Ibu Tiri Akui Aniaya Vina hingga Tewas

Kompas.com - 09/04/2013, 14:46 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — DS (18) sudah menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan yang berujung meninggalnya Davina Lira Putri atau Vina (5), yang tidak lain anak tirinya sendiri.

Berdasarkan hasil tes kejiwaan dan psikologi tersangka oleh kepolisian, penganiayaan yang terjadi pada Sabtu, 16 Maret 2013 silam, dilakukan DS dengan sadar di kediamannya di Kelurahan Binong, Kecamatan Curug, Tangerang. DS mengaku bersalah melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya itu.

"Hasil obeservasi psikologi tersangka tidak ada gangguan jiwa, sadar akan apa yang dilakukannya," kata Kasat Reskrim Polresta Tangerang Komisaris Shinto Silitonga dalam keterangannya, Selasa (9/4/2013).

Shinto mengatakan, DS merasa bersalah atas perbuatan yang dilakukan terhadap Vina yang merupakan anak tirinya tersebut. Awal pemicunya lantaran putrinya itu tidak menurut saat dibangunkan untuk mandi.

Saat itu, DS mendorong Vina ke arah kamar mandi sehingga kepalanya membentur lantai dan mengalami kejang. Sebelum mendorong, DS juga sempat memukul dan menampar Vina. Naas, setelah sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa Vina tidak bisa terselamatkan akibat peristiwa itu.

"Tersangka merasa bersalah, mencoba hadapi permasalahan ini dengan tegar, kuat, dan pasrah. Tersangka sadar perbuatannya keliru dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut," ujar Shinto.

Berdasarkan rekam jejak hidup, DS merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari keluarga yang tergolong mampu. Namun, semenjak kanak-kanak, kehidupan keluarganya kurang harmonis dan orangtua sering bertengkar.

Sejak kecil, tersangka kurang memperoleh perhatian dari sang ayah. Saat menduduki bangku kelas VI SD, orangtuanya bercerai. Ia kemudian mengikuti ibu tirinya di Palembang, di mana kerap menerima perilaku kekerasan dan sasaran kemarahan ayah dan ibu tirinya.

Pada September 2012, DS dikenalkan ibu tirinya kepada AW (36), yang kelak menjadi suaminya. Tetapi, AW sudah memiliki anak perempuan, yang tidak lain adalah Vina. Saat itu, DS iba dengan Vina karena merasa nasibnya sama dengannya. Kemudian dia bersedia menikah dengan AW.

Pascanikah, AW jarang pulang karena bekerja sebagai sopir ekspedisi. Karena jarang komunikasi, terjadi permasalahan rumah tangga dengan DS.

DS mengaku Vina sulit diasuh, susah makan, susah mandi, dan lainnya. Bocah perempuan itu hanya menurut apabila sang suami pulang. Akumulasi dari perasaan tersangka dan dampak dari pengalaman hidupnya itu yang diduga sebagai puncak penganiayaan Vina.

Dari perbuatannya, DS terancam Pasal 44 Ayat 3 Undang-Undang RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, dan Pasal 80 Ayat 3 UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 10 tahun penjara.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 31 Oktober: Tambah 585, Kasus Covid-19 di DKI Jadi 105.597

UPDATE 31 Oktober: Tambah 585, Kasus Covid-19 di DKI Jadi 105.597

Megapolitan
Seorang Pria Tewas akibat Terbawa Arus Deras Saat Mencuci Pakaian di Ciliwung

Seorang Pria Tewas akibat Terbawa Arus Deras Saat Mencuci Pakaian di Ciliwung

Megapolitan
Polisi Duga Ada Urusan Percintaan di Balik Hilangnya Rizky

Polisi Duga Ada Urusan Percintaan di Balik Hilangnya Rizky

Megapolitan
Seorang Perempuan bersama Dua Anaknya Terjebak di Lift Selama 1,5 Jam

Seorang Perempuan bersama Dua Anaknya Terjebak di Lift Selama 1,5 Jam

Megapolitan
Jakarta Terpilih sebagai Kota Terbaik dalam Kemajuan Transportasi

Jakarta Terpilih sebagai Kota Terbaik dalam Kemajuan Transportasi

Megapolitan
UPDATE 31 Oktober: 80 Pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi Masih Dirawat di Rumah Sakit

UPDATE 31 Oktober: 80 Pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi Masih Dirawat di Rumah Sakit

Megapolitan
Tabrak Trailer dari Belakang, Pengendara Motor Patah Tulang dari Hidung sampai Paha

Tabrak Trailer dari Belakang, Pengendara Motor Patah Tulang dari Hidung sampai Paha

Megapolitan
UPDATE 31 Oktober: Kumulatif Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 1.823

UPDATE 31 Oktober: Kumulatif Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Tangsel Kini 1.823

Megapolitan
Lawan Arus Saat Kendarai Motor, Dua Pemuda Tewas Dihantam Mobil Boks

Lawan Arus Saat Kendarai Motor, Dua Pemuda Tewas Dihantam Mobil Boks

Megapolitan
Polda Metro Jaya Antisipasi Puncak Arus Balik Libur Panjang

Polda Metro Jaya Antisipasi Puncak Arus Balik Libur Panjang

Megapolitan
Progres Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Capai 40,85 Persen

Progres Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Capai 40,85 Persen

Megapolitan
Turun Rp 24 Triliun, Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 63,23 Triliun

Turun Rp 24 Triliun, Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 63,23 Triliun

Megapolitan
Pemkot Jakarta Selatan Gelar Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan

Pemkot Jakarta Selatan Gelar Vaksinasi Rabies Gratis untuk Hewan Peliharaan

Megapolitan
UPDATE 31 Oktober: Tambah 21 Orang, Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.180

UPDATE 31 Oktober: Tambah 21 Orang, Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.180

Megapolitan
Kronologi Penganiayaan WN Pakistan, Pelaku Mulanya Kesal Diklakson kemudian Menyerang Pakai Senjata Tajam

Kronologi Penganiayaan WN Pakistan, Pelaku Mulanya Kesal Diklakson kemudian Menyerang Pakai Senjata Tajam

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X