Kasus Kopi Mirna dan Kedewasaan Forensik Kita - Kompas.com

Kasus Kopi Mirna dan Kedewasaan Forensik Kita

Putro Perdana
Kompas.com - 05/10/2016, 07:38 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Terdakwa Jessica Kumala Wongso hendak menjalani sidang dengan agenda tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (5/10/2016). Ia menjadi terdakwa terkait dugaan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin.

Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah pertelevisian kita, jalannya sidang di pengadilan menjadi tontonan yang begitu seru, dengan berbagai babak drama dan konfliknya tersendiri.

Kasus kopi Mirna dan misteri yang menyelubunginya menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat kita tiba-tiba begitu tertarik dengan proses sistem peradilan pidana, tentang saksi ahli, sah atau tidaknya alat bukti, bahkan beberapa dari kita mungkin ada yang sampai mempelajari soal  racun dan seluk beluknya karena kasus ini.

Fenomena yang luar biasa.  Bahkan saya sampai sempat membuat status di facebook saya “If only munir murder case got the same spotlight as jessica, we would've been a different society”.

Terlepas dari itu, kasus ini menjadi blessing in disguise terhadap perkembangan ilmu forensik dalam sistem hukum kita.

Trial of the century

Kasus Kopi Mirna mengingatkan saya dengan kasus pembunuhan O.J Simpson yang terjadi di California tahun 1994. Kasusnya dikenal sebagai “trial of the century” karena ketenaran O.J Simpson dan hebohnya media Amerika saat itu dalam memberitakan kasus ini.

O.J Simpson sebagai tersangka utama dugaan pembunuhan mantan istri dan rekannya, merupakan seorang bintang NFL dan seorang aktor yang terkenal.

Namun bagi saya yang seorang pemerhati dunia kriminologi forensik, kasus O.J Simpson menarik bukan karena siapa dia, tapi karena ada perspektif baru yang diperkenalkan media Amerika saat itu dalam kasus ini.

Kasus pembunuhan ini melibatkan analisa forensik DNA sebagai alat bukti.  Hasil analisa DNA pada bercak darah di TKP menunjukan bahwa O.J Simpson adalah pelakunya.

Perlu diingat bahwa pada era 1990an, penggunaan DNA forensik sebagai alat bukti belum cukup dikenal dan masih dianggap awam, bahkan di dunia barat sekalipun. 

Hadirnya analisa DNA, menjadi perspektif baru bagi publik dan praktisi hukum di Amerika. Sebagian ada yang mendukung, sebagian lagi bersikap skeptis. Persis seperti apa yang terjadi dengan kasus Kopi Mirna ini.

Namun dalam perdebatan mereka, timbul kedewasaan hukum. Ada perang ilmiah dalam menyikapi metode baru ini. Studi-studi tentang forensik berkembang tidak hanya di bidang ilmu pasti, namun juga dalam ilmu hukum dan sosial. 

Apa yang terjadi selanjutnya seperti merevolusi dunia pertelevisian dan dunia hukum Amerika. Penggunaan analisa DNA dan forensik menjadi bahan pokok untuk beberapa kasus kriminal, seperti pemerkosaan, dan pembunuhan.

Opera sabun di Amerika, menjadi begitu senang menggunakan perspektif forensik dalam jalan ceritanya. Lahirnya film-film seri seperti criminal minds dan NCIS, dipengaruhi kasus ini.  Penggunaan analisa DNA pada kasus O.J Simpson mengubah wajah hukum modern di sana. 

Harapan Publik

Besar harapan saya bahwa kasus Kopi Mirna ini bisa mendewasakan perkembangan forensik di tanah air. Selama ini, umumnya publik hanya mengenal ilmu forensik kedokteran.

Dalam kasus Kopi Mirna, media membantu memperkenalkan hadirnya perspektif lain dalam ilmu forensik. Publik diperkenalkan dengan beberapa ilmu yang baru dan mengunggah rasa penasaran, seperti kriminologi, analisa gestur, toksikologi, forensik digital.

Hadirnya saksi ahli dari kedua belah pihak, dengan kualifikasi yang sama sama mumpuni, membuat perdebatan menjadi seru. Ada perdebatan ilmiah yang terjadi di situ, dan publik memperhatikan.

Kenapa perhatian orang sebegitu besarnya terhadap kasus ini? Karena mereka ingin mengetahui seberapa objektif jalannya pembuktian hukum di Indonesia.

Ditambah dengan buruknya citra sistem hukum kita yang dianggap terlalu subjektif dan berat sebelah, masyarakat jadi ingin tahu “Ngapain aja sih sidang di pengadilan itu?”.

Sebagian masyarakat kita awam terhadap hukum, dan kasus ini menjadi semacam kuliah gratis dengan bumbu dramanya yang terjadi di luar pengadilan. Masyarakat menjadi tahu tentang apa yang terjadi dalam hukum kita dan bagaimana sistem peradilan pidana berjalan.

Kapan lagi kita belajar tentang forensik, dan hukum secara demikian serunya? Saya sendiri belajar untuk menjadi saksi ahli yang baik dan benar melalui kasus ini.

Sudah saatnya pembuktian hukum di Indonesia lebih menganut scientic investigation, yang mengedepankan keilmiahan. Ada harapan dari publik bahwa dunia hukum kita bisa lebih objektif.

Inilah momentum yang tepat bagi para praktisi maupun akademisi hukum, kriminologi dan forensik untuk lebih mengembangkan paradigmanya, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum kita.

Salah satu mimpi saya adalah Indonesia mempunyai lembaga forensik independen yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, dan mampu menjadi second-opinion dalam pengadilan. Semoga Anda yang membaca bisa membantu mewujudkannya, untuk Indonesia. 

Kompas TV Jessica: Saya yang Pesan Kopi, Saya yang Dituduh

EditorWisnubrata
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM