Merajut Lampung "Sai" Lewat Tapis - Kompas.com

Merajut Lampung "Sai" Lewat Tapis

Kompas.com - 21/11/2012, 15:20 WIB

Oleh Yulvianus Harjono

Melintasi waktu dan generasi, kerajinan kain tapis di Lampung terus bertahan dengan kekhasannya. Di balik keindahan tapis yang dikenal hingga ke mancanegara, pewarisan seni sulam kuno itu tak hanya didominasi orang Lampung ulun atau asli, tetapi juga pendatang. Tapis kini jadi simbol dinamisasi, keterbukaan, dan akulturasi.

Semangat itu identik dengan salah satu filosofi masyarakat adat Lampung, yaitu nemui nyimah atau bermurah hati dan terbuka kepada semua orang, khususnya warga pendatang.

Nilai-nilai ini dikedepankan dalam aktivitas sehari-hari warga di Bumirejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Jumat (16/11). Di kampung transmigran asal Pulau Jawa, sebagian ibu-ibu ikut memiliki kerajinan merajut kain-kain tapis Lampung. Tapis umumnya berbentuk selendang atau sarung yang diberi sulaman benang emas.

Rofiah (35), misalnya, beberapa hari terakhir sibuk menyulam tapis motif limar sekebar. Motif ini merupakan corak tapis Lampung yang khas dan kuno, bahkan konon nyaris punah.

Rofiah sadar. Secara biologis, ia bukan warga Lampung ulun. Namun, ia merasa membutuhkan dan ”terpanggil” untuk menekuni kerajinan sulam tapis tersebut. Selain menambah penghasilan keluarga, secara tidak langsung ia juga berkontribusi melestarikan seni sulam yang kini terus terdesak modernisasi.

”Kuncinya hanya sabar dan telaten. Dengan itu, sebagai orang ’Japung’ (Jawa-Lampung) yang hidup di tanah Lampung, saya ikut mempertahankan tradisi Lampung,” ujar Rofiah yang, meski tidak fasih bahasa Lampung, paham tentang cara membuat tapis.

Ketua Perhimpunan Perajin Kain Tapis Lampung Roslina Daan membenarkan, dewasa ini, warga pendatang atau transmigran justru berkontribusi besar melestarikan kerajinan tapis. Ia mencontohkan, dari 75 perajin tapis yang dipekerjakannya di sejumlah daerah, 80 persen di antaranya warga pendatang.

Menurut Roslina, kondisi ini bisa menjadi introspeksi warga Lampung ulun yang tak lagi tertarik menekuni seni tapis. ”Kebetulan para pendatang ini memiliki ketertarikan dan ketekunan. Dulu, tapis itu dikerjakan perempuan-perempuan Lampung untuk acara adat, pernikahan, dan lainnya. Jadi, itu dikerjakan dari hati,” kata pengusaha tapis warga Lampung asli.

Raswan, pemerhati tapis Lampung yang juga pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah Lampung, mengatakan, tapis merupakan salah satu seni sulam tertua di Tanah Air. Mengutip penelitian Van der Hoop, sejarawan Belanda, sejak abad ke-2 sebelum Masehi, nenek moyang orang Lampung telah menenun di kain brokat dan pelepai.

Inilah cikal bakal kerajinan tapis yang khas menggunakan benang emas dan perak. Menurut Raswan, selanjutnya seni tapis secara dinamis terpengaruh sistem agama dan adat di Lampung. ”Motifnya menjadi beraneka ragam karena terpengaruh ajaran agama Hindu, Buddha, dan Islam yang silih berganti masuk ke Lampung,” ujarnya.

Prinsip dinamis

Prinsip dinamis dan terbuka pula yang kemudian mengantar seni tapis ke panggung fashion modern di Jakarta. Hal itu terbukti saat Jakarta Fashion Week, baru-baru ini. Desainer Dee Ong, misalnya, memadukan hiasan motif tapis dengan bahan sutra China yang halus dan nyaman dipakai.

Saat berkunjung ke Bandar Lampung, Oktober lalu, peneliti tenun dari Belanda, Sandra Niessen, juga membenarkan bahwa tapis Lampung banyak diburu kolektor asing. Sebab, tapis satu-satunya tenunan di Tanah Air yang pengerjaannya rumit. Ditenun dulu, baru disulam.

Kini koleksi tapis banyak dibawa ke luar negeri, di antaranya ada di Museum Rotterdam, Belanda. Kolektor Jepang juga memiliki kain-kain tapis motif kuno.

”Saat pameran di Tokyo dan Kyoto, beberapa hari lalu, saya bertemu orang Jepang yang punya 70 koleksi tapis. Ia menawar empat koleksi saya, tapi tidak saya beri,” tutur Roslina.

Meskipun apresiasi terhadap seni kain tapis cukup tinggi, Raswan merasa miris apabila melihat berkurangnya perajin tradisional tenun tapis saat ini, terutama dari warga Lampung asli.

Lunturnya kearifan lokal

Menurut budayawan Lampung, Anshori Djausal, warga adat Lampung secara tradisional sebenarnya memiliki kearifan lokal, misalnya filosofi nemui nyimah dan nengah nyappur yang mengajarkan keterbukaan, tenggang rasa, dan bermasyarakat.

Namun, karakter piil (menjunjung harga diri) mudah tersulut akibat ketersinggungan piil itu sehingga amarah pun mudah meledak. Anshori tidak memerinci apa penyebabnya.

Mungkinkah ketersinggungan itu karena marginalisasi secara ekonomi, sosial, dan seni tapis itu sendiri? Atau karena semakin berkurangnya penutur bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari?

Nyoman Sade (52), warga Sidomulyo, Lampung Selatan, yang pernah jadi korban kerusuhan belum lama ini, berharap, konsep Lampung sai (Lampung satu) segera terwujud agar Lampung layak menjadi miniatur Indonesia.


EditorDesk Multimedia

Close Ads X