Kompas.com - 10/05/2013, 06:38 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorPalupi Annisa Auliani

JAKARTA, KOMPAS.com — Teknologi yang akan diterapkan untuk mass rapid transportation (MRT) Jakarta dinilai sudah ketinggalan zaman. Salah satu indikator ketinggalan zaman itu adalah lebar rel yang akan dipakai untuk angkutan massal itu.

"Rel yang nanti dibangun lebarnya 1 meter, sedangkan di Eropa dan banyak negara lain sudah menggunakan yang 1,4 meter," kata salah satu anggota Masyarakat Peduli MRT, Alex Taroreh, Kamis (9/5/2013). Penggunaan teknologi untuk MRT Jakarta pun menurut dia hanya akan menyebabkan ketergantungan pada Jepang. 

Ketergantungan pada Jepang, kata Alex, terjadi karena hanya negara itu yang nantinya bisa menyediakan suku cadang untuk MRT Jakarta. Jika saja MRT Jakarta menggunakan teknologi yang lebih baru seperti yang digunakan di banyak negara lain, ujar dia, suku cadang bisa didatangkan dari beragam negara tak hanya Jepang. "Kalau kita menggunakan (rel) yang 1,4 (meter) maka bisa beli dari Jerman, Amerika Serikat, ataupun Jepang sendiri," kata Alex.

Sementara itu, Lieus Sungkarisma, juga anggota Masyarakat Peduli MRT berpendapat teknologi yang akan dipakai untuk MRT Jakarta hanyalah teknologi limbah Jepang. "Limbah dari Jepang, rel sudah gak standar dan teknologi lama," katanya.

Lieus menegaskan, Masyarakat Peduli MRT tidak menentang rencana Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk menggulirkan program pembangunan MRT. Namun, ujar dia, mereka meminta Jokowi mau mendengarkan aspirasi mereka. "Kami pendukung setia Jokowi karena dia mau mendengar. Masa sekarang kami digilas gara-gara Jepang kasih duit. Jakarta Baru gak boleh main nindas gitu aja," kecam dia.

Rencananya, pembangunan MRT akan dilakukan oleh kontraktor pemenang tender, yakni Wijaya Karya dan Shimizu, Jaya Konstruksi dan Obayashi, serta Hutama Karya dan Sumitomo Mitsui Construction Company. Pembangunan MRT dilakukan sepanjang Lebak Bulus di Jakarta Selatan hingga Kampung Bandan, Jakarta Pusat.

Proyek ini terdiri dari dua jenis konstruksi, yakni jalur bawah tanah (underground) dari Kampung Bandan hingga Jalan Sisingamangaraja, dan jalur layang (elevated) mulai Jalan Sisingamangaraja hingga Lebak Bulus. Masyarakat Peduli MRT menentang keras rencana pembangunan untuk jalur elevated. Alasan mereka, pembangunan jalur layang tersebut akan mematikan perekonomian di sepanjang rute tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.