Salin Artikel

Selain Bambu Getih Getah, Ini Daftar Pemanis Jakarta yang Berbiaya Besar tapi Tak Tahan Lama

Kebanyakan, benda-benda tersebut dipasang Pemprov DKI Jakarta menjelang pesta olahraga Asian Games 2018.

Masih segar di ingatan saat Pemprov DKI Jakarta menyulap separator jalan yang semula berwarna abu-abu semen atau kuning polos menjadi berwarna warni.

Anies, saat itu menyebutkan bahwa perubahan dilakukan dalam rangka "beautifikasi" menyambut Asian Games 2018.

Tujuannya memang baik, untuk memperindah penampilan Jakarta yang sudah semrawut karena padatnya kendaraan. Sayangnya, keberadaan benda-benda tersebut tak berlangsung lama. Padahal anggaran yang dikeluarkan pun terbilang tidak sedikit.

Kompas.com merangkum beberapa benda yang digunakan Pemprov DKI Jakarta untuk menambah nilai estetik ibu kota, tapi tak berumur panjang, sebagai berikut:

1. Separator warna warni

Menyambut gelaran Asian Games 2018, pemerintah kota Jakarta menyemarakkan kota dengan menghias setiap sudut dengan warna-warni khas gelaran pesta olahraga tersebut.

Salah satunya dilakukan dengan menghias separator jalur atau pemisah jalur jalan dengan cat warna-warni. Separator jalan tersebut terpantau mulai diwarnai pada Juli 2018.

Wakil Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sandiaga Uno, mengatakan separator warna-warni itu hasil inisiatif warga dalam menyambut Asian Games 2018.

Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa tak ada aturan soal warna separator. Namun, muncul anggapan bahwa separator warna warni akan membahayakan pengguna jalan dan mengaburkan fungsi sebenarnya.

Akhirnya, selang beberapa hari, separator tersebut dicat jadi warna hitam putih.

2. Pohon plastik

Pemprov DKI Jakarta pernah memasang lampu hias berwujud pohon plastik yang menghebohkan media sosial pada Juni 2018. Baru beberapa hari dipasang, ramai protes dan cibiran warganet soal pohon plastik yang memakan trotoar. Dari segi estetika, tampilannya pun kurang menarik.

Ternyata, pohon-pohon itu adalah stok lama pengadaan tahun 2017. Biasanya, ketika hari besar, pohon-pohon itu dipasang di Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat saat Hari Raya, HUT Jakarta, hingga malam tahun baru.

Jika event selesai, maka pohon ini dicopot. Namun, pohon ini kembali dipasang menjelang perhelatan Asean Games 2018.

Pohon yang dipasang di kawasan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat itupun tak lama kemudian dicopot setelah ada protes dari pengguna jalan yang terhalang pohon.

Terkait anggaran yang dikeluarkan, muncul dua versi. Pertama, senilai Rp 8,1 miliar di Dinas Perhutanan, yang mana tercatat dalam Sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) pengadaan tanaman imitasi berjudul lelang pengadaan tanaman dan bahan dekorasi.

Namun, angka itu dibantah Kepala Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta Pusat Iswandi.

Versi kedua, sebesar Rp 2,2 miliar untuk anggaran pengadaan lampu hias dan pencahayaan kota di Suku Dinas Perindustrian dan Energi tahun anggaran 2018. Kali ini, angka tersebut dibantah Sandiaga.

3. Waring Kali Item

Pada Juli 2018, jaring berwarna hitam selebar sekitar 20 meter menutupi Kali Sentiong yang terletak di belakang Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Kali Sentiong itu lebih populer dengan nama Kali Item. Tak hanya berwarna hitam pekat, kali tersebut juga mengeluarkan bau tak sedap.

Pemerintah pun berusaha menutupi keruhnya kali dan bau tersebut dengan jaring berbahan nilon. Sebab, kali tersebut berdekatan dengan Wisma Atlet Kemayoran dan jalurnya dilewati atlet menuju stadion olahraga selama pertandingan.

Adapun anggaran yang digunakan untuk membeli waring tersebut sebesar Rp 580.833.000 yang terbagi dalam tiga segmen. Bertahan empat bulan, waring tersebut dicopot pada November 2018.

4. Bambu Getih getah

Di antara para pemanis Jakarta, mungkin instalasi bambu Getih Getah merupakan satu yang bertahan paling lama. Getih Getah dipasang pada Agustus 2018. Karya seniman Joko Avianto itu sempat dibanggakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai karya seni dengan material asli Indonesia.

Instalasi itu ditopang oleh puluhan pilar-pilar bambu yang tertancap kokoh. Dipilihnya bambu sebagai bahan pembuatan juga menyimbolkan perjuangan bangsa Indonesia yang menggunakan bambu saat berjuang demi kemerdekaan.

