PKL Tanah Abang Sewa Rumah Warga Rp 50 Juta untuk Jualan

Kompas.com - 24/09/2013, 11:15 WIB
Kios pedagang pakaian di Jati Baru yang dinilai menjadi salah satu faktor sepinya Blok G Tanah Abang. Lokasi kios ini tepat di depan Blok G Tanah Abang,Jalan Jati Baru, Jakarta,Minggu (22/9/2013). KOMPAS.COM/SONYA SUSWANTIKios pedagang pakaian di Jati Baru yang dinilai menjadi salah satu faktor sepinya Blok G Tanah Abang. Lokasi kios ini tepat di depan Blok G Tanah Abang,Jalan Jati Baru, Jakarta,Minggu (22/9/2013).
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Baru dua bulan kawasan Pasar Tanah Abang ditertibkan dari pedagang kaki lima (PKL), kini mereka muncul lagi. Ratusan kios tempat berjualan berjejer di rumah-rumah warga di sepanjang Jalan Jati Baru X.

Pantauan Warta Kota, Senin (23/9/2013), plang bertuliskan "Pedagang Binaan Warga Jati Baru" menyambut para pembeli yang ingin berkunjung ke kawasan tersebut. Sepanjang 500 meter di Jalan Jati Baru X dari RW 01 sampai RW 10 berjejer ratusan kios serta puluhan lapak.

Para pedagang kebanyakan menjual barang-barang konveksi seperti busana muslim dan pakaian anak-anak, wanita, dan laki-laki. Berdasarkan penelusuran Warta Kota, pedagang bisa berjualan di situ karena membayar sewa kios Rp 50 juta per tahun.

Hal ini diungkapkan salah satu pedagang kios Jati Baru, Bambang, yang setiap harinya berjualan di kawasan tersebut. Menurut dia, harga sewa Rp 50 juta per tahun sangatlah lumrah. Soalnya, keuntungan yang dia dapatkan ketika berjualan di kawasan Jati Baru bisa mencapai dua kali lipat.

Selain biaya sewa kios, Bambang juga harus membayar biaya listrik dan keamanan Rp 150.000 per bulannya ditambah Rp 1.000 per hari untuk layanan kebersihan.

Di Jati Baru, Bambang berjualan mukena dan kerudung yang harganya bervariasi, mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 65.000 per potong. Setiap harinya, dia mengaku dapat mengantongi Rp 300.000 sampai Rp 500.000.

Pada hari Senin dan Kamis, biasanya dagangan dia laku keras. Dia bisa mengantongi keuntungan per hari Rp 2 juta.

"Namanya dagang kan enggak menentu. Per hari bisa dapat Rp 300.000 lebihlah. Enggak nyesel bayar sewa Rp 50 juta per tahun," kata dia.

Kepala Suku Dinas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Jakarta Pusat Slamet Widodo mengatakan, kawasan perdagangan di Jalan Jati Baru X sudah sering ditertibkan.

"Para pedagang itu salah secara peruntukan karena mereka berdagang di sebuah rumah yang dijadikan kios. Mereka sudah sering ditertibkan, dan tumbuh lagi," kata dia.

Menurutnya, hal tersebut sudah dilaporkan ke Wali Kota Jakarta Pusat. Sebab, perdagangan di Jalan Jati Baru X mengganggu pembeli datang ke Pasar Blok G Tanah Abang yang sepi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jam Operasional Diperpanjang, Pengusaha Mal Tetap Minta Dikecualikan dari Pembatasan

Jam Operasional Diperpanjang, Pengusaha Mal Tetap Minta Dikecualikan dari Pembatasan

Megapolitan
Mulai 5 Februari, Pengecekan Covid-19 dengan GeNose Tersedia di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

Mulai 5 Februari, Pengecekan Covid-19 dengan GeNose Tersedia di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

Megapolitan
Olah TKP Kasus Begal Pesepeda di Jalan Latumenten, Polisi Sisir Kamera CCTV

Olah TKP Kasus Begal Pesepeda di Jalan Latumenten, Polisi Sisir Kamera CCTV

Megapolitan
Dishub DKI Keluarkan SK Juknis Transportasi Selama PSBB Ketat, Pengemudi Ojek Dilarang Berkerumun

Dishub DKI Keluarkan SK Juknis Transportasi Selama PSBB Ketat, Pengemudi Ojek Dilarang Berkerumun

Megapolitan
Jam Operasional Mal Diperpanjang, Pengusaha Harap Bisa Kembalikan Peak Hour

Jam Operasional Mal Diperpanjang, Pengusaha Harap Bisa Kembalikan Peak Hour

Megapolitan
Pesepeda Dibegal di Jalan Latumenten Jakbar, 1 Unit Ponsel Raib

Pesepeda Dibegal di Jalan Latumenten Jakbar, 1 Unit Ponsel Raib

Megapolitan
Dua Pekan Pelaksanaan PSBB Ketat, 237 Tempat Usaha Dijatuhi Sanksi

Dua Pekan Pelaksanaan PSBB Ketat, 237 Tempat Usaha Dijatuhi Sanksi

Megapolitan
33.340 WNA Masuk Indonesia Lewat Bandara Soekarno-Hatta di Masa Pembatasan Kedatangan Warga Asing

33.340 WNA Masuk Indonesia Lewat Bandara Soekarno-Hatta di Masa Pembatasan Kedatangan Warga Asing

Megapolitan
Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Wagub DKI: Tanpa Warga Luar Jakarta, Okupansi RS di Jakarta Hanya 60 Persen

Megapolitan
Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Pemprov DKI Diminta Libatkan Tokoh Agama Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 2.314, Angka Kematian Kembali Tertinggi

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

UPDATE 26 Januari: Ada 46 Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang, 69 Orang Sembuh

Megapolitan
UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

UPDATE 26 Januari: Bertambah 39 Kasus Covid-19 di Tangsel, 3 Pasien Meninggal

Megapolitan
Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Polisi Masih Lengkapi Berkas Perkara Kasus Video Syur Gisel dan Michael Yukinobu

Megapolitan
Ditanya Alasan Beraksi Mesum di Halte Senen, MA: Emang Kenapa?

Ditanya Alasan Beraksi Mesum di Halte Senen, MA: Emang Kenapa?

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X