Senin, 27 Maret 2017

Megapolitan

Surat untuk Jakarta

Senin, 7 November 2016 | 07:59 WIB
Kompas Video Surat Untuk Jakarta
Oleh: Wisnu Nugroho

Di sini tertanam rindu. Di sebuah kota yang kupanggil rumah. Surat untuk Jakarta.

Tiga belas kata. Tiga kalimat. Tidak lebih.

Untuk tumbuhnya cinta, memang tidak perlu banyak kata-kata.

Kekuatan grafis dan animasi beberapa momen dipadu suara yang khas dan pas dalam film animasi "Surat untuk Jakarta", mengingatkan kita langsung pada Jakarta, kota yang kita cinta.



Tidak heran jika film animasi "Surat untuk Jakarta" yang diprodusi Pijaru meraih Piala Citra Film Animasi Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2016, Minggu (6/11/2016).

(Baca: Surat untuk Jakarta Meraih Piala Citra untuk Film Animasi FFI 2016)

Film karya sutradara Andre Sugianto, Aditya Prabaswara, dan Ardhira Anugrah Putra ini dibuat untuk hadiah bagi hari jadi ke-489 Kota Jakarta.

Sebelumnya, "Surat untuk Jakarta" meraih Best Picture di Hellofest 2016.

Menurut Produser Eksekutif "Surat untuk Jakarta" Jerry Hadiprojo, film animasi ini semacam kode, gambaran dan respons tentang Jakarta.

Film animasi ini adalah interpretasi dari tim berisi anak-anak muda yang sebagian besar tinggal, hidup, dan cari makan di Jakarta.

Berbeda dengan film pada umumnya, "Surat untuk Jakarta" tidak memiliki karakter utama. Tokoh utamanya adalah Jakarta. Momen-momen Jakarta itu digambarkan secara hening dan mendalam.

Pada momen-momen itu, kritik sosial untuk Jakarta diselipkan. "Surat untuk Jakarta" lantas disampaikan untuk "dibaca" dalam keheningan.

Ada problem kemacetan, angkutan umum yang tengah diperjuangkan, hujan dan banjir yang ditimbulkan, sampai soal kerukunan hidup warga Jakarta dalam keragaman.

Mencintai Jakarta

Dalam kondisi tidak sempurna di Jakarta, cinta bisa mekar juga. Karena itu, ikhtiar banyak pihak untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Jakarta perlu diberi ruang dan apresiasi.

Jakarta perlu mewadahi beragam cinta yang ditujukan kepadanya. Jakarta milik semua dan karenanya berhak dicintai semua juga.

Mulai dari Nenek Tinah di trotoar Senayan hingga tiga pasang kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Mereka sama-sama punya cinta yang besar dan menyala-nyala untuk Jakarta. Kita tidak meragukan mereka.

(Baca: Cerita Nenek Tinah yang Shalat di Trotoar Kompleks GBK Senayan )

Karena itu, keceriaan yang menjadi cermin adanya cinta kepada Jakarta terpantul saat tiga pasang kandidat mengawali tahap awal pencalonan mereka.

Rumah Sakit TNI AL Mintohardjo, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2016), menjadi saksi keceriaan Agus-Sylvi, Basuki-Djarot, dan Anies-Sandiaga.

krisiandi Tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI JAkarta berswafoto bersama di tengah pemeriksaan kesehatan di RSAL Mintohardjo, Jakarta, Sabtu (24/9/2016). Foto: Instagram @aniesbaswedan
Lewat gawai yang dipegang dan dipotret Anies, semua kandidat tersenyum bersisian dalam kegembiraan. Mereka seperti melupakan pasangan dan posisi saling berlawanan.

Seperti disebut Anies yang berinisiatif mengambil wefie, foto itu dibuat untuk memastikan pilkada di Jakarta berjalan menyenangkan, mengembirakan, bukan yang tegang, bukan yang rasanya seperti mau tempur-tempuran.

(Baca: Senyum Riang di Foto Wefie Para Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI )

Sinyal awal ini melegakan. Namun, baru beberapa pekan bejalan, kepastian pilkada Jakarta berjalan menyenangkan, menggembirakan hilang dari realitas harian.

Karena pilkada Jakarta, beberapa hari belakangan ini kita dibuat tegang dan masuk dalam situasi yang rasanya seperti mau tempur-tempuran.

Di hampir semua ruang baik ruang nyata maupun maya, hal-hal menyenangkan dan menggembirakan terkait pilkada Jakarta seperti hilang.

Di batin sejumlah warga Jakarta, justru muncul ketakutan.

Untuk munculnya situasi ini, kesalahan bisa dicari dan bisa dicari-cari. Untuk kesalahan, biasanya kita enggan mengakui dengan menunjuk kesalahan pihak lain lagi.

Begini terus, tanpa pernah ada solusi.

Menagih janji

Sebagai warga Jakarta, kita berhak menagih janji awal tiga pasang kandidat yang sudah terlanjur terpatri di sanubari kita saat mereka wefie: memastikan pilkada Jakarta menyenangkan dan menggembirakan.

Tidak mudah memang lantaran sejatinya ada pertarungan merebut suara warga Jakarta. Namun, jika pertarungan itu dilandasi perasaan cinta yang sama kepada Jakarta, kegembiraan bisa tetap ditampilkan.

Untuk itu, inisiatif awal Anies dan sukses menggambarkan keceriaan di awal pilkada Jakarta bisa diulang untuk kembali mengingatkan. Kita tidak sedang dalam situasi pertempuran tetapi dalam situasi festival karya, festival rencana, dan festival gagasan.

Tiga festival yang dijanjikan ini sampai sekarang tidak banyak muncul ke permukaan.

(Baca: Cerita di Balik Foto Wefie Tiga Pasangan Bakal Cagub dan Cawagub DKI )

Kenapa langkah nyata tiga kandidat ini penting? Karena apa yang dilakukan kandidat biasanya diikuti para pendukungnya.

Apalagi ini Jakarta yang jadi acuan seluruh Indonesia dan 100 daerah lain yang serentak menggelar pilkada juga pada 15 Februari 2017.

Untuk kasus wefie pilkada Jakarta, banyak muncul keceriaan seperti parodi warga yang ampuh meredakan ketegangan karena perebutan suara. Untuk hal ini, Project Pop juaranya.

(Baca: Project Pop Wefie ala Tiga Pasang Bakal Cagub-Cawagub DKI)

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Pasangan calon cagub-cawagub berfoto bersama seusai acara pengundian nomor urut pasangan cagub dan cawagub, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (25/10/2016) malam. Acara pengundian nomor urut ini dihadiri oleh ribuan pendukung dari ketiga pasang calon.
Sebagai warga Jakarta, saya menunggu dan segera akan menagih janji tiga kandidat untuk menghadirkan hal-hal menyenangkan dan menggembirakan di pilkada Jakarta.

Karena hal-hal menyenangkan dan menggembirakan biasanya tumbuh dari cinta, film "Surat untuk Jakarta" bisa jadi sarana menumbuhkan lagi cinta mereka pada Jakarta yang tidak sempurna karena tidak sedikit persoalannya.

Editor : Heru Margianto