Jakarta Krisis Air Minum - Kompas.com

Jakarta Krisis Air Minum

Kompas.com - 29/03/2011, 15:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kesulitan air bersih yang layak untuk dikonsumsi rupanya tidak hanya terjadi di daerah-daerah, tetapi juga terjadi di ibu kota negara, DKI Jakarta. Jakarta diprediksi akan mulai kesulitan mendapatkan air minum lantaran sungai di Jakarta tidak lagi memenuhi standar Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Demikian diungkapkan Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya Mauritz Napitupulu, Selasa (29/3/2011).

”Kita betul-betul kekurangan air untuk air minum,” ujarnya.

Hal ini terjadi karena air dari sungai-sungai di Jakarta tidak lagi layak dikonsumsi. Sementara jika warga Jakarta harus dipaksakan memproses air tersebut secara konvensional, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi dan hasilnya tidak optimal.

”Selain itu, rencana untuk menyuplai air bersih dari Waduk Jatiluhur belum bisa dilakukan dalam waktu dekat,” ucap Mauritz.

Pasalnya, proses pipanisasi baru akan dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU)pada tahun 2013 di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Hingga kini, Kementerian PU masih mengkaji biaya yang harus dikeluarkan untuk pipanisasi itu. Oleh karena itu, menurut Mauritz, satu-satunya cara tercepat yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknologi filtrasi air. Melalui proses filtrasi air, air yang awalnya kotor akan disaring melalui membran semipermeabel dengan tekanan hidrostatik sehingga kotoran padat dan larutan yang berat molekulernya tinggi bisa tersaring.

”Sambil menunggu proses pipanisasi dari Waduk Jatiluhur itu, Jakarta bisa mengandalkan teknologi filtrasi ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mauritz mengatakan bahwa sistem filtrasi ini harus mulai dilakukan di Pejompongan, Jakarta Pusat. Selain itu, ultrafiltrasi juga bisa dilakukan di Kanal Banjir Barat (KBB), Cengkareng Drain, Kali Krukut, dan Kali Pesanggrahan. Dengan teknologi filtrasi ini, akan diproduksi air dengan harga Rp 1.500 per kubik dan menghasilkan kurang lebih 4.500 liter per detik.

”PDAM nanti hanya diharuskan beli airnya saja, sedangkan untuk investasi tidak membutuhkan biaya hingga triliunan rupiah,” tutur Mauritz.

Hal tersebut terjadi karena investasi akan melibatkan pihak ketiga. ”Jadi operator yang beli airnya dan kami bisa meletakkan di titik tertentu,” lanjutnya.

Diperkirakan pada Juli-Agustus mendatang proses lelang untuk sistem ini bisa dilakukan. Setelah lelang dilakukan, PDAM mengharapkan pelaksanaan akan bisa dimulai tahun ini sehingga bisa menambah kapasitas dan jaringan air baku.

”Cara ini semoga bisa membuat ketersediaan air bersih di Jakarta bisa diwujudkan,” ujarnya.


EditorInggried

Terkini Lainnya


Close Ads X