Kompas.com - 01/05/2013, 14:42 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Kemacetan di Ibu Kota Jakarta akibat aksi buruh sangat berdampak pada James (67), seorang sopir taksi. Dia sampai heran mengapa buruh terus melakukan demo.

"Sekarang buruh itu sebenarnya mau apa? Kemarin minta UMP dinaikkan. Sudah dinaikkan, masih saja demo. Memang yang bekerja itu cuma buruh saja," kata James yang terlihat kesal seharian terhadang kemacetan.

Pria yang telah menjadi sopir taksi selama 12 tahun itu mengaku geram dengan kemacetan di Ibu Kota yang sudah satu hari ini ia alami. Dia sampai mengumpat kebijakan libur nasional saat Hari Buruh Internasional yang baru dilaksanakan tahun depan.

"Masih saja semuanya disuruh masuk, padahal jalanan sudah enggak gerak begini. Mengapa baru kepikiran sekarang buat jadikan tanggal merah? Giliran hari kejepit saja, SBY pintar. Kalau yang begini saja, enggak ngerti," kata James kepada Kompas.com, Rabu (1/5/2013).

Pria yang telah memiliki empat cucu itu kemudian bercerita pengalaman kemacetan yang ia temui hingga pukul 13.30. James memulai aktivitasnya setelah menunaikan ibadah shalat Subuh, yaitu sekitar pukul 05.00. Tugas pertamanya adalah mengantar penumpang yang bertempat tinggal di Kota Wisata Tangerang menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Saat keluar bandara, sudah banyak polisi yang menjaga kawasan itu dan menimbulkan kemacetan. Selama lebih kurang 60 menit, ia terjebak di kemacetan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Setelah itu, ia mendapatkan penumpang di Puri Kembangan, Jakarta Barat, menuju Gedung BNI 46, Pejompongan. "Mulai dari situ, semua jalan sudah dialihkan. Ke Bundaran HI sudah tidak bisa dan dialihkan ke Jalan Blora di bawah Stasiun Sudirman. Terus ke Kebon Sirih, Tugu Tani, macetnya juga pol-polan. Saya kalau disuruh milih, lebih baik tidur di rumah saja," ujar James.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain kesal dengan SBY yang tidak tanggap, pria bertubuh tambun itu juga kesal dengan aksi buruh yang menuntut hal yang sama setiap tahun, tetapi sangat merugikan masyarakat. Selain menimbulkan kemacetan, menurut dia, aksi ribuan buruh itu membuat aktivitas masyarakat yang mau melakukan kerja jadi sangat terhambat karena operasional transjakarta dan angkutan umum yang dihentikan.

"Lagian SBY juga sekarang lagi di Jawa Timur, siapa yang mau dengar mereka. Sudah capek saya ngerasani Indonesia," keluh James.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.