Catatan Prestasi Pembangunan Jakarta 5 Tahun Terakhir - Kompas.com

Catatan Prestasi Pembangunan Jakarta 5 Tahun Terakhir

Nursita Sari
Kompas.com - 13/10/2017, 09:37 WIB
Pasangan calon gubernur-wakil gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dengan Djarot Saiful Hidayat, saat menyampaikan keterangan pers usai menelan kekalahan berdasar hasil quick count sejumlah lembaga survei putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (19/4/2017).Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Pasangan calon gubernur-wakil gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dengan Djarot Saiful Hidayat, saat menyampaikan keterangan pers usai menelan kekalahan berdasar hasil quick count sejumlah lembaga survei putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (19/4/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta periode 2012-2017 dipimpin oleh tiga gubernur. Kepemimpinan diawali oleh Presiden Joko Widodo, dilanjutkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hingga Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.

Lalu, bagaimana pembangunan Kota Jakarta di bawah kepemimpinan tiga gubernur tersebut?

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengatakan, ada beberapa prestasi yang dilakukan ketiganya dalam membangun Ibu Kota.

Keberhasilan yang dilakukan Jokowi saat menjadi gubernur yakni revitalisasi Taman Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio. Warga yang di sekitar sana kemudian direlokasi ke rumah susun peninggalan mantan Gubernur Fauzi Bowo.

Nirwono menyebut, penataan kedua waduk dan warga yang tinggal di sana pun belum sepenuhnya tuntas.

"Jokowi di awal beliau keberhasilan yang kami catat tentu ada keberhasilan revitalisasi Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio kemudian memindahkan warga ke rumah susun," ujar Nirwono kepada Kompas.com, Kamis (12/10/2017).

Baca: Opini WTP yang Tak Pernah Sekali Pun Diraih Jokowi-Ahok-Djarot...

Di sektor transportasi, lanjut Nirwono, Jokowi berhasil melakukan groundbreaking pembangunan mass rapid transit (MRT). Jokowi bisa mengeksekusi pola makro transportasi terpadu yang sudah disiapkan sejak zaman mantan Gubernur Sutiyoso.

Era Ahok

Tongkat kepemimpinan berlanjut kepada Ahok setelah Jokowi menjadi presiden. Menurut Nirwono, salah satu prestasi Ahok yakni melakukan reformasi birokrasi.

Meski begitu, yang menjadi catatan Nirwono yakni reformasi birokrasi itu belum diiringi dengan penyerapan anggaran maksimal, hanya berkisar antara 45-65 persen selama lima tahun terakhir. Penyerapan anggaran pun lebih banyak dihabiskan untuk operasional kantor dan modal badan usaha milik daerah (BUMD).

"Berarti catatannya adalah SKPD (satuan kerja perangkat daerah) meskipun ada reformasi birokrasi, ternyata belum bekerja maksimal sehingga banyak sekali proyek-proyek yang masih tertunda, gagal lelang sehingga tidak terserap dengan baik," kata Nirwono.

Prestasi Ahok yang lainnya yakni melakukan normalisasi Sungai Ciliwung dengan merelokasi warga Kampung Pulo dan Bukit Duri, menata Kampung Akuarium di Pasar Ikan, dan menata Kawasan Kalijodo. Ahok juga banyak merelokasi warga ke rumah susun.

Baca: Kampung Deret, Janji Kampanye Jokowi-Ahok yang Tak Terwujud

Dalam sektor transportasi dan lalu lintas, Nirwono menyebut Ahok mengganti kebijakan 3 in 1 dengan ganjil-genap dan menerapkan pembatasan pelintasan sepeda motor.

"Terus tentu apresiasi diberikan untuk pembangunan RPTRA (ruang publik terpadu ramah anak), meskipun kalau saya catat justru penambahan RTH (ruang terbuka hijau) tidak banyak secara signifikan. RTH-nya bisa dikatakan jalan di tempat," ucapnya.

Kebijakan Ahok lainnya yang juga menjadi prestasi yakni banyaknya perusahaan yang mau membantu pembangunan di Ibu Kota menggunakan dana corporate social responsibility (CSR).

Kepemimpinan di Jakarta juga tidak bisa terlepas dari sosok Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Sumarsono yang pernah dua kali menjadi pelaksana tugas gubernur saat masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Ada terobosan seperti percepatan pembebasan lahan untuk proyek-proyek yang bermasalah seperti pembebasan lahan untuk MRT di Jakarta Selatan, kemudian juga perubahan desain dari moncong kereta api untuk MRT-nya, Pak Sumarsono yang cukup berjasa," kata Nirwono.

Baca: Peninggalan Ahok-Djarot yang Dibangga-banggakan...

Era Djarot

Djarot menjadi penutup pemerintahan periode 2012-2017. Nirwono menilai Djarot banyak menyelesaikan proyek-proyek terusan dari Ahok, seperti penyelesaian dan peresmian RPTRA, Simpang Susun Semanggi, dan Koridor 13 Transjakarta.

Nirwono juga mengapresiasi gagasan Djarot untuk membangun trotoar yang lebar di Jakarta dan perhatian terhadap fungsi trotoar dengan menggelar bulan tertib trotoar dan kampanye #TrotoarKita.

"Apapun itu tetap ada perhatian untuk pembangunan trotoar," ujar Nirwono.

Pembangunan Kota Jakarta selama lima tahun terakhir, lanjut Nirwono, tidak bisa lepas dari keempat sosok tersebut. Kebijakan keempat pemimpin itu menjadi satu kesatuan untuk membenahi Jakarta.

"Secara keseluruhan, saya cukup mengapresiasi, memberikan penilaian paling tidak 7 sampai 7,5 (dari 10)," kata Nirwono.

Baca: Yang Belum Tuntas, Terhenti, dan Gagal pada Era Jokowi-Ahok-Djarot

Kompas TV Rangkaian acara nanti termasuk pidato perdana Gubernur Jakarta di Gedung DPRD.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisNursita Sari
EditorDian Maharani
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM