Menengok Kembali Sejarah Penutupan Lokalisasi Kramat Tunggak Halaman all - Kompas.com

Menengok Kembali Sejarah Penutupan Lokalisasi Kramat Tunggak

Andri Donnal Putera
Kompas.com - 16/02/2016, 07:00 WIB
Andri Donnal Putera Tampak suasana kompleks Jakarta Islamic Centre (JIC) yang dulunya merupakan lokalisasi Kramat Tunggak di Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Senin (15/2/2016).
JAKARTA, KOMPAS.com- Wacana penutupan lokalisasi di Kalijodo masih hangat dibicarakan. Dari perkembangan terakhir, surat edaran yang memuat informasi soal penertiban dan penutupan Kalijodo telah diberikan kepada warga di sana.

Jika menengok kembali puluhan tahun yang lalu, pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, lokalisasi Kramat Tunggak di Jakarta Utara juga resmi ditutup, digantikan dengan Jakarta Islamic Centre, lembaga pengkajian Islam di Jakarta.

Dari sisi luas wilayah dan jumlah pekerja, Kramat Tunggak jauh lebih besar ketimbang Kalijodo. Lokalisasi Kramat Tunggak eksis pada zamannya dan menjadi lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tahun 1970-1999.

Dikutip dari dokumen Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DKI Jakarta, lokalisasi Kramat Tunggak ditutup atas desakan masyarakat karena tingginya masalah kriminal dan sosial di sana.

Lokalisasi Kramat Tunggak awalnya bermula dari Lokasi Rehabilitasi Sosial (Lokres) Kramat Tunggak yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Tempat itu dibangun untuk menyadarkan dan membina pekerja seks di Jakarta yang kebanyakan berasal dari Pasar Senen, Kramat, dan Pejompongan.

Namun, kondisi berkumpulnya para pekerja seks di sana dimanfaatkan sejumlah mucikari untuk membujuk mereka kembali bekerja sebagai wanita penghibur.

Tempat itu pun kemudian dikenal sebagai tempat pelacuran, dengan rumah remang-remang yang mulai berdiri di sana. Tempat pelacuran tersebut juga ditetapkan sebagai lokalisasi melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No. Ca.7/I/13/1970 per tanggal 27 April 1970 tentang Pelaksanaan Usaha Lokalisasi/Relokasi Wanita Tuna Susila.

Pekerja seks yang tadinya tersebar di banyak tempat pun mulai bergabung ke sana. Pada tahun 1990-an, jumlah pekerja seks di sana sudah lebih dari 2.000 orang dengan pengawasan 258 mucikari dan 700 orang pembantu pengasuh, 800 pedagang asongan, dan 155 orang tukang ojek.

Masih banyak lagi orang yang menggantungkan hidupnya di sana seperti tukang cuci dan pemilik warung yang tidak terhitung jumlahnya. Menjelang tahun 1999, mulai muncul wacana penggusuran lokalisasi Kramat Tunggak yang menuai pro dan kontra warga di sana.

Sutiyoso kemudian turun menanganinya dengan berkomunikasi dan membentuk sebuah tim yang bertugas melakukan rekayasa sosial.

"Tim itu untuk memetakan rekayasa sosial, apa sih dampak saat Kramat Tunggak dibongkar, gimana mucikarinya, PSK-nya, akibat pembongkaran terhadap warga yang menggantungkan hidup sehari-hari cari nafkah di lokalisasi itu," kata mantan anggota Tim Kajian Pembongkaran Kramat Tunggak Ricardo Hutahean (40) kepada Kompas.com, Senin (15/2/2016).

Setelah membuat rekayasa sosial, para mucikari ditawarkan uang ganti rugi sebelum penggusuran dilakukan. Selain itu, PSK yang jumlahnya ribuan diberi pendampingan terus-menerus selama lima tahun.

"Mereka juga difasilitasi untuk melakukan kegiatan setelah pensiun dari PSK. Ikut kursus menjahit, masak, tata boga, dan lain-lain," tutur Ricardo.

Proses pendampingan dan rehabilitasi terus berjalan tanpa ada satupun surat peringatan yang diberikan. Tim gabungan saat itu bekerja dengan prinsip bagaimana cara menutup lokalisasi tanpa mencabut hak mereka yang berada di sana.

Hasilnya pun bisa dirasakan kini. Salah seorang warga yang tinggal dekat lokalisasi Kramat Tunggak dulu, Tuti (56), menilai kondisi sekarang sudah lebih baik ketimbang dulu saat masih ada lokalisasi.

"Enakan sekarang dong, jauh, sudah tenang, enggak ada omongan-omongan jelek soal yang begituan, lebih tertata juga tempat kita," ujar Tuti.

Hingga kini, lokasi bekas Kramat Tunggak benar-benar berubah dengan adanya pembangunan Jakarta Islamic Centre (JIC) yang dimulai tahun 2002. Latar belakang pembangunan JIC diawali dari Forum Curah Gagasan oleh Sutiyoso untuk mengetahui sejauh mana dukungan masyarakat terhadap perubahan Kramat Tunggak.

Dukungan itu ternyata semakin menguat dan pada akhirnya muncul gagasan membangun JIC. Ide itu dikemukakan Sutiyoso kepada Profesor Azzumardi Azra yang saat itu menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah.

Daerah sekitar JIC atau Kramat Tunggak dulu, sekarang sangat hidup. Banyak toko dan penjual makanan yang mewarnai kawasan JIC yang merupakan tempat dari Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta itu. Tempat ini dinilai warga juga lebih aman dan nyaman untuk ditinggali.

Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisAndri Donnal Putera
EditorFidel Ali
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM