Seni Berkendara ala Orang Indonesia - Kompas.com

Seni Berkendara ala Orang Indonesia

Aji Chen Bromokusumo
Kompas.com - 19/06/2017, 07:03 WIB
KOMPAS.COM/DIAN FATH Kemacetan terjadi di sepanjang Jalan Gunung Sahari, Pademangan, Jakarta Utara tepat depan Mangga Dua Square, Rabu (19/3/2014). Banyak kendaraan, termasuk bus transjakarta, memilih melawan arah untuk keluar dari kemacetan tersebut.

Semakin hari mengemudi atau berkendara di (hampir) seluruh jalanan Indonesia sungguh merupakan petualangan dan tantangan tersendiri.

Tantangan terbesar adalah para pengendara sepeda motor yang menyemut di jalanan, terutama di Jakarta. Ditambah lagi sekarang semakin banyak mobil dengan low budget yang diistilahkan sebagai LCGC (Low Cost Green Car).

Sesungguhnya istilah LCGC ini sangat menyesatkan karena hanya seolah-olah ‘green’ (yang diidentikkan dengan irit bahan bakar); ya jelas saja karena cc kecil (biasa di kisaran 800cc-1400cc) otomatis konsumsi bahan bakar juga lebih sedikit dengan cc yang lebih besar.

Pengendara motor (hampir) selalu memosisikan dirinya sebagai ‘orang kecil’: sudah susah cari makan dengan berkendara motor, kepanasan, kehujanan, macet, berdebu, bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Sementara pengendara mobil juga tidak kalah parahnya. Entah itu mobil LCGC ataupun mobil mewah sekelas Lexus sekalipun, tabiat dan sepak terjang pengemudi/pengendara mobil tidak lebih baik dibanding pengendara motor.

Tidak pengemudi mobil ataupun pengendara brompit (sepeda motor) kebanyakan di jalan memang sungguh piawai berlalulintas.

Ya maklum sih, lha wong SIM’nya saja bisa dikatakan mayoritas tembakan. Tanpa pengetahuan teori mengemudi dan peraturan lalulintas yang cukup, tapi biasanya 101% pasti lulus ujian teori dan 101% juga lulus ujian praktek dan mendapatkan SIM.

Beginilah seni berkendara di Indonesia…

Beberapa kredo (sesuatu yang diimani) untuk pengendara kendaraan bermotor di jalanan:

Untuk sepeda motor:

  • Seluruh ruas jalan adalah milik pengendara motor. Arus lalulintas, verboden, dilarang belok, dilarang berputar, semua itu tak ada artinya. Lawan arus sah-sah saja demi penghematan bahan bakar dan waktu. Tidak ada arah arus lalulintas untuk pengendara motor.

  • Jangan pernah takut dengan mobil, truk, container, tronton, dan sebagainya. Jika terjadi tabrakan, srempetan, senggolan, serudukan, apapun itu, sepeda motor tak pernah salah (biar nyawa melayang sekalipun).

  • Jika melihat ada mobil menyeberang atau memberikan lampu sein tanda berbelok, gas-lah motor lebih cepat untuk sebisa mungkin menghalangi, memotong atau melaju di depannya sebelum berbelok.

  • (Khusus untuk Medan). Traffic light hanyalah asesoris. Hijau jalan terus, kuning putar gas, merah tengok kanan kiri. Tidak ada istilah stop, hanya buang-buang waktu.

  • Kolong fly-over, kolong jalan tol, kolong jembatan penyeberangan adalah tempat berteduh jika hujan, peduli amat dengan pengendara lain, sudah mending disisakan satu jalur.

  • Trotoar adalah jalur tambahan dan bukan untuk pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki, klakson kencang-kencang, jika tak mau minggir, makilah, pelototilah bila perlu senggollah.

  • Yang tidak setuju dengan kredo di atas berarti tidak pro rakyat kecil, tidak pro orang susah. Tidak pro rakyat kecil berarti komunis, antek PKI!

