Kompas.com - 21/05/2014, 04:32 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorPalupi Annisa Auliani
JAKARTA, KOMPAS.com -- Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arif Poyuono mengatakan, mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono telah berupaya meminta bantuan hukum kepada serikat yang dipimpinnya, terkait dengan status Pristono sebagai tersangka dalam kasus proyek pengadaan bus transjakarta asal Tiongkok.

Menurut Arif, Pristono mengaku terjepit karena diposisikan sebagai aktor utama dalam proyek pengadaan bus tersebut. Padahal, kata dia, Pristono mengaku hanya bawahan yang menjalankan perintah atasan.

"Pak Pristono meminta kami membantu beliau mengungkap kasus ini karena dalam kasus ini seolah-olah beliau dijadikan sebagai satu-satunya tersangka (utama). Padahal tidak demikian," kata Arif saat dihubungi, Selasa (20/5/2014).

Selain itu, Arif mengatakan mendapat informasi bahwa Direktur Penyelidikan di Kejaksaan Agung bernama Syahrudin sedang menjalani masa pendidikan di Lemhanas selama tiga bulan. Menurut dia, informasi tersebut berarti untuk sementara waktu penyelidikan kasus bus berkarat akan berhenti.

Bila dihitung lamanya waktu pendidikan, maka kasus ini setidaknya tak akan diselidiki hingga akhir Agustus 2014 atau sampai sesudah Pemilu Presiden 2014 berakhir. "Artinya, kalau (pejabat itu) disekolahkan, maka penyelidikan kasus bus transjakarta akan tertunda selama tiga bulan atau akan dilanjutkan lagi seusai pelaksanaan Pilpres pada 9 Juli," papar Arif.

Belum ada konfirmasi dari Pristono sehubungan dengan klaim tersebut. Seperti diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Agung menetapkan Pristono sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan bus transjakarta dan bus kota terintegrasi busway (BKTB) pada Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun 2013 senilai Rp 1,5 triliun.

Tersangka lainnya adalah Prawoto, Direktur Pusat Teknologi dan Sistem Transportasi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dalam kasus ini, Pristono telah dua kali diperiksa penyidik. Pemeriksaan pertama dilaksanakan pada 7 April 2014 dan pemeriksaan kedua pada 9 Mei 2014.

Pada pemeriksaan terakhir, Pristono masih diperiksa sebagai saksi dua tersangka sebelumnya, yakni Drajat Adhyaksa selaku Pejabat Pembuat Komitmen Pengadaan Bus dari Dishub DKI, dan Setyo Tuhu selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang/Jasa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belum Periksa Saksi Robohnya Tembok MTsN 19 Jaksel, Polisi: Masih Fokus Amankan Aset

Belum Periksa Saksi Robohnya Tembok MTsN 19 Jaksel, Polisi: Masih Fokus Amankan Aset

Megapolitan
Polres Jaksel Gandeng Puslabfor untuk Selidiki Penyebab Robohnya Tembok MTsN 19

Polres Jaksel Gandeng Puslabfor untuk Selidiki Penyebab Robohnya Tembok MTsN 19

Megapolitan
2 Sopir Angkot Disebut Saling Tikam di Lahan Kosong Tangerang, 1 Orang Tewas

2 Sopir Angkot Disebut Saling Tikam di Lahan Kosong Tangerang, 1 Orang Tewas

Megapolitan
Kala Duka Selimuti Kediaman dan Prosesi Pemakaman Korban Robohnya Tembok MTsN 19 Pondok Labu...

Kala Duka Selimuti Kediaman dan Prosesi Pemakaman Korban Robohnya Tembok MTsN 19 Pondok Labu...

Megapolitan
Penabrak Bos Indomaret Tidak Ditahan, Polisi: Keluarga Korban Tak Ingin Melanjutkan Kasus ke Ranah Hukum

Penabrak Bos Indomaret Tidak Ditahan, Polisi: Keluarga Korban Tak Ingin Melanjutkan Kasus ke Ranah Hukum

Megapolitan
Polda Metro: Kasus KDRT Lesti Kejora oleh Rizky Billar Naik ke Penyidikan

Polda Metro: Kasus KDRT Lesti Kejora oleh Rizky Billar Naik ke Penyidikan

Megapolitan
Serapan Vaksin Tinggi, Dinkes Minta Relokasi untuk Antisipasi Pasokan yang Mulai Menipis

Serapan Vaksin Tinggi, Dinkes Minta Relokasi untuk Antisipasi Pasokan yang Mulai Menipis

Megapolitan
Anies Resmikan Kampung Gembira Gembrong Usai Tragedi Kebakaran 5 Bulan Lalu

Anies Resmikan Kampung Gembira Gembrong Usai Tragedi Kebakaran 5 Bulan Lalu

Megapolitan
Warganet Sindir Penanganan Kasus KDRT Lesti Kejora, Polisi: Kami Enggak Lambat

Warganet Sindir Penanganan Kasus KDRT Lesti Kejora, Polisi: Kami Enggak Lambat

Megapolitan
Puja-Puji Anies untuk Pemerintahan SBY di Hadapan AHY...

Puja-Puji Anies untuk Pemerintahan SBY di Hadapan AHY...

Megapolitan
Masuk Musim Hujan, Ini Langkah Pemkot Cegah Banjir di Jakarta Pusat

Masuk Musim Hujan, Ini Langkah Pemkot Cegah Banjir di Jakarta Pusat

Megapolitan
Pengendara Motor Korban Tabrak Lari Bus di Bekasi merupakan Suami Istri

Pengendara Motor Korban Tabrak Lari Bus di Bekasi merupakan Suami Istri

Megapolitan
Keluarga Korban Tembok Roboh MTsN 19: Ini Petang Kelam yang Tak Kami Harapkan...

Keluarga Korban Tembok Roboh MTsN 19: Ini Petang Kelam yang Tak Kami Harapkan...

Megapolitan
Sopir Truk yang Tabrak Bos Indomaret di BSD Tak Ditahan, Ini Penjelasan Polisi

Sopir Truk yang Tabrak Bos Indomaret di BSD Tak Ditahan, Ini Penjelasan Polisi

Megapolitan
Sahabat Kenang Dendis, Korban Tembok Roboh MTsn 19: Orang yang Meramaikan Tongkrongan

Sahabat Kenang Dendis, Korban Tembok Roboh MTsn 19: Orang yang Meramaikan Tongkrongan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.