Persulit Relokasi Warga, Jabatan Pun Hilang

Kompas.com - 30/01/2013, 03:29 WIB
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tampaknya telah bertindak tegas terkait adanya oknum Pemprov DKI yang ditengarai mempersulit relokasi warga ke Rusun Marunda.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pun mengaku sudah "menghilangkan" jabatan oknum tersebut. "Tadi pagi kan sudah hilang. Gimana toh. Cari sendirilah orangnya," kata Jokowi, di Balaikota Jakarta, Selasa (29/1/2013) malam.

Menurut Jokowi, perbaikan dan pemenuhan Rusun Marunda merupakan salah satu program unggulannya dalam APBD 2013. Ada dua hal yang harus dijelaskan Jokowi kepada publik. Yang pertama adalah Rusun Marunda penuh dan tidak mangkrak. Yang kedua, telah banyak peminat yang menginginkan untuk menempati Rusun Marunda, terutama warga bantaran yang tiap tahun selalu kebanjiran.

Dengan kondisi seperti itu, Jokowi kemudian menugaskan jajaran di bawahnya untuk mempercepat revitalisasi dan memudahkan warga untuk menempati Rusun Marunda. "Kemudian malah ada yang enggak mengerjakan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, atau ada yang malah mempersulit, ya hilang sudah," tegasnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga menyampaikan, oknum di Rusun Marunda berasal dari Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintahan DKI Jakarta. Senada dengan Jokowi, ia juga mengancam bakal mengeluarkan oknum tersebut dan memutasikannya ke tempat lain.

"Oh pasti, akan kita keluarkan dari Dinas Perumahan. Kita belum bisa pecat sebagai PNS. Tapi kan kalau mengulangi, ada track record-nya," kata Basuki.

Mantan Bupati Belitung Timur itu merasa tak habis pikir mengapa oknum tersebut mempersulit warga yang ingin mengungsi ke Rusun Marunda. Padahal, menurutnya, kehadiran para pengungsi dapat membantu pengelolaan rusun yang dalam masa renovasi itu.

Modus yang digunakan oknum pegawai untuk menghambat warga adalah dengan meminta salinan kartu keluarga dan KTP. Selain itu, oknum tersebut juga berdalih tak bisa memberikan fasilitas rusun kepada warga yang mengungsi dengan alasan biaya perawatan dan biaya listrik yang mahal.

"Saya bingung, masak diminta kartu keluarga dan KTP? Kan lagi kebanjiran. Lagi pula kalau ditempati kan jadi aman, enggak ada lagi pencurian pintu di rusun itu," ujarnya.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Seorang Perempuan bersama Dua Anaknya Terjebak di Lift Selama Selama 1,5 Jam

    Seorang Perempuan bersama Dua Anaknya Terjebak di Lift Selama Selama 1,5 Jam

    Megapolitan
    Jakarta Terpilih sebagai Kota Terbaik dalam Kemajuan Transportasi

    Jakarta Terpilih sebagai Kota Terbaik dalam Kemajuan Transportasi

    Megapolitan
    UPDATE 31 Oktober: 80 Pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi Masih Dirawat di Rumah Sakit

    UPDATE 31 Oktober: 80 Pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi Masih Dirawat di Rumah Sakit

    Megapolitan
    Tabrak Trailer dari Belakang, Pengendara Motor Patah Tulang dari Hidung sampai Paha

    Tabrak Trailer dari Belakang, Pengendara Motor Patah Tulang dari Hidung sampai Paha

    Megapolitan
    UPDATE 31 Oktober: Kumulatif Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 1.823

    UPDATE 31 Oktober: Kumulatif Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 1.823

    Megapolitan
    Lawan Arus Saat Kendarai Motor, Dua Pemuda Tewas Dihantam Mobil Boks

    Lawan Arus Saat Kendarai Motor, Dua Pemuda Tewas Dihantam Mobil Boks

    Megapolitan
    Polda Metro Jaya Antisipasi Puncak Arus Balik Libur Panjang

    Polda Metro Jaya Antisipasi Puncak Arus Balik Libur Panjang

    Megapolitan
    Progres Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Capai 40,85 Persen

    Progres Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Capai 40,85 Persen

    Megapolitan
    Turun Rp 24 Triliun, Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 63,23 Triliun

    Turun Rp 24 Triliun, Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 63,23 Triliun

    Megapolitan
    Pemkot Jakarta Selatan Gelar Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan

    Pemkot Jakarta Selatan Gelar Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan

    Megapolitan
    UPDATE 31 Oktober: Tambah 21 Orang, Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.180

    UPDATE 31 Oktober: Tambah 21 Orang, Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.180

    Megapolitan
    Kronologi Penganiayaan WN Pakistan, Pelaku Mulanya Kesal Diklakson kemudian Menyerang Pakai Senjata Tajam

    Kronologi Penganiayaan WN Pakistan, Pelaku Mulanya Kesal Diklakson kemudian Menyerang Pakai Senjata Tajam

    Megapolitan
    Video Pengemudi Bus dan Mobil Pribadi Adu Mulut di Jalan Viral

    Video Pengemudi Bus dan Mobil Pribadi Adu Mulut di Jalan Viral

    Megapolitan
    11 Pasien Covid-19 di The Green Hotel Dipindahkan ke RS Darurat Stadion Patriot Bekasi

    11 Pasien Covid-19 di The Green Hotel Dipindahkan ke RS Darurat Stadion Patriot Bekasi

    Megapolitan
    Pengunjung Kota Tua Mencapai 2.412 Orang pada Jumat Kemarin

    Pengunjung Kota Tua Mencapai 2.412 Orang pada Jumat Kemarin

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X