Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Puasa, BPOM Ingatkan soal Takjil Mengandung Bahan Berbahaya

Kompas.com - 10/06/2015, 16:42 WIB
Robertus Belarminus

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengawasi secara intensif makanan-makanan yang banyak dijual di pasar-pasar kaget menjelang berbuka puasa selama bulan Ramadhan mendatang.

Hal itu dilakukan untuk mengawasi penggunaan bahan berbahaya pada makanan-makanan tersebut. Pengawasan intensif mulai dilakukan oleh BPOM terkait produk makanan dan obatan yang beredar di tanah air pada momentum menjelang bulan Ramadhan ini.

"Pangan mengandung bahan berbahaya atau takjil menjadi target pengawasan," kata Kepala BPOM Roy Sparringa di kantor pusat BPOM, di Jakarta, Rabu (10/6/2015).

Roy mengatakan, pengawasan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Dia berpendapat, para pedagang takjil dan pedagang musiman Ramadhan perlu ditempatkan di lokasi khusus. Pedagang ini dibina supaya menjual prodak dan jajanan yang steril bahan berbahaya.

"Jadi sesuai dengan kebijakan Gubernur DKI, kan untuk pasar ada pembinaan-pembinaan PKL. Jadi ada lokasi pembinaan dan lokasi sementara," ujar Roy.

"Pedagang yang menjual makanan yang mengandung bahan berbahaya, itu akan diberi peringatan satu dan dua. Peringatan ketiga, dia harus sudah pergi dari lokasi itu. Jadi diberi punishment," tambah Roy.

Target pengawasan lainnya yakni pangan olahan tanpa izin edar (TIE), pangan olahan kedaluarsa, pangan rusak, dan pangan olahan tidak memenuhi ketentuan.

Hasil pengawasan yang dilakukan BPOM mulai 25 Mei hingga 9 Juni 2015 telah dilaporkan terdapat 11.370 kemasan produk pangan tidak memenuhi syarat (TMS) dengan nilai Rp 450 juta.

Roy mengimbau, masyarakat tetap tenang mengenai masalah itu dalam menghadapi Ramadhan tahun ini. Namun, dia meminta masyarakat juga aktif melaporkan bila ada temuan makanan berbahaya.

"BPOM terus melakukan pengawasan intensif, untuk memastikan produk obat dan makanan yang beredar aman, berkhasiat, bermutu, dan bergizi untuk dikonsumsi," jelas Roy.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Prakiraan Cuaca Jakarta 9 Mei 2024 dan Besok: Tengah Malam ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Jakarta 9 Mei 2024 dan Besok: Tengah Malam ini Cerah Berawan

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Cerita Eks Taruna STIP soal Lika-liku Perpeloncoan oleh Senior | Junior di STIP Disebut Wajib Panggil Senior dengan Sebutan “Nior”

[POPULER JABODETABEK] Cerita Eks Taruna STIP soal Lika-liku Perpeloncoan oleh Senior | Junior di STIP Disebut Wajib Panggil Senior dengan Sebutan “Nior”

Megapolitan
Rute Transjakarta 10A Rusun Marunda-Tanjung Priok

Rute Transjakarta 10A Rusun Marunda-Tanjung Priok

Megapolitan
Rute KA Cikuray, Tarif dan Jadwalnya 2024

Rute KA Cikuray, Tarif dan Jadwalnya 2024

Megapolitan
Bantah Pernyataan Ketua STIP soal Tak Ada Lagi Perpeloncoan, Alumni: Masih Ada, tapi pada Enggak Berani Berkoar

Bantah Pernyataan Ketua STIP soal Tak Ada Lagi Perpeloncoan, Alumni: Masih Ada, tapi pada Enggak Berani Berkoar

Megapolitan
Remaja Tusuk Seorang Ibu di Bogor Hingga Pisau Patah

Remaja Tusuk Seorang Ibu di Bogor Hingga Pisau Patah

Megapolitan
Jukir Liar Minimarket Ikhlas “Digusur” Asal Pemerintah Beri Pekerjaan Baru

Jukir Liar Minimarket Ikhlas “Digusur” Asal Pemerintah Beri Pekerjaan Baru

Megapolitan
Warga Bekasi Tewas Tertabrak Kereta di Kemayoran karena Terobos Palang Pelintasan

Warga Bekasi Tewas Tertabrak Kereta di Kemayoran karena Terobos Palang Pelintasan

Megapolitan
Manjakan Lansia, Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi Tak Lagi Pakai Tempat Tidur Tingkat

Manjakan Lansia, Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi Tak Lagi Pakai Tempat Tidur Tingkat

Megapolitan
KAI Commuter: Perjalanan Commuter Line Rangkasbitung-Tanah Abang Picu Pertumbuhan Ekonomi Lokal

KAI Commuter: Perjalanan Commuter Line Rangkasbitung-Tanah Abang Picu Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Megapolitan
Tiga Jenazah ABK Kapal yang Terbakar di Muara Baru Telah Dijemput Keluarga

Tiga Jenazah ABK Kapal yang Terbakar di Muara Baru Telah Dijemput Keluarga

Megapolitan
Gangguan Jiwa Berat, Ibu yang Bunuh Anak Kandung di Bekasi Sempat Dirawat di RSJ

Gangguan Jiwa Berat, Ibu yang Bunuh Anak Kandung di Bekasi Sempat Dirawat di RSJ

Megapolitan
Jika Profesinya Dihilangkan, Jukir Liar Minimarket: Rawan Maling Motor dan Copet!

Jika Profesinya Dihilangkan, Jukir Liar Minimarket: Rawan Maling Motor dan Copet!

Megapolitan
Polisi: Ibu yang Bunuh Anak Kandung di Bekasi Alami Gangguan Kejiwaan Berat

Polisi: Ibu yang Bunuh Anak Kandung di Bekasi Alami Gangguan Kejiwaan Berat

Megapolitan
Imbas Tanah Longsor, Warga New Anggrek 2 GDC Depok Khawatir Harga Rumah Anjlok

Imbas Tanah Longsor, Warga New Anggrek 2 GDC Depok Khawatir Harga Rumah Anjlok

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com