Video: Kisah Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang - Kompas.com

Video: Kisah Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang

Karim Raslan
Kompas.com - 03/11/2017, 19:37 WIB
Setiap Rabu sore, anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang melakukan aktivitas Hizbul Wathan. Mereka berlatih kegiatan-kegiatan kepanduan, diselingin melakukan permainan-permainan tradisional seperti gobak sodor atau benteng-bentengan di mana ada kompetisi antar kelompok.Dok Karim Raslan Setiap Rabu sore, anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang melakukan aktivitas Hizbul Wathan. Mereka berlatih kegiatan-kegiatan kepanduan, diselingin melakukan permainan-permainan tradisional seperti gobak sodor atau benteng-bentengan di mana ada kompetisi antar kelompok.

Pengantar: Ceritalah ASEAN baru-baru ini mengunjungi Ubud (Bali), Pekalongan, Muntilan, Mangelang (Jawa Tengah) dan satu kawasan fenomenal di Jakarta, Tanah Abang untuk memproduksi serangkaian video tentang keberagaman agama Indonesia. Sejak pekan lalu dan beberapa pekan ke depan, Ceritalah ASEAN akan menghadirkan video ini berikut tulisan kolom tentang tradisi pluralisme yang menakjubkan di negara ini.

SEMBILAN puluh enam tahun silam atau tepatnya pada 1921, Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar (selain Nahdlatul Ulama) di Indonesia, mendirikan panti asuhan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Lokasi Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang ini tak jauh dari Pasar Tanah Abang yang fenomenal. Pusat grosir terbesar di Asia Tenggara yang menjual berbagai produk tekstil dan turunannya ini, seringkali disebut sebagai penanda denyut nadi perekonomian ibu kota.

Bangunan dalam kompleks panti terdiri dari satu gedung berlantai empat. Lantai satu digunakan untuk tempat tinggal 30 anak-anak yatim piatu dan telantar yang diasuh.

Berikutnya lantai dua hingga empat digunakan untuk ruang kelas sekolah umum dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)—khusus jurusan administrasi perkantoran. Anak-anak tersebut tak hanya berasal dari Jakarta thdan sekitarnya, melainkan juga dari Jambi, Nusa Tenggara Timur, dan Manado.

Syaifuddin Zuhri, pembimbing Panti, menuturkan bahwa membimbing dan mendidik anak-anak yatim piatu dan terlantar merupakan panggilan Muhammadiyah. “Dasarnya adalah surat Al Ma’un,” ujar Syaifuddin dengan suaranya yang berat dan tegas. “

Tahukah engkau, orang yang mendustakan agama itu adalah orang yang menghardik anak yatim,” dia mengutip arti dari salah satu ayat dalam surat Al Ma’un.

“Melihat banyaknya anak-anak yatim piatu yang telantar, tidak diapa-apakan, tidak diurus, tidak dibimbing, dan tidak dididik,” tutur Syaifuddin kemudian, “terpanggillah Muhammadiyah untuk mendirikan suatu panti asuhan,”

Samsuri, seorang santri berusia dua puluh tahun, telah menjadi anggota panti sejak 2007. Sejak ayahnya meninggal, dia dititipkan oleh ibunya di panti agar mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Saat ini, lelaki tinggi dan kurus itu sedang menjalani kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta mengambil jurusan pendidikan agama. Dia mengaku mengalami perubahan yang luar biasa dalam dirinya setelah menjadi penghuni Panti Asuhan Muhammadiyah selama sepuluh tahun.

“Sebelum masuk ke sini, jujur saya tidak bisa mengaji dan salat,” Samsuri mulai bercerita dengan polosnya. “Waktu masuk ke sini, membaca pun masih terbata-bata,” tuturnya lebih lanjut.

Namun, dengan usaha kerasnya belajar, dalam tiga bulan Samsuri berhasil mengatasi ketertinggalannya. Setiap kali pulang ke kampungnya di Rumpin, Bogor untuk berlebaran, ibu Samsuri yang bekerja sebagai petani selalu bangga atas perubahan dan perkembangan diri anaknya.

Cita-cita Samsuri sederhana, dia ingin menjadi guru agama. Lebih jauh lagi, Samsuri yang paling tua dan menjadi panutan anak-anak Panti lainnya, berangan-angan bisa bekerja di Kementerian Agama.

