Kompas.com - 28/08/2013, 22:23 WIB
Pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor. 
KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Para perajin tahu dan tempe berharap pemerintah turut campur tangan dalam mengendalikan tata niaga atau distribusi kacang kedelai. Hal itu dilakukan untuk mengendalikan harga kedelai yang merangkak naik.

Slamet Riyadi, perajin tahu-tempe di RT 10 RW 04, Kelurahan Kampung Rawa Selatan, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, mengatakan, seharusnya pemerintah turut mengurus distribusi kacang kedelai saat ini. Menurut Slamet, saat ini distribusi kedelai dikuasai oleh lima pengimpor swasta dan rawan akan tindak monopoli.

"Kembalikan peran Bulog seperti semula, yang bisa menangani tata niaga sembako, seperti kedelai dan daging," kata Slamet di Pasar Gondangdia, Rabu (28/8/2013).

Saat ini sebanyak 150 ton kacang kedelai sedang dalam perjalanan dari Amerika Serikat. Kedelai impor itu diharapkan sudah sampai ke Indonesia pada akhir bulan Agustus ini atau awal bulan September.

Menurut Slamet, impor kedelai sia-sia jika tidak didasari payung hukum yang jelas. Ia mengatakan, saat ini stok kacang kedelai sebenarnya cukup untuk menutupi kebutuhan beberapa bulan ke depan.

"Percuma impor kalau payung hukum masih tak jelas. Seharusnya kan, stok banyak, harga turun. Ini malah naik," ujarnya.

Slamet mengatakan, dengan melambungnya harga kacang kedelai, usaha yang sudah dirintisnya sejak tahun 1990 ini mengalami penurunan omzet sebesar 40 persen. Jumlah produksinya juga terpaksa diturunkan sekitar 20 sampai 30 persen karena daya beli masyarakat yang terus menurun.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelum harga kacang kedelai merangkak naik, Slamet dapat memproduksi 300 kilogram kacang kedelai per hari untuk dijadikan tahu dan tempe. Setelah harga kacang kedelai naik, ia terpaksa menurunkan jumlah produksi menjadi 250 kilogram kacang kedelai per hari, yang ia buat menjadi 16 lonjor tempe dan 4.000 sampai 5.000 buah tahu.

Para perajin tidak bisa serta-merta menaikkan harga jualnya karena melihat daya beli masyarakat yang sudah rendah. Perajin akhirnya menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tahu-tempe.

"Satu lonjor yang tadinya 8 potong, sekarang jadi 10 potong. Jadinya lebih kecil. Ini karena kita tidak bisa menaikan harga," kata Slamet.

Slamet menjual tempe dengan harga Rp 5.000 per potong dan tahu seharga Rp 500 per buah. Slamet mengatakan, harga kacang kedelai sudah naik sekitar tujuh hari setelah Lebaran, yang tadinya Rp 7.200 menjadi Rp 9.000 per kilogram.

Slamet membeli kacang kedelai untuk memenuhi kebutuhan produksi usahanya melalui sebuah agen di Cikarang. Dalam sekali transaksi, Slamet membeli 10 ton kacang kedelai yang cukup untuk memenuhi produksi usaha tahu-tempe selama sebulan.



Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pasien di Rumah Lawan Covid-19 Melonjak hingga 225 Orang, Kini Tersisa 75 Tempat Tidur

Pasien di Rumah Lawan Covid-19 Melonjak hingga 225 Orang, Kini Tersisa 75 Tempat Tidur

Megapolitan
UPDATE 14 Juni: 396 Pasien Covid-19 Dirawat di Tangsel

UPDATE 14 Juni: 396 Pasien Covid-19 Dirawat di Tangsel

Megapolitan
UPDATE 14 Juni: Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Capai 19.096 Pasien

UPDATE 14 Juni: Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Capai 19.096 Pasien

Megapolitan
Dinkes DKI: Tiga Varian Baru Virus Corona Ditemukan di Jakarta

Dinkes DKI: Tiga Varian Baru Virus Corona Ditemukan di Jakarta

Megapolitan
Pebulu Tangkis Markis Kido Tiba di RS Omni Alam Sutera dalam Kondisi Henti Napas

Pebulu Tangkis Markis Kido Tiba di RS Omni Alam Sutera dalam Kondisi Henti Napas

Megapolitan
Pertemuan Forkopimda Se-DKI Bahas Persiapan Bertemu Presiden Selasa Pagi

Pertemuan Forkopimda Se-DKI Bahas Persiapan Bertemu Presiden Selasa Pagi

Megapolitan
Sidang Rizieq Shihab Kasus Tes Usap RS Ummi Dilanjut Kamis Mendatang dengan Agenda Duplik

Sidang Rizieq Shihab Kasus Tes Usap RS Ummi Dilanjut Kamis Mendatang dengan Agenda Duplik

Megapolitan
Terkendala Zonasi, Anak Berkebutuhan Khusus Kesulitan Masuk Sekolah Impian

Terkendala Zonasi, Anak Berkebutuhan Khusus Kesulitan Masuk Sekolah Impian

Megapolitan
Terjadi Lagi, Truk Tabrak Warung di Ciputat karena Tak Kuat Tanjak Jalan Layang Tol

Terjadi Lagi, Truk Tabrak Warung di Ciputat karena Tak Kuat Tanjak Jalan Layang Tol

Megapolitan
Rumah Dinas Lurah Batu Ampar Jaktim Kebakaran, Api Diduga dari Puntung Rokok

Rumah Dinas Lurah Batu Ampar Jaktim Kebakaran, Api Diduga dari Puntung Rokok

Megapolitan
Gara-gara Sopir Adukan Pungli di Tanjung Priok ke Jokowi, Truk Dilempar Batu

Gara-gara Sopir Adukan Pungli di Tanjung Priok ke Jokowi, Truk Dilempar Batu

Megapolitan
Eks Dirut Garuda Ari Askhara Divonis 1 Tahun Penjara dan Denda Rp 300 Juta, Kejari Pikir-pikir Ajukan Banding

Eks Dirut Garuda Ari Askhara Divonis 1 Tahun Penjara dan Denda Rp 300 Juta, Kejari Pikir-pikir Ajukan Banding

Megapolitan
Hari Ini, 116 Warga di Atas Usia 18 Tahun Disuntik Vaksin Covid-19 di Palmerah

Hari Ini, 116 Warga di Atas Usia 18 Tahun Disuntik Vaksin Covid-19 di Palmerah

Megapolitan
Video Viral Pungli Pakai Kantong Kresek di Pelabuhan Tanjung Priok, Polisi Sebut Kejadian Lama

Video Viral Pungli Pakai Kantong Kresek di Pelabuhan Tanjung Priok, Polisi Sebut Kejadian Lama

Megapolitan
Viral Video Kaca Truk Dirusak, Polisi Sebut Pelakunya Bukan Oknum Pungli

Viral Video Kaca Truk Dirusak, Polisi Sebut Pelakunya Bukan Oknum Pungli

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X