Kompas.com - 14/10/2013, 11:11 WIB
Bocah bermain perahu yang terbuat dari styrofoam di Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (24/01/2013). Mereka bermain di genangan air akibat meluapnya waduk Pluit. KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTOBocah bermain perahu yang terbuat dari styrofoam di Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (24/01/2013). Mereka bermain di genangan air akibat meluapnya waduk Pluit.
EditorEko Hendrawan Sofyan

JAKARTA, KOMPAS.com —
Hujan deras beberapa jam yang mengguyur Jakarta pada Sabtu malam langsung menimbulkan genangan di sejumlah ruas jalan. Selain gencar memperbaiki saluran, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana melanjutkan modifikasi cuaca untuk mengurangi curah hujan.

Sejumlah ruas jalan di Jakarta Barat, seperti Jalan Arjuna Utara dan Jalan Joglo Raya, tergenang di beberapa tempat. Genangan juga terjadi di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Meski menggenangi sejumlah ruas jalan, permukiman masih aman dari genangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta tak mencatat terjadinya genangan di permukiman.

”Setelah hujan deras Sabtu malam, semua pintu air masih pada level Siaga IV atau Normal. Tidak dilaporkan adanya genangan tinggi di permukiman,” kata Kepala Seksi Informatika BPBD DKI Jakarta Bambang Surya Putra, Minggu (13/10/2013).

Peringatan dini

BPBD DKI Jakarta selaku otoritas terkait mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Jabodetabek pada 13 Oktober berdasarkan hasil pantauan radar cuaca pukul 16.00. Diperkirakan terjadi peningkatan aktivitas pembentukan awan hujan yang berpotensi hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir. Warga yang tinggal di wilayah timur, utara, dan selatan Jakarta diharapkan waspada.

Akhir pekan lalu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengungkapkan rencana untuk melanjutkan modifikasi cuaca yang dinilai mampu mengurangi curah hujan di Ibu Kota. Pemprov DKI Jakarta bakal mengalokasikan Rp 18 miliar dari APBD untuk modifikasi cuaca.

Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, modifikasi cuaca memberikan pengaruh besar karena mengurangi hujan atau menyingkirkan hujan ke daerah lain.

Menurut rencana, modifikasi cuaca akan dilakukan saat puncak musim hujan Januari-Maret 2014. Jokowi berharap, dengan modifikasi cuaca, ditambah program normalisasi waduk, sungai, dan saluran, Jakarta tidak akan dilanda banjir besar.

Ketua Program Magister Departemen Geografi FMIPA Universitas Indonesia Tarsoen Waryono mengatakan, modifikasi cuaca, yaitu dengan mendatangkan ataupun mencegah hujan, hanya untuk jangka pendek dan tidak bisa dilakukan terus-menerus.

Namun, menurut dia, modifikasi cuaca adakalanya memang perlu dilakukan. Dampak positif dari modifikasi cuaca, yaitu dalam jangka pendek, akan ada pasokan air atau mencegah turunnya hujan sehingga air yang tersedia di daratan tak berlimpah ataupun kekurangan. Dampak negatifnya, hujan hasil modifikasi bersifat asam. Hujan asam bisa memicu kerusakan pada daun atau pohon dan tanah.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, modifikasi cuaca hanya dilakukan jika daya serap tanah di Jakarta tak memadai untuk menampung curah hujan. Bisa jadi hujan dialihkan ke laut.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PSI Minta Anies Tinjau Langsung Lokasi Sirkuit Formula E di Ancol

PSI Minta Anies Tinjau Langsung Lokasi Sirkuit Formula E di Ancol

Megapolitan
14 Warga Cilandak Positif Omicron, Camat Sebut Terpapar Setelah Bepergian ke Luar Negeri

14 Warga Cilandak Positif Omicron, Camat Sebut Terpapar Setelah Bepergian ke Luar Negeri

Megapolitan
Kasus Covid-19 Melonjak, Pemkot Tangerang Hendak Terapkan Aturan WFH 50 Persen

Kasus Covid-19 Melonjak, Pemkot Tangerang Hendak Terapkan Aturan WFH 50 Persen

Megapolitan
Gulungan Kulit Kabel di Gorong-gorong Jadi Salah Satu Penyebab Banjir

Gulungan Kulit Kabel di Gorong-gorong Jadi Salah Satu Penyebab Banjir

Megapolitan
Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Ini yang Dilakukan RSUI Depok

Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Ini yang Dilakukan RSUI Depok

Megapolitan
Beredar, Video Tawuran Antarpelajar Bawa Senjata Tajam di Jatinegara, Polisi: Video Lama

Beredar, Video Tawuran Antarpelajar Bawa Senjata Tajam di Jatinegara, Polisi: Video Lama

Megapolitan
Kelakuan Pembeli Borong Minyak Goreng Rp 14.000, Ajak Sekeluarga karena Pembelian Dibatasi

Kelakuan Pembeli Borong Minyak Goreng Rp 14.000, Ajak Sekeluarga karena Pembelian Dibatasi

Megapolitan
Polda Metro Jaya Sebut Belum Ada Wacana Hentikan Sementara Aturan Ganjil Genap

Polda Metro Jaya Sebut Belum Ada Wacana Hentikan Sementara Aturan Ganjil Genap

Megapolitan
51 Guru dan Siswa di Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong Positif Covid-19

51 Guru dan Siswa di Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong Positif Covid-19

Megapolitan
Kronologi Polantas Ditabrak Pemotor yang Terobos Jalur Transjakarta di Simpang PGC

Kronologi Polantas Ditabrak Pemotor yang Terobos Jalur Transjakarta di Simpang PGC

Megapolitan
Sindir Anies Tak Turun Cek Lokasi Formula E, PSI: Padahal ke Warteg Saja Sempat

Sindir Anies Tak Turun Cek Lokasi Formula E, PSI: Padahal ke Warteg Saja Sempat

Megapolitan
Vaksinasi Dosis Ketiga secara 'Door to Door' Jangkau Lansia di Utan Panjang

Vaksinasi Dosis Ketiga secara "Door to Door" Jangkau Lansia di Utan Panjang

Megapolitan
Polisi Masih Dalami Motif Pelaku Bunuh Istrinya di Duren Sawit

Polisi Masih Dalami Motif Pelaku Bunuh Istrinya di Duren Sawit

Megapolitan
Berbincang lewat Zoom dengan Rahmat Effendi yang Ditahan KPK, Golkar Bekasi Klaim Tak Langgar Aturan

Berbincang lewat Zoom dengan Rahmat Effendi yang Ditahan KPK, Golkar Bekasi Klaim Tak Langgar Aturan

Megapolitan
Berlokasi di Dekat Klaster Covid-19 Krukut, SMKN 35 Hentikan PTM karena Temuan Kasus Positif

Berlokasi di Dekat Klaster Covid-19 Krukut, SMKN 35 Hentikan PTM karena Temuan Kasus Positif

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.