rp 10 juta.

”Sementara ini, biaya pengobatan korban atas nama Siti Muqaromah sudah melebihi plafon. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, kami terus mengusulkan agar setiap tahun ada peningkatan plafon untuk biaya perawatan,” ujar Budi.

Siti merupakan korban selamat yang mengalami luka paling serius karena tangan kanan dan kaki kanannya patah.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emmawati menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak hanya menanggung biaya perawatan korban mobil xenia di rumah sakit, tetapi juga biaya kontrol ketika para korban sudah kembali ke rumah.

”Sangat dimungkinkan biaya pengobatan mereka setelah keluar dari rumah sakit juga ditanggung oleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan untuk korban bencana,” kata Dien.

Namun, Dien mengatakan, jumlah yang ditanggung Pemprov DKI adalah total seluruh pengeluaran untuk pengobatan dikurangi jumlah yang ditanggung oleh Jasa Raharja.

”Jadi, yang kami tanggung hanya sisa yang tidak ditanggung Jasa Raharja, karena santunan seperti ini memang sebenarnya tanggungan Jasa Raharja,” kata Dien.

Sementara itu, santunan Jasa Raharja bagi sembilan korban meninggal diberikan di empat kota yang berbeda sesuai dengan keberadaan ahli waris korban. Di Jakarta, santunan diberikan secara simbolis di balai RW 07 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru.

Dini Ardiani, istri Firmansyah yang merupakan salah seorang korban meninggal, tengah hamil tujuh bulan. Mereka menikah 21 Mei 2011 dan kini menanti anak pertama mereka. Uang santunan itu bakal digunakan untuk membiayai persalinannya kelak dan mengasuh anak. Sejak menikah Dini tidak bekerja lagi.

”Suami saya dulu bekerja sebagai pesuruh kantor. Pendapatan keluarga hanya berasal dari dia. Sekarang tidak ada lagi sumber pendapatan,” ucapnya.

Dirawat di ICU

Teguh Hadi Pramono, suami Siti, mengatakan, istrinya dioperasi hari Senin pagi. Setelah operasi selesai, Siti masih dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) RSPAD Gatot Soebroto.

Sejumlah selang masih terhubung ke tubuh Siti. Namun, beberapa kali Siti sadar dan sempat berkomunikasi dengan Teguh. ”Kondisi istri saya sudah makin membaik. Namun, saya belum tahu kapan dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan,” ujar Teguh yang terus mendampingi istrinya.

Pasangan suami-istri ini juga kehilangan anak mereka, Yusuf Sigit Prasetyo (2,5), dalam kecelakaan tersebut. Yusuf merupakan satu dari sembilan korban meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Selain Siti, dua korban kecelakaan masih dirawat di Paviliun Anak RSPAD, yakni Keni Perdana Sakti (8) dan Indra Gunawan (13).

Keni adalah keponakan Teguh. Ketika kejadian, rombongan keluarga Teguh ini sedang berjalan menuju Monas. Teguh mengatakan, saat kejadian dia tengah menggandeng keponakannya itu. ”Tiba-tiba ada orang yang terlempar dan mengenai saya. Saya sempat tidak sadar beberapa saat. Begitu sadar, keadaan sudah kacau,” ujarnya.

Teguh sempat dirawat setelah kejadian itu karena tangannya terkilir dan memar di sejumlah bagian tubuh. Namun, dia lantas bisa dirawat jalan karena lukanya tidak serius.

Sedangkan Keni yang masih dirawat sering mengeluh pusing di kepala terutama ketika menoleh. Selain itu, bocah yang duduk di kelas II SD itu juga mengalami shock.

Sedangkan Indra adalah salah seorang dari rombongan remaja yang tinggal di Kelurahan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Saat kejadian, rombongan ini tengah berjalan kaki pulang, seusai bermain futsal di Monas.

Aryati, ibunda Indra, mengatakan, anaknya masih sering menangis menahan sakit di bagian kepala. ”Sering kali dia bangun tidur dan berteriak-teriak karena sakit. Setelah diberi obat, dia bisa tidur lagi. Tapi, kalau bangun, rasa sakit itu muncul lagi,” ujarnya, kemarin.

Keluarga korban berharap pelaku mendapatkan hukuman setinggi-tingginya karena tindakan pelaku telah menghilangkan banyak nyawa. (ART/ARN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.