Sayangnya, instalasi yang memakan anggaran Rp 550 juta itu hanya bertahan 11 bulan. Pada Kamis(18/7/2019), bambu Getih Getah dibongkar.

Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta Suzi Marsitawati beralasan, kondisi instalasi bambu tersebut mulai rapuh.

https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/19/06252961/selain-bambu-getih-getah-ini-daftar-pemanis-jakarta-yang-berbiaya-besar

Terkini Lainnya

Ada 292 Aduan Terkait Pembayaran THR 2024 Lewat Website Kemenaker

Ada 292 Aduan Terkait Pembayaran THR 2024 Lewat Website Kemenaker

Megapolitan
Bantah Gonta-ganti Pengurus Tanpa Izin, Ketua RW di Kalideres: Sudah Bersurat ke Lurah

Bantah Gonta-ganti Pengurus Tanpa Izin, Ketua RW di Kalideres: Sudah Bersurat ke Lurah

Megapolitan
Pelaku Pelecehan Payudara Siswi di Bogor Diduga ODGJ, Kini Dibawa ke RSJ

Pelaku Pelecehan Payudara Siswi di Bogor Diduga ODGJ, Kini Dibawa ke RSJ

Megapolitan
Longsor di New Anggrek 2 GDC Depok, Warga: Sudah Hubungi Semua Pihak, Tidak Ada Jawaban

Longsor di New Anggrek 2 GDC Depok, Warga: Sudah Hubungi Semua Pihak, Tidak Ada Jawaban

Megapolitan
Cuaca Panas Ekstrem di Arab Saudi, Fahira Idris Minta Jemaah Haji Jaga Kondisi Fisik

Cuaca Panas Ekstrem di Arab Saudi, Fahira Idris Minta Jemaah Haji Jaga Kondisi Fisik

Megapolitan
Mahasiswa Dikeroyok di Tangsel, Setara Institute Minta Hentikan Narasi Kebencian Pemicu Konflik

Mahasiswa Dikeroyok di Tangsel, Setara Institute Minta Hentikan Narasi Kebencian Pemicu Konflik

Megapolitan
Khawatir Kalah karena Politik Uang, Hanya 1 Kader PKB Daftar Pilkada Bogor

Khawatir Kalah karena Politik Uang, Hanya 1 Kader PKB Daftar Pilkada Bogor

Megapolitan
Dari 11, 4 Aduan Pekerja di Jakarta Terkait Pembayaran THR 2024 Telah Ditindaklanjuti

Dari 11, 4 Aduan Pekerja di Jakarta Terkait Pembayaran THR 2024 Telah Ditindaklanjuti

Megapolitan
Ketum PITI Diperiksa Polisi Terkait Laporan Terhadap Pendeta Gilbert

Ketum PITI Diperiksa Polisi Terkait Laporan Terhadap Pendeta Gilbert

Megapolitan
Lurah di Kalideres Tak Masalah jika Digugat soal Penonaktifan Ketua RW, Yakin Keputusannya Tepat

Lurah di Kalideres Tak Masalah jika Digugat soal Penonaktifan Ketua RW, Yakin Keputusannya Tepat

Megapolitan
Polisi Selidiki Kepemilikan Pelat Putih Mobil Dinas Polda Jabar yang Kecelakaan di Tol MBZ

Polisi Selidiki Kepemilikan Pelat Putih Mobil Dinas Polda Jabar yang Kecelakaan di Tol MBZ

Megapolitan
Hanya 1 Kader Daftar Pilkada Bogor, PKB: Khawatir Demokrasi Rusak seperti Pemilu

Hanya 1 Kader Daftar Pilkada Bogor, PKB: Khawatir Demokrasi Rusak seperti Pemilu

Megapolitan
Pemkot Tangsel Bakal Evaluasi Ketua RT-RW Imbas Pengeroyokan Mahasiswa

Pemkot Tangsel Bakal Evaluasi Ketua RT-RW Imbas Pengeroyokan Mahasiswa

Megapolitan
Meski Tersangka Sudah Ditetapkan, Polisi Sebut Penyidikan Kasus Tewasnya Taruna STIP Belum Final

Meski Tersangka Sudah Ditetapkan, Polisi Sebut Penyidikan Kasus Tewasnya Taruna STIP Belum Final

Megapolitan
Mengingat Lagi Pesan yang Ada di STIP, 'Sekolah Ini Akan Ditutup Jika Terjadi Kekerasan'

Mengingat Lagi Pesan yang Ada di STIP, "Sekolah Ini Akan Ditutup Jika Terjadi Kekerasan"

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke