Tentang Marah yang Menghancurkan Kita - Kompas.com

Tentang Marah yang Menghancurkan Kita

Irwan Suhanda
Kompas.com - 28/06/2017, 08:58 WIB
Thomas Northcut Ilustrasi.

Di sebuah kantor di Jakarta, tanpa sengaja saya berjumpa dengan teman perempuan semasa duduk di bangku SMP.

Setelah berbincang, ternyata ia bekerja juga di kantor yang sama dengan saya, tetapi lain divisi. Ia sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Di kantor itu beberapa kali kami berpapasan, saling menyapa.

Singkat cerita, ia curhat soal dirinya dan suaminya, terutama saat mereka bertengkar. Ia mengakui kalau dirinya memiliki karakter mudah marah dan emosional, istilahnya “panasan”.

Karakter mudah marah ini yang sering memicu pertengkaran dengan suaminya. Sebaliknya, suaminya sebagai kepala keluarga tidak mau kalah juga.

Pertengkaran sering tidak bisa dihindari. Dari soal melepas baterai pager (alat komunikasi sebelum handphone) milik suaminya agar tidak bisa komunikasi, hingga soal kunci motor yang disembunyikan.

Pertengkaran paling sengit terjadi di rumahnya sendiri. Mereka saling berteriak dan serba menyalahkan satu dengan yang lain.

Akhirnya, teman saya ini membanting barang yang ada di dekatnya, kemudian menarik taplak meja yang di atasnya penuh makanan dan piring serta benda lain. Hancur berantakan di lantai.

Suaminya kemudian membalas, ia segera menarik selang air dan menyemprotkan air ke istrinya dan ke semua ruangan! Rumah dalam sekejap hancur berantakan dan basah, penuh genangan air.

Sampai di situ saya tidak tahu bagaimana cerita selanjutnya karena teman saya ini sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya dan tidak pernah kontak lagi dengan saya.

Ada lagi cerita lain. Informasi ini saya dengar dari saudara sendiri.

Adalah sebuah keluarga di kota kecil, usahanya berjualan di pasar. Suami istri ini sering bertengkar pula. Terutama sang suami yang temperamental dan ringan tangan. Istrinya sering dimarahi kalau salah, bahkan dipukuli hingga biru lebam.

Parahnya, suatu hari ketika mereka ribut besar, suaminya benar-benar kalap. Selain memaki-maki, juga memukuli istrinya sekenanya.

Suaminya juga mengobrak-abrik benda-benda yang ada di dekatnya. Bahkan televisi satu-satunya hiburan keluarga, dibanting ke dalam got di depan rumah hingga hancur lebur!

Beberapa bulan mereka tidak dapat menonton karena belum mampu membeli televisi lagi.

Emosi dasar manusia

Pendiri aliran psikologi behaviorisme John B. Watson menyebutkan bahwa manusia memiliki tiga emosi dasar, yaitu takut, marah, dan kasih sayang.

Sedangkan, tim ilmuwan dari Universitas Glasgow, Skotlandia, dalam penelitiannya yang dimuat Jurnal Current Biology mengatakan ada empat emosi dasar manusia, yaitu bahagia, sedih, takut, dan marah.

Lain lagi menurut Richard G. Warga dalam bukunya Personal Awareness: A Psychology of Adjustment membagi manusia dalam lima emosi dasar, yaitu senang, sedih, cinta, takut, dan marah.

Ada lagi pendapat lain tentang emosi ini, Daniel Goleman mengatakan ada delapan jenis emosi, yaitu marah, sedih, takut, nikmat, cinta, terkejut, jengkel, dan malu.

Pendapat para ahli psikologi tersebut menjelaskan bahwa marah termasuk emosi dasar. Marah juga berkaitan erat dengan agresi dan kekerasan. Oleh karena itu, bila marah sudah mengarah ke agresi maka akan bersifat destruktif.

Selanjutnya marah yang tak terkendali akan merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Ahli filsafat Aristoteles (384-322 SM) mengatakan: siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, tidaklah mudah.

Faktor timbulnya amarah

Marah memiliki dua tipe, marah implisit (anger in) dan marah eksplisit (anger out). Marah anger in bentuk marah pada diri sendiri yang bisa berakibat depresi dan timbulnya rasa benci.

Sedangkan marah anger out bentuk marah yang ditujukan pada orang lain atau perusakan benda-benda sekitarnya (Andetyowati Nastiti, dkk, 2014).

Marah anger out  adalah perilaku marah yang dieskpresikan dengan melukai secara psikis pada orang yang menjadi sasaran. Contohnya adalah ucapan yang menyinggung perasaan, memaki-maki, menghina, merendahkan, memperlakukan berbeda, menyepelekan.

Sedangkan marah anger out  melukai secara fisik. Ekspresinya adalah menampar, meludahi, menjambak, menendang, memukul.

Tetapi ada juga amarah yang terjadi begitu saja pada pribadi tertentu. Ada orang yang mudah marah, yang kita sebut pemarah.

Orang seperti ini bisa marah-marah dalam berbagai situasi, di mana saja, kapan saja. Emosinya meledak-ledak tanpa peduli orang-orang sekitarnya.

Orang seperti ini biasanya tidak boleh tersinggung sedikit pun. Sekali tersinggung, timbul amarah dengan segala tuduhannya dan dengan suaranya yang kencang. Siapa saja bisa kena semprot.

Gangguan kepribadian

Orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya serta selalu menuduh orang sekitarnya sebagai penyebab masalah, bisa jadi orang ini mengalami gangguan kepribadian antisosial.

Gangguan kepribadian antisosial merupakan kepribadian yang cenderung menyalahkan orang atas semua masalah yang terjadi pada dirinya. Kemudian mengintimidasi orang sekitarnya tanpa menyesali kelakuannya ini.

Ciri yang paling parah adalah tidak bisa mengendalikan amarah yang meledak-ledak.

Menurut Rita Atkinson pada buku Pengantar Psikologi 2 (1993) gangguan kepribadian seperti ini biasanya muncul pada masa remaja dan dapat berlangsung sepanjang hidup.

Tetapi gangguan kepribadian berbeda dengan gangguan jiwa. Gangguan kepribadian masih bisa bekerja, tetapi gangguan jiwa tidak bisa bekerja.

Gangguan kepribadian lainnya di antaranya adalah schizotypal, schizoid, paranoid, borderline, narcissistic, histrionic, dependent, avoidant, obsessive compulsive, explosive, progressive.

Menurut penelitian pakar anger management Jerry Deffenbacher Ph D,  orang yang terlahir mudah marah biasanya karena pengaruh genetik dan faktor sosiokultural (budaya) yang diperoleh dari proses belajar.

Penelitian efek marah

Sebuah penelitian yang dimuat di The European Heart Journal Acute Cardiovascular Care menjabarkan hasil penelitian terhadap 313 pasien yang terkena serangan jantung.

Mereka diminta mengisi kuesioner tentang tingkat kemarahan yang dialami dalam waktu 48 jam sebelumnya.

Hasil dari analisis kuesioner tersebut, sering marah-marah akan meningkatkan risiko terkena serangan jantung 8,5 kali lebih tinggi setelah 2 jam mereka marah-marah.

Jadi, seorang pemarah lebih rentan terkena serangan jantung karena ketidakstabilan emosi. Selain itu, mereka yang memiliki kecemasan tinggi juga berisiko terkena serangan jantung. 

Belum diketahui secara persis bagaimana amarah bisa memicu serangan jantung. Tetapi yang pasti, dugaannya, stres dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, penyempitan pembuluh darah, pemecahan plak, dan pembekuan yang akhirnya terjadi serangan jantung (Gaya Hidup, 2015).

Dampak marah-marah

Emosi marah yang tidak terkontrol akan berdampak negatif. Dampaknya pada faktor psikologis, hubungan sosial, dan kesehatan.

Dampak kerugiannya yaitu jantung berdebar lebih keras, tekanan darah meningkat, cepat lelah, daya tahan tubuh menurun, hati tidak bahagia, tambah musuh, perasaan terluka, tidak bahagia, timbul masalah baru, sakit kepala, rentan terkena serangan jantung, stroke, emosi meninggi, merusak barang, depresi, bunuh diri, anarkistis, berbuat kriminal.

Tips mengelola marah

Mengelola marah dipandang perlu agar tidak bertindak destruktif dan merugikan semua pihak.

Tips sederhana yang diperoleh dari berbagai sumber sebagai berikut: sebelum marah tariklah napas yang panjang, coba sabar beberapa detik, tenangkan diri, diam sejenak, fokus pada diri sendiri, hilangkan dendam, coba bercanda, relaksasi, meditasi, berpikir sebelum bicara, curhat.

EditorHeru Margianto
Komentar