Melawan Kapitalis dengan Gaharu

Kompas.com - 06/10/2011, 04:22 WIB
Editor

Perluasan kebun kelapa sawit dengan mengambil alih tanah masyarakat di pedalaman Kalimantan Barat semakin marak. Fenomena itu merupakan bentuk pemiskinan kepada petani pemilik lahan.

”Saya menyerahkan tanah sembilan hektar kepada perusahaan perkebunan, tapi hanya dua hektar yang kembali dalam bentuk kebun kelapa sawit, ditambah dengan utang yang kira-kira sekarang nilainya Rp 40 juta,” kata Petrus Sues (50), warga Kampung Nala, Desa Embala, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Sues menyerahkan lahannya tahun 1985 karena termakan bujuk-rayu perusahaan. Ketika itu, nilai utangnya untuk membiayai perkebunan kelapa sawit seluas dua hektar sebesar Rp 4,7 juta atau sekarang setara dengan Rp 40 juta. ”Perusahaan memberi janji manis mengenai pupuk dan obat-obatan gratis, tapi bohong di tengah jalan. Saya sangat menyesal telah kehilangan tujuh hektar tanah,” ungkap Sues.

Sues tidak sendirian. Di Desanya ada puluhan orang mengalami hal serupa. Sekarang, dengan lima anak, Sues mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan mereka. ”Sekarang saja sudah pas-pasan, apalagi generasi setelah saya,” kata Sues.


Ketua Kelompok Tani Karunia Jaya Mandiri (KJM) Kecamatan Parindu, Muhammad Nuh, mengatakan, sistem kapitalis di sektor perkebunan itu mulai mendapat perlawanan sejak tahun 2003. ”Kami memulainya dengan membudidayakan pohon penghasil gubal gaharu yang ditumpangsarikan dengan karet atau kelapa sawit sehingga tanah tak perlu diserahkan ke perusahaan,” kata Nuh.

Para pengusaha perkebunan akan menguasai tanah itu selama satu masa hak guna usaha (HGU) yang berumur 30 tahun dan dapat memperpanjang izinnya selama 30 tahun berikutnya. ”Sistem pengambilalihan tanah masyarakat masih akan terus berlanjut seiring dengan target pemerintah mewujudkan 1,5 juta hektar kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat sehingga harus dihentikan,” kata Mudorus, anggota kelompok tani KJM.

Sejak tahun 2003, Nuh dan para anggota kelompok tani yang kini sudah berjumlah lebih dari 200 orang dan tersebar di berbagai kabupaten di Kalbar dan beberapa provinsi lain mulai membudidayakan tanaman penghasil gubal gaharu. Sues adalah salah satunya. ”Saya juga mulai mencoba budidaya gaharu di tanah yang saya beli sedikit demi sedikit,” jelas Sues.

Tahun ini, tercatat sudah ada 143 hektar kebun pohon Aquilaria Sp penghasil gubal gaharu milik para anggota kelompok tani KJM yang dibudidayakan menggunakan model tumpang sari dengan karet atau kelapa sawit.

Perlawanan

Selain menjadi bentuk perlawanan, budidaya pohon penghasil gubal gaharu juga bertujuan untuk konservasi. Nilai ekonomisnya yang sangat tinggi membuat tanaman tersebut paling diburu di hutan alam sehingga populasinya mulai langka.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X