Kompas.com - 18/05/2015, 09:05 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan banyak pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu dalam kasus lima anak telantar di Cibubur. Pihak kepolisian juga belum menetapkan tersangka pada kasus penelantaran lima anak UP alias T (45) dan N (42), sebelum mendapatkan masukan dari psikolog dan tim ahli lainnya.

"Kita punya banyak pertimbangan. Kalau ditetapkan tersangka, kita juga pikirkan bagaimana masa depan anak-anak ini karena bagaimana pun mereka masih punya keterikatan dengan orangtua kandung mereka," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) KPAI Erlinda, Minggu (17/5/2015).

Erlinda menceritakan, selama berada di rumah aman, L (10), C (10), AD (8), AL (5), dan DN (4) masih suka mencari orangtuanya. Mereka pun belum diberi tahu soal kondisi orangtuanya yang masih menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Informasi tersebut dianggap bisa mengganggu proses pemulihan mereka.

"Yang kecil, anak perempuan, nyari mamanya terus. Dia bilang 'mama ke mana, mama datang enggak ke sini'," kata Erlinda.

Kakak-kakak DN, terutama yang paling besar, si kembar L dan C, disebut sudah bisa tertawa dan bercanda setelah sebelumnya sempat mengalami beberapa trauma. Begitu juga dengan AD yang sebelumnya diberitakan paling sering mengalami perlakuan salah dari kedua orangtuanya.

Lima anak itu dikatakan Erlinda pernah takut terhadap sorot lampu yang terlalu terang. Hal itu diduga berawal saat mereka dibawa dari rumahnya ke rumah aman, Kamis (14/5/2015) pagi. Kejadian yang tiba-tiba bersamaan dengan ramainya awak media yang membawa kamera dianggap sebagai penyebab ketakutan lima anak terhadap lampu.

Secara terpisah, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto menjelaskan, ada tiga kasus berbeda dalam peristiwa penelantaran anak ini. Kasus tersebut adalah kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran anak, dan narkoba. Tiga kasus ini tidak bisa dilihat sebagai satu kesatuan, sehingga secara bersamaan, ketiganya harus tetap diproses.

"Kita masih tunggu hasil uji lab yang menegaskan bukti konsumsi narkoba. Kalau terbukti jadi pengguna, berarti pilihannya akan direhabilitasi. Tapi saat rehab, proses hukum kasus lain tetap berjalan," ujar Heru.

Heru menambahkan, yang akan menentukan berapa besar dan apa bentuk hukuman untuk kedua orangtua itu tetap di pengadilan. Namun, bisa jadi ada beberapa hal yang meringankan dengan pertimbangan mereka masih memiliki lima anak. Terlebih, dari KPAI, menganjurkan lima anak itu harus diasuh secara bersamaan, tidak boleh dipisah.

"Polisi berkoordinasi dengan KPAI supaya tetap memberikan efek jera tapi tidak mengorbankan kebutuhan anak," ujar Heru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta, Polisi Sebut Para Pelaku Aniaya Adik Kelas

Pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta, Polisi Sebut Para Pelaku Aniaya Adik Kelas

Megapolitan
UPDATE 28 Juni: Tambah 110 Kasus Harian Covid-19 di Depok, 865 Pasien Dirawat

UPDATE 28 Juni: Tambah 110 Kasus Harian Covid-19 di Depok, 865 Pasien Dirawat

Megapolitan
Ini Tanggapan Manajemen Holywings Setelah 'Outlet' di Jakarta Disegel

Ini Tanggapan Manajemen Holywings Setelah "Outlet" di Jakarta Disegel

Megapolitan
3 Fakta Penangkapan DJ Joice Saat Pesta Narkoba di Kamar Kos Kawasan Kemang

3 Fakta Penangkapan DJ Joice Saat Pesta Narkoba di Kamar Kos Kawasan Kemang

Megapolitan
UPDATE 28 Juni: Tambah 53 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 366 Pasien Dirawat

UPDATE 28 Juni: Tambah 53 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 366 Pasien Dirawat

Megapolitan
Tandon Air Proyek LRT Jebol hingga Lukai 5 Orang, Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian

Tandon Air Proyek LRT Jebol hingga Lukai 5 Orang, Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian

Megapolitan
Ribetnya Beli Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi, Pedagang: Kasihan Emak-emak yang Gaptek

Ribetnya Beli Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi, Pedagang: Kasihan Emak-emak yang Gaptek

Megapolitan
Khawatir Wabah PMK, Pedagang di Tangsel Kurangi Penjualan Hewan Kurban

Khawatir Wabah PMK, Pedagang di Tangsel Kurangi Penjualan Hewan Kurban

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Cerita Kebingungan Karyawan Holywings | Satpol PP Segel 12 'Outlet' Holywings di Jakarta

[POPULER JABODETABEK] Cerita Kebingungan Karyawan Holywings | Satpol PP Segel 12 "Outlet" Holywings di Jakarta

Megapolitan
Pemkot Sebut Holywings Bekasi Tak Punya Izin Penjual Langsung Minuman Beralkohol

Pemkot Sebut Holywings Bekasi Tak Punya Izin Penjual Langsung Minuman Beralkohol

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Jakarta Berawan-Cerah Sepanjang Hari

Prakiraan Cuaca BMKG: Jakarta Berawan-Cerah Sepanjang Hari

Megapolitan
7 Tempat Wisata di Jakarta Timur

7 Tempat Wisata di Jakarta Timur

Megapolitan
Lokasi Vaksin Booster di Jakarta Utara Juli 2022

Lokasi Vaksin Booster di Jakarta Utara Juli 2022

Megapolitan
6 Tempat Wisata di Jakarta Selatan

6 Tempat Wisata di Jakarta Selatan

Megapolitan
Lokasi Vaksin Booster di Jakarta Selatan Juli 2022

Lokasi Vaksin Booster di Jakarta Selatan Juli 2022

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.