Untuk mobil (dan truk, bus, angkot):

  • Jalur di jalan tol tak ada artinya. Kalau ingin melaju di jalur paling kanan dengan kecepatan 30-40 km/jam sah-sah saja.

  • Kalau ada mobil di belakang menglakson atau memberikan tanda lampu ingin mendahului, peduli amat, itu urusan dia mencari jalur yang kosong untuk mendahului.

  • Jika terus-terusan menglakson, berhenti, makilah si pengendara, bila perlu ajak berantem.

  • Bus, truk boleh melaju di jalur mana saja di jalan tol. Kendaraan lebih kecil carilah sendiri jalurmu.

  • Bahu jalan adalah jalur tambahan, bukan jalur darurat.

  • Kecepatan tanggung, pelan tidak, kencang tidak, kiri tidak, kanan tidak, suka-suka gue lah, mobil juga mobilku.

  • Setiap ruas jalan adalah perhentian angkot untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

  • Ngetem penumpang sah-sah saja mau 2, 3, 4 lapis ke tengah jalan, yang penting masih tersisa satu jalur atau ¾ jalur untuk pengendara lain. Itu semua demi mengejar setoran dan sesuap nasi. (Yang tidak setuju ini, berarti komunis, antek PKI).

Setelah sedikit memahami kredo pengendara di atas, marilah pelajari lebih lanjut ilmu-ilmu di bawah ini:

AJI CHEN -

Pada kondisi A, untuk berbelok ke kiri, saliplah mobil di depan anda dari kanan dan potonglah ke kiri. Demikian sebaliknya, jika ingin berbelok ke kanan, saliplah mobil di depan anda dari kiri dan potonglah ke kanan.

AJI CHEN -

Pada kondisi B, jika mobil di depan anda sudah memberikan tanda belok ke kiri, segeralah gas motor anda lebih kencang, salip dari kiri kemudian potong untuk terus lurus atau potong ke kanan sesuai arah tujuan anda. Jangan takut tersenggol, terserempet atau tertubruk, motor tak akan pernah salah.

Demikian sebaliknya untuk mobil yang ingin berbelok ke kanan.

 

AJI CHEN -

Pada kondisi C, putar gas motor anda lebih kencang, salip dari depan mobil dan potong untuk kembali ke jalur anda. Sekali lagi jangan takut, motor tak akan pernah salah.

Kepiawaian anda memotong adalah tantangan tersendiri, jika anda tak tersenggol dan pengemudi mobil misuh-misuh, itulah letak kebanggaan akan kepiawaian anda.

AJI CHEN -

Pada kondisi D, anda ingin berbelok ke kanan, langsung saja putar setir ke kanan, ambillah lintasan terpendek untuk mendukung gerakan penghematan bahan bakar, dibandingkan dengan lintasan warna merah yang jarak tempuhnya lebih panjang.

AJI CHEN -

Demikian juga jika anda dari jalan besar, ingin berbelok ke kanan memasuki cluster anda, ambillah jarak tempuh terpendek. Tidak usah pedulikan mobil yang dari dalam, dia harus berhenti memberikan anda jalan.

Kalau tidak mau berhenti, klaksonlah, nyalakan tanda lampu dim untuk minta jalan, bila perlu buka jendela dan makilah.

Perlu selalu diingat, anda adalah raja di jalan, anda adalah pengguna jalan dan yang lain hanyalah pelengkap di jalan.

Anda sudah beli mobil atau motor pakai uang anda sendiri (entah kalau gratifikasi dari mana atau ngembat di mana), bayar pajak kendaraan bermotor, urus SIM juga dengan “dibantu”, pajak jalanan juga bayar, jadi anda punya hak penuh atas apapun mau anda.

Dan inilah hasilnya…

AJI CHEN -

Page:
EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X