Bocah Penderita Tumor Mata Diizinkan Naik Lion Air, tapi Ditolak Batik Air - Kompas.com

Bocah Penderita Tumor Mata Diizinkan Naik Lion Air, tapi Ditolak Batik Air

Kompas.com - 11/08/2018, 14:31 WIB
Proses bagasi Batik Air di terminal baru Bandara Ahmad Yani, Semarang, Kamis (19/7/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Proses bagasi Batik Air di terminal baru Bandara Ahmad Yani, Semarang, Kamis (19/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Yuni, relawan yang mendampingi bocah penderita tumor mata, Piki Ananda heran dengan kebijakan manajemen Batik Air yang tidak memperbolehkan mereka untuk menaiki maskapai penerbangan tersebut.

Yuni, Piki dan ibunya pada Jumat (10/8/2018), tidak diizinkan oleh manajemen Batik Air menaiki pesawat tersebut dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.

Alasan yang disampaikan, kondisi Piki dianggap menganggu kenyamanan penumpang lainnya.

Padahal, kata Yuni, saat berangkat dari Medan ke Jakarta, ketiganya menggunakan maskapai penerbangan Lion Air yang merupakan induk perusahaan dari Batik Air.

Kondisi Piki saat di Medan juga sama seperti di Jakarta. Namun, kebijakan yang diambil Batik Air berbeda dan dinilai sangat mengecewakan.

"Tapi saya heran, kenapa kami dari Medan ke Jakarta itu bisa terbang. Itu naik Lion Air. Saya juga di sana minta (rekomendasi) dari dokter karantina dan katanya laik terbang," ujar Yuni saat ditemui Kompas.com di Jakarta Pusat, Jumat malam.

Yuni mengatakan, prosedur yang dilalui di Medan sama seperti di Jakarta. Piki terlebih dahulu diperiksa oleh dokter yang berada di unit kesehatan bandara.

Dokter kemudian memberikan rekomendasi medis bahwa Piki laik terbang. Tanpa butuh waktu lama, ketiganya terbang ke Jakarta pada 30 Juli.

Namun, kata Yuni, perlakuan berbeda didapatkan saat menaiki penerbangan Batik Air. Meski Piki telah mengantongi rekomendasi medis dari dokter yang memeriksanya di bandara, anak usaha Lion Air ini tetap tidak mengizinkan Piki untuk terbang kembali ke kampung halamannya.

Alasannya karena mempertimbangkan kenyamanan para penumpang pesawat. Tumor mata yang diderita Piki dianggap mengeluarkan bau menyengat.

"Makanya saya pertanyakan kenapa di sini sudah ada surat karantina (laik terbang), kami enggak boleh terbang? Kami ada buktinya kenapa kami bisa kemari (ke Jakarta)," ujar Yuni.

"Harusnya ada toleransi lah, jangan main suka-sukanya turunin. Kerta (rekomendasi dokter) enggak dikasih, seharunya kan ada," lanjut Yuni.

Manajemen Batik Air mengkonfirmasi bahwa apa yang dilakukan manajemennya telah melalui prosedur.

Corporate Communication Strategic of Batik Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan, petugas terlebih dahulu menanyakan kondisi Piki Ananda dan kemudian meminta ketiga penumpang untuk turun dan melapor ke customer service.

Piki juga telah diperiksa di karantina.

Danang mengakui bahwa Dewi telah memberikan surat kelaikan terbang dan petugas telah memeriksa surat tersebut.

Namun, kata Danang, dengan mempertimbangkan kenyamanan penumpang lainnya, Batik Air tetap tidak bisa mengizinkan Piki untuk menaiki penerbangan itu.

Pihak manajemen Batik Air telah mengembalikan biaya tiket ketiga penumpang tersebut.

"Batik Air menjelaskan, berdasarkan pertimbangan faktor kenyamanan penerbangan, maka tidak bisa memberangkatkan kembali pada penerbangan berikutnya," ujar Danang melalui keterangan resmi yang diterima Kompas.com.


Terkini Lainnya

Pemkot Jakbar Bangun Ruang Publik di Kawasan CNI Kembangan Jakbar

Pemkot Jakbar Bangun Ruang Publik di Kawasan CNI Kembangan Jakbar

Megapolitan
500 Lebih Bangunan di Jakarta Barat Disebut Menyalahi IMB

500 Lebih Bangunan di Jakarta Barat Disebut Menyalahi IMB

Megapolitan
Sekjen PKS: Kebijakan Pemerintah Saat Ini Memberatkan Rakyat

Sekjen PKS: Kebijakan Pemerintah Saat Ini Memberatkan Rakyat

Nasional
5 Mobil dan 1 Motor Terlibat Kecelakaan Beruntun di 'Flyover' Pekanbaru

5 Mobil dan 1 Motor Terlibat Kecelakaan Beruntun di "Flyover" Pekanbaru

Regional
Bikin Kuis Berhadiah Tanah di Siberia, Menteri Rusia Dihujani Kritik

Bikin Kuis Berhadiah Tanah di Siberia, Menteri Rusia Dihujani Kritik

Internasional
Sohibul Iman Absen Pemeriksaan Polisi soal Laporan Fahri Hamzah

Sohibul Iman Absen Pemeriksaan Polisi soal Laporan Fahri Hamzah

Megapolitan
BNN Tangkap Oknum TNI yang Diduga Jadi Kurir 63.573 Butir Ekstasi

BNN Tangkap Oknum TNI yang Diduga Jadi Kurir 63.573 Butir Ekstasi

Nasional
Tangkal Penyelundupan Narkoba, BNN Jalin Kerja Sama Lintas Negara

Tangkal Penyelundupan Narkoba, BNN Jalin Kerja Sama Lintas Negara

Nasional
Sebelum Ditangkap, Bupati Bekasi Sempat Peringatkan Bawahan untuk Hati-hati terhadap Korupsi

Sebelum Ditangkap, Bupati Bekasi Sempat Peringatkan Bawahan untuk Hati-hati terhadap Korupsi

Megapolitan
Ini Tiga Persenjataan Militer yang Mungkin Dibeli Taiwan dari AS

Ini Tiga Persenjataan Militer yang Mungkin Dibeli Taiwan dari AS

Internasional
Hampir 12 Jam Setelah Ditangkap, Bupati Bekasi dan Bos Lippo Masih Diperiksa KPK

Hampir 12 Jam Setelah Ditangkap, Bupati Bekasi dan Bos Lippo Masih Diperiksa KPK

Nasional
Mekanik Perbaiki Mobil Sambil Merokok, Avanza Terbakar

Mekanik Perbaiki Mobil Sambil Merokok, Avanza Terbakar

Regional
Seorang WNA Ditemukan Tewas Berlumuran Darah di Ruang Tamu Rumahnya

Seorang WNA Ditemukan Tewas Berlumuran Darah di Ruang Tamu Rumahnya

Megapolitan
Mengintip Hobi Unik Nira Prakasita, Sarjana Fisika Kolektor Aneka Singa

Mengintip Hobi Unik Nira Prakasita, Sarjana Fisika Kolektor Aneka Singa

Regional
3 Minggu Razia, Polisi Garut Tilang 2.328 Pelanggar Lalu Lintas

3 Minggu Razia, Polisi Garut Tilang 2.328 Pelanggar Lalu Lintas

Regional
Close Ads X