Kamis, 27 November 2014

News / Megapolitan

Jokowi: Jakarta Tetap Butuh Bantar Gebang

Rabu, 17 Juli 2013 | 11:56 WIB
Alfiyyatur Rohmah Tumpukan sampah di atas rel kereta Pesing Garden, Kedoya Utara, sedang dibersihkan oleh petugas kebersihan pada Rabu (23/1/2013). Tumpukan sampah tersebut akan dibawa ke tempat pembuangan sampah terakhir di Bantar Gebang, Bekasi.

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Joko Widodo mengakui Jakarta masih membutuhkan Bantar Gebang sebagai tempat pengolahan sampah terpadu. Namun, jika sistem pengolahan sampah baru atau integrated treatment facility  (ITF) telah rampung, sampah di Jakarta dapat dibagi-bagi.

"Bantar Gebang tetap masih kita perlukan," ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Rabu (17/7/2013).

Integrated treatment facility merupakan sistem pengolahan sampah terpadu di DKI Jakarta. Rencananya, sistem ITF akan diadakan di lima pemerintah kota. Sampah itu akan diolah untuk menjadi biogas dan dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Jika satu ITF memiliki kapasitas 1.200 ton sampah per harinya, berarti beban sampah di Bantar Gebang, Bekasi, yang semula 6.000 per harinya akan berkurang sebanyak 4.800 ton per harinya. Dengan demikian, TPSP Bantar Gebang tersebut hanya kebagian 1.200 ton sampah per hari.

"Kalau semuanya dibawa ke Bantar Gebang, problemnya biaya transportasi. Cost membawa ke sana itu sangat tinggi," lanjut Jokowi. Biaya angkut sampah Rp 114.000 per tonnya.

Jokowi menjelaskan, sistem ITF hingga saat ini masih dalam tahap lelang. Namun, Jokowi berjanji untuk segera menerapkan sistem ITF itu.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri