RE Martadinata Bukan Ambles, lalu Apa?

Kompas.com - 28/09/2010, 17:35 WIB
EditorJimmy Hitipeuw

JAKARTA, KOMPAS.com — Peristiwa yang terjadi di ruas Jalan RE Martadinata pada Kamis (16/9/2010) dini hari dikategorikan sebagai longsor dan bukan amblesan tanah.

Longsor adalah fenomena yang umum terjadi apabila suatu permukaan tanah yang lunak tidak mampu menampung beban timbunan tanah yang ditimpakan pada tanah lunak tersebut.

"Konotasi ambles seperti suatu tanah yang tiba-tiba hilang di permukaan tanah sehingga memberikan kesan kalau jangan-jangan tempat lain ambles juga. Namun, setelah dari kajian kami terhadap rata-rata tanah di sana, peristiwa tersebut lebih tepatnya adalah longsor," ucap Chandra, Wakil Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI), dalam konferensi pers mengenai Isu Pemberitaan Amblesnya RE Martadinata, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.

Menurut Chandra, peristiwa yang terjadi di ruas Jalan RE Martadinata tersebut adalah longsor. Dalam praktiknya, Jalan RE Martadinata memang sudah dibangun dalam waktu yang cukup lama. Dalam perkembangannya, karena kebutuhan, jalan tersebut diperlebar dan dipertinggi dari tahun ke tahun.

Akan tetapi, dalam overlay yang terakhir, penambahan beban yang tidak bisa ditampung oleh tanah lunak di kawasan tersebut menyebabkan longsor. "Penyebab dari longsor pun multifaktor, antara lain karena penambahan beban, perubahan geometri, dan pasang surut," tutur pria tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, I Wayan Sengara selaku pakar Geoteknik juga mengungkapkan hal senada. Ia menuturkan, amblesan dan longsor adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Menyangkut kestabilan permukaan tanah, amblesan adalah suatu kawasan yang jatuh ke bawah, sedangkan longsor adalah bergesernya permukaan tanah ke arah sungai atau laut.

"Itu adalah sesuatu yang berbeda. Ini yang ingin kami klarifikasi," ungkapnya.

Wayan menambahkan, kawasan Jakarta Utara merupakan kawasan dengan tanah yang lunak sehingga pembangunan di sana harus dilakukan secara profesional.

"Daerah Jakarta Utara merupakan kawasan yang lunak sekali. Oleh karena itu, pembangunannya harus berhati-hati," lanjutnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.