Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diancam Hukuman Mati, Terdakwa Mutilasi Ancol Ajukan Pembelaan

Kompas.com - 19/11/2013, 19:10 WIB
Dian Fath Risalah El Anshari

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Alanshia alias Aliong terdakwa kasus mutilasi terhadap Toni Arifin memberikan pembelaannya terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Alanshia, yang didampingi seorang penerjemah, menolak tuntutan hukuman mati terkait Pasal 340 KUHP yang dialamatkan kepadanya, dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, pada Selasa (19/11/2013) siang.

"Saya merasa tuntutan jaksa yang dituntutkan ke saya terlalu berat, puluhan saksi juga tidak memahami perkara," ujar Alanshia dalam pembelaannya yang dibacakan George Gozalli, penerjemahnya. 

Alanshia beranggapan bahwa pembunuhan yang dilakukannya tidak lah direncanakan. Pembunuhan terjadi lantaran adanya ancaman dari korban apabila dia tidak bisa membayar utang.

"Saya memohon kepada para hakim untuk dapat menganalisa peristiwa ini, dapat memberikan putusan hukuman yang tepat, saya tahu saya salah, sungguh menyesal," ujarnya. "Pada hari kedua (usai mutilasi) saya sampai ke Surabaya, logika pikiran saya mulai pulih, saya mengetahui saya telah berbuat salah, sangat menyesal, sehingga saya pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri," terangnya.

Hendrayanto, kuasa hukum Alanshia, mengatakan, JPU tidak dapat membuktikan adanya unsur kesengajaan dan unsur perencanaan baik berupa keterangan saksi-saksi dan fakta persidangan. "Dalam surat tuntutan Jaksa Penuntut Umum tidak menimbang pasalP48 dan Pasal 49 KUHP terkait pembelaan diri terhadap terdakwa akibat guncangan jiwa yang hebat," imbuhnya.

Hendrayanto menegaskan, apabila sidang berikutnya putusan JPU masih tetap sama, dan Ketua Majelis Hakim memberikan putusan hukuman mati terdakwa, pihanya akan melakukan banding.

"Bandingnya berupa upaya akan memberikan perlawanan terhadap putusan, kami tidak yakin apa yang dituntut Jaksa Penuntut Umum benar karena pembunuhan tidak direncanakan," jelas Hendrayanto.

Menanggapi pembelaan Alanshia, JPU Wahyu Oktaviandi menyatakan tetap pada tuntutanya. Serta Ketua Majelis Hakim Supriyanto siap memberikan putusan terhadap pembelaan terdakwa Alanshia alias Aliong hingga seminggu ke depan, Selasa (26/11/2013).

Kasus mutilasi Ancol terungkap berawal dari laporan Merlina ke Polsektro Penjaringan tentang hilangnya sang suami, Tonny Arifin Djonim. Dari keterangan Merlina, Tonny diketahui terakhir mendatangi rekannya di Ruko 26D Mediterania Marina Residence untuk menagih utang.

Rupanya, di alamat itulah, Tonny dihabisi. Sebelas potongan tubuh Tonny baru ditemukan pada Rabu (13/3/2013) malam. Alanshia yang sempat buron dibekuk di Surabaya pada Kamis, 14 Maret 2013.

Jaksa Wahyu Oktaviandi menjerat Alanshia dengan pasal berlapis, yakni Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 Ayat 1 dalam kasus pembunuhan berencana. Selain itu, ia pun dijerat Pasal 114 Ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 subsidier Pasal 112 Ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Rute KA Argo Cheribon, Tarif dan Jadwalnya 2024

Rute KA Argo Cheribon, Tarif dan Jadwalnya 2024

Megapolitan
Polisi Grebek Laboratorium Narkoba di Perumahan Elite Kawasan Sentul Bogor

Polisi Grebek Laboratorium Narkoba di Perumahan Elite Kawasan Sentul Bogor

Megapolitan
Bau Sampah Terasa Menyengat di Lokbin Pasar Minggu

Bau Sampah Terasa Menyengat di Lokbin Pasar Minggu

Megapolitan
Ini Tujuan Benyamin Ikut Penjaringan Bakal Cawalkot Tangsel di Tiga Partai Rival

Ini Tujuan Benyamin Ikut Penjaringan Bakal Cawalkot Tangsel di Tiga Partai Rival

Megapolitan
Usaha Dinsos Bogor Akhiri Perjalanan Mengemis Rosmini dengan Telusuri Keberadaan Keluarga

Usaha Dinsos Bogor Akhiri Perjalanan Mengemis Rosmini dengan Telusuri Keberadaan Keluarga

Megapolitan
Pembunuh Perempuan Dalam Koper Sempat Tinggalkan Jasad Korban di Hotel

Pembunuh Perempuan Dalam Koper Sempat Tinggalkan Jasad Korban di Hotel

Megapolitan
Dipecat karena Dituduh Gelapkan Uang, Ketua RW di Kalideres: Buat Apa Saya Korupsi Kalau Datanya Lengkap

Dipecat karena Dituduh Gelapkan Uang, Ketua RW di Kalideres: Buat Apa Saya Korupsi Kalau Datanya Lengkap

Megapolitan
Sudah Sepi Pembeli, Uang Retribusi di Lokbin Pasar Minggu Naik 2 Kali Lipat

Sudah Sepi Pembeli, Uang Retribusi di Lokbin Pasar Minggu Naik 2 Kali Lipat

Megapolitan
Benyamin-Pilar Kembalikan Berkas Penjaringan Pilkada Tangsel, Demokrat Sambut dengan Nasi Kebuli

Benyamin-Pilar Kembalikan Berkas Penjaringan Pilkada Tangsel, Demokrat Sambut dengan Nasi Kebuli

Megapolitan
Sehari Berlalu, Remaja yang Tenggelam di Kali Ciliwung Belum Ditemukan

Sehari Berlalu, Remaja yang Tenggelam di Kali Ciliwung Belum Ditemukan

Megapolitan
Polisi Masih Observasi Kondisi Kejiwaan Anak yang Bacok Ibu di Cengkareng

Polisi Masih Observasi Kondisi Kejiwaan Anak yang Bacok Ibu di Cengkareng

Megapolitan
Pedagang Sebut Lokbin Pasar Minggu Sepi karena Lokasi Tak Strategis

Pedagang Sebut Lokbin Pasar Minggu Sepi karena Lokasi Tak Strategis

Megapolitan
Ini Kantong Parkir Penonton Nobar Timnas Indonesia U-23 Vs Irak U-23 di Monas

Ini Kantong Parkir Penonton Nobar Timnas Indonesia U-23 Vs Irak U-23 di Monas

Megapolitan
Golkar Depok Ajukan Ririn Farabi Arafiq untuk Maju Pilkada 2024

Golkar Depok Ajukan Ririn Farabi Arafiq untuk Maju Pilkada 2024

Megapolitan
Jasad Bayi Tergeletak di Pinggir Tol Jaksel

Jasad Bayi Tergeletak di Pinggir Tol Jaksel

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com