Buni Yani Tantang "Buzzer-buzzer" Ahok untuk Bertemu dan Berdebat

Kompas.com - 28/04/2017, 15:01 WIB
Terlapor kasus dugaan pengeditan video Ahok, Buni Yani (Kaca Mata) saat memenuhi panggilan Bareskrim Polri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (20/12/2016). Buni Yani dipanggil sebagai saksi dalam kasus upaya makar dengan tersangka Sri Bintang Pamungkas. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELITerlapor kasus dugaan pengeditan video Ahok, Buni Yani (Kaca Mata) saat memenuhi panggilan Bareskrim Polri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (20/12/2016). Buni Yani dipanggil sebagai saksi dalam kasus upaya makar dengan tersangka Sri Bintang Pamungkas.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com - Tersangka penyebaran penghasutan SARA, Buni Yani menantang " buzzer-buzzer" pendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk bertemu dan berdebat.

Buni menilai status tersangka yang kini disandangnya merupakan akibat dari ulah buzzer Ahok yang disebutnya sudah memelintir dan mempermasalahkan caption yang ditulis dalam video yang diunggahnya.

Padahal, kata Buni, apa yang ditulisnya merupakan partial quotation yang sebenarnya lumrah terjadi. Ia menyebut penghilangan atau penambahan kata kutipan tidak masalah sepanjang bertujuan untuk memperjelas dan tidak menghilangkan makna.

" Buzzer-nya belum mengetahui bahwa saya paham masalah ini. Saya tahu masalahnya. Silakan berdebat dengan saya. Yang paling pintar pendukung dia deh, bawa ke sini. Berdebat dengan saya saja untuk masalah ini," kata Buni dalam sebuah jumpa pers yang digelar di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/4/2017).

Buni menyatakan bahwa dirinya ditetapkan sebagai tersangka karena caption yang ditulis dan bukan karena video yang diunggahnya. Menurut Buni, polisi tidak bisa membuktikan bahwa dirinya telah mengedit video Ahok saat kunjungan kerjanya di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Baca: Buni Yani: Saya tidak Bodoh karena Saya Mengajar Mata Kuliah

Namun, Buni menyebut buzzer-buzzer pendukung Ahok membangun opini bahwa dirinya telah mengedit dan mengungah video pidato Ahok.

"Yang dikatakan mereka hanya Buni Yani punya niat jahat. Dipelintir semua. Jadi tolong ini dipahami. Jangan mendengar kata buzzer. Saya ini mengerti masalahnya. Saya mengajar soal ini," ujar pria yang pernah mengajar di salah satu universitas swasta di Jakarta ini.

Baca: Ahok "Ngaku" Tak Pernah Bayar "Buzzer" Media Sosial

Kompas TV Di Balik "Cuitan" Ada Aroma Jutaan Rupiah

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anggaran Cekak, Pemkot Bekasi Sulit Bebaskan Lahan untuk Underpass Bulak Kapal

Anggaran Cekak, Pemkot Bekasi Sulit Bebaskan Lahan untuk Underpass Bulak Kapal

Megapolitan
Kebakaran Landa Sebuah Gudang Plastik di Kalideres

Kebakaran Landa Sebuah Gudang Plastik di Kalideres

Megapolitan
Sunter Agung Tak Seperti Kampung Akuarium, Taufik: Pilihan Terbaik Warga Dipindahkan ke Rusun

Sunter Agung Tak Seperti Kampung Akuarium, Taufik: Pilihan Terbaik Warga Dipindahkan ke Rusun

Megapolitan
Walau Mendesak, Bekasi Belum Prioritaskan Pembangunan Damkar Sektor Pondok Gede

Walau Mendesak, Bekasi Belum Prioritaskan Pembangunan Damkar Sektor Pondok Gede

Megapolitan
Tebing di Jalan DI Panjaitan Rawan Longsor karena Tak Ada Saluran Air

Tebing di Jalan DI Panjaitan Rawan Longsor karena Tak Ada Saluran Air

Megapolitan
Kabur Berhari-hari, Preman yang Pukuli Pria di Ceger Ditangkap Polisi

Kabur Berhari-hari, Preman yang Pukuli Pria di Ceger Ditangkap Polisi

Megapolitan
Fakta Seputar Kematian Pilot Wings Air yang Diduga Bunuh Diri di Kamar Indekos

Fakta Seputar Kematian Pilot Wings Air yang Diduga Bunuh Diri di Kamar Indekos

Megapolitan
Nunung Minta Dihukum Ringan karena Harus Urus 13 Anak Angkat

Nunung Minta Dihukum Ringan karena Harus Urus 13 Anak Angkat

Megapolitan
3 Lokasi di Jakarta Barat Jadi Proyek Awal Atasi Penurunan Tanah

3 Lokasi di Jakarta Barat Jadi Proyek Awal Atasi Penurunan Tanah

Megapolitan
Transjakarta Puji Pengemudi yang Tak Mengalah terhadap Pemotor yang Lawan Arah

Transjakarta Puji Pengemudi yang Tak Mengalah terhadap Pemotor yang Lawan Arah

Megapolitan
Babak Baru Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi

Babak Baru Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi

Megapolitan
Polisi Masih Selidiki Dugaan Korupsi pada Penerbitan Surat Tugas Ormas Kelola Parkir di Bekasi

Polisi Masih Selidiki Dugaan Korupsi pada Penerbitan Surat Tugas Ormas Kelola Parkir di Bekasi

Megapolitan
Rekan Ditabrak Petugas Sekuriti Saat Berdagang, Pedagang Bakso Gelar Aksi Teatrikal

Rekan Ditabrak Petugas Sekuriti Saat Berdagang, Pedagang Bakso Gelar Aksi Teatrikal

Megapolitan
Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

Polisi Tangkap Spesialis Pencuri Motor yang Beraksi di Wilayah Tangsel

Megapolitan
Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

Kapolsek Kalideres Sebut Tidak Ada Indikasi Pilot Wings Air Dibunuh

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X