Kerajaan Nusantara Minta Polisi Usut Tuntas Kemunculan Raja-raja Gadungan

Kompas.com - 30/01/2020, 06:25 WIB
Ketua Harian Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN), KPH Eddy Wirabhumi menyikapi kemunculan kerajaan-kerjaan yang bermunculan belakangan terakhir yang tersebar di berbagai wilayah. Dia meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kerajaan muncul belakangan ini yang dinilai mengada-ada atau palsu.  KOMPAS.com/Muhamad Isa BustomiKetua Harian Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN), KPH Eddy Wirabhumi menyikapi kemunculan kerajaan-kerjaan yang bermunculan belakangan terakhir yang tersebar di berbagai wilayah. Dia meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kerajaan muncul belakangan ini yang dinilai mengada-ada atau palsu.

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) menyikapi kemunculan kerajaan-kerjaan yang bermunculan belakangan terakhir yang tersebar di berbagai wilayah.

Ketua Harian MAKN KPH Eddy Wirabhumi mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, hanya ada 56 dari 250 kerajaan sebelum berdirinya negara Indonesia.

Adapun kemunculan beberapa kerajaan belakangan ini dinilai mengada-ada atau palsu.

"Kami memang sekarang ini baru 56 (kerajaan), Kalau kita lihat kerajaan sebelum berdirinya Indonesia saat itu lebih dari 250. Jadi jangan disamakan, mohon maaf ya yang sekarang lagi euforia, raja-rajaan, tidak lucu," kata Eddy di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (29/1/2020) malam.

Baca juga: Viral Kerajaan Kandang Wesi, Kepala Kesbangpolinmas: Tidak Ada Kerajaan di Garut

Menurut Eddy, hal yang dilakukan kepolisian dengan menjerat hukum mereka yang mengklaim diri sebagai kerajaan baru sudah tepat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebab, dengan mengaku sebagai seorang raja yang tak didasari oleh data merupakan penipuan.

"Saya rasa apa yang dilakukan kepolisian sudah tepat. Karena itu didasarkan kepada hoaks, didasarkan kepada data data palsu yang tidak bagus untuk masyarakat," katanya.

Eddy menjelaskan, kerajaan yang tergabung dalam MAKN sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Baca juga: Fenomena Kerajaan Fiktif, antara Motif Uang dan Masyarakat yang Tak Rasional

Sehingga untuk pemikiran kerajaan yang asli dinilai tak memiliki pemikiran aneh.

"Intinya ingin tetap konsisten bersama pemerintah kita melangkah ke depan. Gini, kalau yang asli pasti tidak aneh-aneh pemikirannya, pemikirannya in line sama pemerintah,"ucapnya.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Varian Baru Covid-19 di Jakarta, Lebih Berbahaya dan Lebih Menular

Waspada Varian Baru Covid-19 di Jakarta, Lebih Berbahaya dan Lebih Menular

Megapolitan
Respons Pelindo II soal Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok: Pecat Pegawai hingga Beri Kompensasi Sopir Truk

Respons Pelindo II soal Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok: Pecat Pegawai hingga Beri Kompensasi Sopir Truk

Megapolitan
Kasus Covid-19 Melonjak, Wali Kota Tangerang: Kegiatan Ekonomi Tutup Maksimal Pukul 21.00 WIB

Kasus Covid-19 Melonjak, Wali Kota Tangerang: Kegiatan Ekonomi Tutup Maksimal Pukul 21.00 WIB

Megapolitan
Mari Bantu Azmi Ramadan, Bocah Tanpa Bola Mata yang Sempat Ditipu Penggalang Dana

Mari Bantu Azmi Ramadan, Bocah Tanpa Bola Mata yang Sempat Ditipu Penggalang Dana

Megapolitan
UPDATE: Tambah 60 Kasus di Kota Tangerang, 433 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 60 Kasus di Kota Tangerang, 433 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Poster UI Dicibir Netizen, Antrean UGD Wisma Atlet Mengular

[POPULER JABODETABEK] Poster UI Dicibir Netizen, Antrean UGD Wisma Atlet Mengular

Megapolitan
UPDATE: Tambah 276 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi, 1.173 Pasien Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 276 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi, 1.173 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Rabu: Jakarta, Bekasi, Bogor dan Depok Berpeluang Hujan

Prakiraan Cuaca BMKG Rabu: Jakarta, Bekasi, Bogor dan Depok Berpeluang Hujan

Megapolitan
Fakta Baru Kasus Anji: Jadi Tersangka, Pakai Ganja Sejak September 2020

Fakta Baru Kasus Anji: Jadi Tersangka, Pakai Ganja Sejak September 2020

Megapolitan
Garap Poster Out of The Box, UI Panen Perhatian Publik

Garap Poster Out of The Box, UI Panen Perhatian Publik

Megapolitan
UI Sebut Poster yang Viral Direncanakan dengan Matang Melalui Riset dan Rapat Panjang

UI Sebut Poster yang Viral Direncanakan dengan Matang Melalui Riset dan Rapat Panjang

Megapolitan
UPDATE: Tambah 331 Kasus Covid-19 di Depok, Jumlah Pasien Melonjak Lagi

UPDATE: Tambah 331 Kasus Covid-19 di Depok, Jumlah Pasien Melonjak Lagi

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Digelar di Stadion Patriot Bekasi, Ini Cara Daftar dan Jadwal Penyuntikan

Vaksinasi Covid-19 Digelar di Stadion Patriot Bekasi, Ini Cara Daftar dan Jadwal Penyuntikan

Megapolitan
Perum PPD Gratiskan Layanan Bus Bogor-Jakarta Selama Sebulan

Perum PPD Gratiskan Layanan Bus Bogor-Jakarta Selama Sebulan

Megapolitan
Sopir Truk Korban Pungli Mengeluh: Anak Mau Jajan Dibentak, padahal Uang Disebar di Pelabuhan

Sopir Truk Korban Pungli Mengeluh: Anak Mau Jajan Dibentak, padahal Uang Disebar di Pelabuhan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X