Kompas.com - 25/08/2015, 16:22 WIB
Dari kiri, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mujiyono dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti saat mengungumkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan resmi ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (31/7/2015). Kahfi Dirga Cahya/KOMPAS.comDari kiri, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mujiyono dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti saat mengungumkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan resmi ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (31/7/2015).
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim khusus pengungkapan kasus pembunuhan Akseyna Ahad Dori (18) dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya terus melakukan penyelidikan. Salah satunya dengan mencari alat bukti lain ke tempat lain di Indonesia.

"Penyelidikan dan penyidikan tidak pernah berhenti. Bahkan, ada anggota kami yang kami kirim ke wilayah lain, jauh, untuk melakukan penyelidikan," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti di Jakarta, Selasa (25/8/2015).  

Namun, Krishna enggan memberitahukan ke mana tim tersebut bergerak. Ia hanya meminta publik untuk memercayai kinerja polisi yang terus menyelidiki kematian mahasiswa Universitas Indonesia tersebut.

"Kami tidak bisa sebutkan. Ada tim khusus yang tidak bekerja di kasus lain, selain kasus ini," kata Krishna.

Sementara itu, terkait ada atau tidaknya titik terang kasus pembunuhan ini, Krishna enggan membeberkannya. Pasalnya, titik terang tersebut merupakan bukti untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan.

"Belum bisa kami ungkap ke publik," kata Krishna.


Akseyna ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga, Kompleks UI, pada April 2015. Polisi meyakini, ia meninggal karena dibunuh. Sebab, kondisi fisik dan lingkungannya mengindikasikan hal tersebut. Kondisi fisik Akseyna, yakni lebam di kepala, bibir, dan telinga, juga dicurigai sebagai indikasi bahwa ia sempat dianiaya oleh pelaku.

Selain itu, ranselnya yang hanya dikaitkan, tidak diikatkan, membuat Akseyna seharusnya bisa mudah untuk melepaskannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Eks Ketua Tim Jaguar Usai Dilebur Jadi Tim Patroli Presisi: Jalani Pelatihan hingga Waktu Patroli Lebih Panjang

Cerita Eks Ketua Tim Jaguar Usai Dilebur Jadi Tim Patroli Presisi: Jalani Pelatihan hingga Waktu Patroli Lebih Panjang

Megapolitan
102 RT Terendam Banjir Jakarta, Ketua DPRD: Sumur Resapan Tidak Ada Gunanya

102 RT Terendam Banjir Jakarta, Ketua DPRD: Sumur Resapan Tidak Ada Gunanya

Megapolitan
Kendaraan Berpelat Khusus RF Tidak Kebal Ganjil-Genap, Polda Metro Jaya: Tak Ada Keistimewaan.

Kendaraan Berpelat Khusus RF Tidak Kebal Ganjil-Genap, Polda Metro Jaya: Tak Ada Keistimewaan.

Megapolitan
Dicecar Munarman Saat Persidangan, Saksi: Jangan Khawatir Saya Memberatkan Abang

Dicecar Munarman Saat Persidangan, Saksi: Jangan Khawatir Saya Memberatkan Abang

Megapolitan
Sebut Sumur Resapan Tak Efektif, Warga Lebak Bulus: Ini Masih Banjir, Surutnya Lama...

Sebut Sumur Resapan Tak Efektif, Warga Lebak Bulus: Ini Masih Banjir, Surutnya Lama...

Megapolitan
6 Tersangka Spesialis Pembobol Rumah Kosong Ditangkap, Polisi Amankan Sepucuk Senjata Api

6 Tersangka Spesialis Pembobol Rumah Kosong Ditangkap, Polisi Amankan Sepucuk Senjata Api

Megapolitan
Wilayahnya Dilanda Banjir Tiap Tahun, Ketua RT di Tegal Alur: Saya Bilang Ini Anniversary

Wilayahnya Dilanda Banjir Tiap Tahun, Ketua RT di Tegal Alur: Saya Bilang Ini Anniversary

Megapolitan
Polda Metro Gencar Tindak Mobil Berplat Khusus RF, DPR Siap 'Backup'

Polda Metro Gencar Tindak Mobil Berplat Khusus RF, DPR Siap "Backup"

Megapolitan
Langgar Ganjil Genap hingga Pakai Rotator, 124 Kendaraan Berpelat Khusus RF Ditilang

Langgar Ganjil Genap hingga Pakai Rotator, 124 Kendaraan Berpelat Khusus RF Ditilang

Megapolitan
Mantan Istri Bambang Pamungkas Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Pencemaran Nama Baik

Mantan Istri Bambang Pamungkas Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Pencemaran Nama Baik

Megapolitan
Sindikat Pencuri Bersenjata Spesialis Bobol Rumah Kosong di Bekasi Ditangkap, 2 Orang Masih Buron

Sindikat Pencuri Bersenjata Spesialis Bobol Rumah Kosong di Bekasi Ditangkap, 2 Orang Masih Buron

Megapolitan
Saptol PP Awasi Penerapan Prokes di Sekolah untuk Cegah Penularan Covid-19

Saptol PP Awasi Penerapan Prokes di Sekolah untuk Cegah Penularan Covid-19

Megapolitan
Jenazah Tahanan Polres Jaksel yang Tewas Diotopsi, Kuasa Hukum Sebut Ada Luka di Tubuhnya

Jenazah Tahanan Polres Jaksel yang Tewas Diotopsi, Kuasa Hukum Sebut Ada Luka di Tubuhnya

Megapolitan
Kerap Kebanjiran, Warga Tegal Alur Ajukan Perbaikan Saluran sejak 2018 tapi Tak Kunjung Terealisasi

Kerap Kebanjiran, Warga Tegal Alur Ajukan Perbaikan Saluran sejak 2018 tapi Tak Kunjung Terealisasi

Megapolitan
Dalang Bom Bali I Zulkarnaen Divonis 15 Tahun Penjara

Dalang Bom Bali I Zulkarnaen Divonis 15 Tahun Penjara

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.