Ketika ditanya, apakah dia senang tinggal di panti dan berpisah dengan ibunya, sambil tersenyum lebar dan tanpa malu, dia pun mengaku sering merasa rindu dengan ibunya.

Namun, perasaan itu mudah ditepisnya manakala dia harus mengarahkan “adik-adiknya” yang masih kecil agar disiplin bangun pagi dan bersih-bersih panti.

“Tapi, saya senang di sini, berkumpul dengan anak-anak dari berbagai daerah. Kami sering bercanda-canda bareng,” ujarnya. Tak cuma itu, dia pun mengaku sangat bersyukur karena di panti, hidupnya terjamin.

“Alhamdulillah, semua biaya hidup dan kuliah ditanggung panti, asalkan kami harus berprestasi dan mengabdi pada Panti,” tuturnya.

Mengenal lebih jauh Muhammadiyah, perserikatan ini didirikan oleh seorang Kyai Haji Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Tujuan KH Ahamad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah karena ingin memperbaharui Islam di Nusantara.

Ketika itu, praktik Islam banyak diwarnai hal-hal yang mistik. Melalui Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah ini, berharap umat Islam di Indonesia memiliki cara berpikir dan beramal secara Islam.

Kata Muhammadiyah memiliki arti, pengikut Nabi Muhammad SAW, yaitu semua orang yang meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan pembawa pesan Allah SWT yang terakhir, yang mengajarkan Islam dan Tauhid.

Dari sudut pandang organisasi, Muhammadiyah adalah gerakan yang bersifat dakwah “amar ma’ruf nahi munkar” berasaskan Islam dan bersumber pada Al Quran dan Sunah.

Dengan jumlah anggota sekitar 50 juta orang yang tersebar di seluruh pelosok negeri, sifat organisasi Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial budaya. Di antara sekian banyak usaha dalam Muhammadiyah, bidang pendidikan dan sosial-lah adalah yang paling menonjol.

Sebab, pendidikan dan pengajaran adalah unsur yang mutlak untuk meningkatkan kecerdasan rakyat. Itu sebabnya Muhammadiyah sangat mementingkan pendidikan dan pengajaran di samping gerakan keagamaan. Saat ini Muhmmadiyah memiliki 9.515 sekolah (dari TK hingga Universitas, termasuk pondok pesantren ) dan 318 panti asuhan yang menyebar di seluruh Indonesia.

Untuk meningkatkan pendidikan pemuda, Muhammadiyah membentuk organisasi otonom “Hizbul Wathan” yang artinya “Pembela Tanah Air”.

Hizbul Wathan adalah gerakan kepanduan (pramuka) yang berasaskan Islam yang bertujuan untuk menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda memiliki akidah, mental dan fisik, ilmu dan teknologi, serta akhlak karimah (tingkah laku terpuji).

Metode kepanduan yang digunakan dalam Hizbul Wathan adalah pemberdayaan anak didik lewat sistem berkelompok, berkegiatan di alam terbuka, serta pendidikan dengan metode yang menarik, menyenangkan, dan menantang.

Layaknya sistem kepanduan yang berlaku umum, di dalam Hizbul Wathan juga dikenal sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan. Kemudian, di antara pandu putera dan pandu puteri berlaku juga sistem satuan dan kegiatan yang terpisah.

Setiap Rabu sore, anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang melakukan aktivitas Hizbul Wathan. Mereka berlatih kegiatan-kegiatan kepanduan, diselingi melakukan permainan-permainan tradisional seperti gobak sodor atau benteng-bentengan di mana ada kompetisi antarkelompok.

“Ini salah satu permainan dalam Hizbul Wathan. Gunanya untuk ceria, gembira, dan beraktivitas,” kata Misiswo Wibowo, pelatih Hizbul Wathan menjelaskan permainan yang sedang dilakukan sekelompok anak-anak Panti.

“Tapi di dalam Hizbul Wathan-nya sendiri,” dia melanjutkan, “itu fokus pada ke-Muhammadiyah-an, atau kepanduan yang berasaskan Islam, Alquran, dan Hadis.”

Muhammadiyah memang memiliki misi untuk membentuk kader-kader bangsa yang memiliki pemikiran maju ke depan, namun tetap berakhlak mulia sesuai tuntutan Islam, Al Quran, dan Hadis. Kader-kader inilah yang diharapkan kelak akan menata negara Indonesia menjadi negara yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur (negeri yang baik, makmur dan diberkahi).

EditorAmir Sodikin
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM