Pengunjuk Rasa Coba Hentikan Mobil Diduga Taksi "Online" yang Bawa Penumpang

Kompas.com - 29/01/2018, 13:52 WIB
Sebuah mobil Xenia berwarna hitam yang diduga taksi online menerobos massa unjuk rasa pengemudi taksi online di depan Gedung Kemenhub, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018). Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.comSebuah mobil Xenia berwarna hitam yang diduga taksi online menerobos massa unjuk rasa pengemudi taksi online di depan Gedung Kemenhub, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018).
|
EditorIcha Rastika

JAKARTA, KOMPAS.com — Kericuhan terjadi di tengah aksi unjuk rasa pengemudi taksi online di depan gedung Kementerian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat, Senin (29/1/2018).

Kericuhan tersebut terjadi karena diduga ada pengemudi taksi online yang membawa penumpang di tengah aksi unjuk rasa.

Pengemudi taksi online dengan mobil Xenia hitamitu melaju di jalur transjakarta. Para pengunjuk rasa pun berupaya menghentikan mobil tersebut.

"Iya tadi ada taksi online yang lewat. Tahunya itu tadi ada stikernya dan ada iklan yang ditempel. Mau diberhentiin sama teman-teman," ujar salah seorang pengemudi taksi online yang ikut unjuk rasa, Fadli.

Baca juga: Pengemudi Taksi "Online" Setuju dengan PM 108? Itu Semua Bohong!

Berdasarkan pantauan Kompas.com, saat mobil tersebut melintas, para peserta aksi langsung berusaha menghentikannya. Aksi lempar botol kemudian terjadi di tengah kericuhan tersebut.

Koordinator unjuk rasa dari atas mobil komando langsung menyerukan para peserta agar tidak terpancing provokasi dan membiarkan mobil yang diduga taksi online itu lewat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Biarkan lewat, biarkan saja. Jangan terpancing, saya juga kesal. Biarkan saja dia lewat," kata koordinator tersebut.

Petugas kepolisian yang berjaga langsung mengawal mobil tersebut untuk menerobos kerumunan massa agar bisa terus melaju.

Unjuk rasa ini digelar dalam rangka menolak Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 108 tentang Penyelenggaran Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Baca juga: Mobil Taksi "Online" Diparkir di Jalan, Ruas Medan Merdeka Selatan Macet

Para sopir taksi online menolak PM 108 tersebut karena isinya dianggap merugikan mereka.
Mereka merasa, regulasi, seperti wajib masuk koperasi, memasang stiker, dan uji KIR, memberatkan dan merugikan.

"Selama ini kan kami pakai kendaraan pribadi, kendaraan kami sendiri. Lalu, kalau harus uji KIR, gabung di koperasi, apalagi sampai status kendaraan kami diubah jadi kendaraan umum, jelas tidak maulah, rugi kami," kata salah seorang orator dalam unjuk rasa tersebut.

Kompas TV Apa yang baru dari pengaturan taksi online sesuai Permenhub 108 Tahun 2017?
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bela Anies yang Diberi Rapor Merah, Wagub DKI: Tanya Masyarakat, Jakarta Semakin Baik...

Bela Anies yang Diberi Rapor Merah, Wagub DKI: Tanya Masyarakat, Jakarta Semakin Baik...

Megapolitan
Beri Rapor Merah untuk Anies, LBH Sebut Sulit Punya Tempat Tinggal di Jakarta

Beri Rapor Merah untuk Anies, LBH Sebut Sulit Punya Tempat Tinggal di Jakarta

Megapolitan
LBH Jakarta Sebut Pemprov DKI Masih Setengah Hati Tangani Pandemi Covid-19

LBH Jakarta Sebut Pemprov DKI Masih Setengah Hati Tangani Pandemi Covid-19

Megapolitan
Kantor Pinjol Ilegal di Kepala Gading Sepi Saat Digerebek, Ternyata Pegawainya WFH

Kantor Pinjol Ilegal di Kepala Gading Sepi Saat Digerebek, Ternyata Pegawainya WFH

Megapolitan
Polisi Sebut Perusahaan Pinjol Ilegal di Kelapa Gading Ancam Nasabah dengan Gambar Porno

Polisi Sebut Perusahaan Pinjol Ilegal di Kelapa Gading Ancam Nasabah dengan Gambar Porno

Megapolitan
Korsleting Panel Listrik Instalasi AC, Lantai 15 Gedung Wika Terbakar

Korsleting Panel Listrik Instalasi AC, Lantai 15 Gedung Wika Terbakar

Megapolitan
Gerebek Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading, Polisi Amankan 4 Karyawan

Gerebek Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading, Polisi Amankan 4 Karyawan

Megapolitan
Kondisi Mahasiswa yang Dibanting Polisi Saat Demo: Jauh Lebih Baik, Masih Harus Kontrol Kesehatan

Kondisi Mahasiswa yang Dibanting Polisi Saat Demo: Jauh Lebih Baik, Masih Harus Kontrol Kesehatan

Megapolitan
Polisi Tangkap Penusuk Remaja yang Sedang Pacaran di Tambun Utara

Polisi Tangkap Penusuk Remaja yang Sedang Pacaran di Tambun Utara

Megapolitan
Polisi Gerebek Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading, Kelola 4 Aplikasi

Polisi Gerebek Kantor Pinjol Ilegal di Kelapa Gading, Kelola 4 Aplikasi

Megapolitan
Sekolah Tatap Muka di Depok, Satu Siswa SMPN 10 Positif Covid-19

Sekolah Tatap Muka di Depok, Satu Siswa SMPN 10 Positif Covid-19

Megapolitan
Pemprov DKI Siagakan 67 Pompa di Underpass Antisipasi Banjir

Pemprov DKI Siagakan 67 Pompa di Underpass Antisipasi Banjir

Megapolitan
Bamus Betawi Apresiasi Langkah Cepat Polisi Tangkap Pelaku Penghinaan

Bamus Betawi Apresiasi Langkah Cepat Polisi Tangkap Pelaku Penghinaan

Megapolitan
Pemkot Tangsel Berencana Sediakan Bahasa Isyarat di Pusat Pelayanan Publik

Pemkot Tangsel Berencana Sediakan Bahasa Isyarat di Pusat Pelayanan Publik

Megapolitan
Ketua DPRD DKI: Saya Sangat Menantikan Dipanggil Badan Kehormatan

Ketua DPRD DKI: Saya Sangat Menantikan Dipanggil Badan Kehormatan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.