Kompas.com - 19/02/2014, 14:46 WIB
Sejumlah penumpang KRL jurusan Bogor berdesakan saat berhenti menaikan penumpang di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2012) sore. Akibat hujan deras yang mengguyur Bogor,Jawa Barat, membuat genangan air sampai ke rel terjadi di antara Stasiun Bojonggede hingga Bogor. Imbas dari itu, semua perjalanan KRL hanya sampai Depok.  BERITA kOTA/ANGGA BN Sejumlah penumpang KRL jurusan Bogor berdesakan saat berhenti menaikan penumpang di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2012) sore. Akibat hujan deras yang mengguyur Bogor,Jawa Barat, membuat genangan air sampai ke rel terjadi di antara Stasiun Bojonggede hingga Bogor. Imbas dari itu, semua perjalanan KRL hanya sampai Depok.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Pengguna kereta listrik (KRL) Jabodetabek beranggapan, permasalahan yang terjadi pada kereta komuter merupakan masalah klasik. Sebab, masalah tersebut terus berulang tanpa ada perbaikan.

Hal itu terungkap pada diskusi yang diselenggarakan Ombudsman Indonesia, di Stasiun Juanda, Rabu (19/2/2014). Diskusi itu mempertemukan para pengguna kereta komuter dengan pengelola PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ).

Dari ragam permasalahan yang dipetakan oleh Ombudsman Indonesia, permasalahan yang kerap terjadi pada KCJ misalnya matinya AC di dalam gerbong, tidak adanya pemecah kaca dalam keadaan darurat, rute petunjuk KRL berupa nama-nama stasiun yang disinggahi, serta pengumuman yang sering tidak jelas. Permasalahan lain juga ada pada fasilitas stasiun, seperti eskalator mati dan atap bocor.

"Pertanyaan kami, butuh berapa lama menyelesaikan masalah klasik itu," tanya Haris dari komunitas pengguna jasa kereta komuter, KRLMania.

Haris menuturkan, masalah alat persinyalan rusak dan keterlambatan kereta adalah hal yang lumrah terjadi. Namun, tak ada penanganan dari pihak KCJ.

Hal yang sama juga dipertanyakan oleh Dewi, pengguna kereta komuter Bekasi-Jakarta Kota. Selain keterlambatan, pengguna kereta juga kerap diuji dengan kepadatan penumpang dalam gerbong, terutama jam sibuk pada pagi hari orang berangkat ke kantor.

"Kalau berangkat pagi, hanya Tuhan yang tahu rasanya seperti apa. Overload luar biasa," ucapnya.

Dengan kepadatan penumpang demikian, pengguna lain, Aditya, mengibaratkan masuk ke gerbong komuter bagai berada di dalam koper baju yang didesak masuk seenaknya. "Enggak ada beda manusia dengan barang. Kita manusia, tapi berdesak-desak. Saya juga kalau lagi ngepak barang berdesak-desak," katanya.

Dalam kondisi demikian, katanya lagi, banyak penumpang yang akhirnya terjatuh atau pingsan.

Direktur Komersial dan Humas PT KAI Commuter Jabodetabek Makmur Syaheran mengakui bahwa pelayanan KCJ belum maksimal. Adapun penyejuk gerbong (AC) sekitar 20 persen saat ini sedang rusak. Perihal AC rusak ini, menurutnya, terjadi karena sulitnya suku cadang yang tersedia. Tetapi, pihaknya tetap berusaha untuk mencari solusinya segera.

Pada kesempatan itu, Makmur memberikan kabar baik bahwa dalam waktu dekat akan ditambah gerbong pada rangkaian kereta. Jika biasanya satu rangkaian terdapat delapan gerbong, maka akan ditambah dua gerbong lagi dalam satu rangkaian. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan serta-merta karena stasiun pun memerlukan penyesuaian peron.

"Paling tidak sampai akhir 2014 kita akan menambah rangkaian gerbong kereta," tuturnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ada Kasus Covid-19 di SMA Kota Tangerang, Disdik Banten: Bukan Klaster Sekolah

Ada Kasus Covid-19 di SMA Kota Tangerang, Disdik Banten: Bukan Klaster Sekolah

Megapolitan
3 Siswa dan 2 Guru di SMAN 86 Jakarta Terkonfirmasi Positif Covid-19

3 Siswa dan 2 Guru di SMAN 86 Jakarta Terkonfirmasi Positif Covid-19

Megapolitan
Pasien Omicron yang Meninggal di RS Sari Asih Dimakamkan di TPU Jombang

Pasien Omicron yang Meninggal di RS Sari Asih Dimakamkan di TPU Jombang

Megapolitan
Tiga Siswa dan Dua Guru Terpapar Covid-19, SMAN 86 Gelar Tes 'Swab' Massal

Tiga Siswa dan Dua Guru Terpapar Covid-19, SMAN 86 Gelar Tes "Swab" Massal

Megapolitan
Upacara Kremasi Kakek 89 Tahun yang Tewas Dikeroyok Penuh Haru, Keluarga Tak Mampu Bendung Kesedihan

Upacara Kremasi Kakek 89 Tahun yang Tewas Dikeroyok Penuh Haru, Keluarga Tak Mampu Bendung Kesedihan

Megapolitan
Diduga Korban KDRT, Wanita Ini Ditahan Polda Metro Jaya Usai Dilaporkan Suaminya

Diduga Korban KDRT, Wanita Ini Ditahan Polda Metro Jaya Usai Dilaporkan Suaminya

Megapolitan
2 Muridnya Positif Covid-19, SMPN 77 Jakpus Langsung Swab Tes Massal

2 Muridnya Positif Covid-19, SMPN 77 Jakpus Langsung Swab Tes Massal

Megapolitan
Polisi Sebut 5 Tersangka Pengeroyok Kakek 89 Tahun Tak Ada Kaitannya dengan Urusan Sengketa Tanah Korban

Polisi Sebut 5 Tersangka Pengeroyok Kakek 89 Tahun Tak Ada Kaitannya dengan Urusan Sengketa Tanah Korban

Megapolitan
Melonjak, Kasus Aktif Covid-19 di Kota Bekasi Bertambah 654 dalam Sepekan

Melonjak, Kasus Aktif Covid-19 di Kota Bekasi Bertambah 654 dalam Sepekan

Megapolitan
Ditemukan Kasus Covid-19, 7 SMA di Kota Tangerang Batalkan PTM

Ditemukan Kasus Covid-19, 7 SMA di Kota Tangerang Batalkan PTM

Megapolitan
Dirut Jakpro Sebut Tender Pembangunan Sirkuit Formula E Tak Gagal tapi Diulang

Dirut Jakpro Sebut Tender Pembangunan Sirkuit Formula E Tak Gagal tapi Diulang

Megapolitan
Beberapa Pengeroyok Kakek 89 Tahun di Cakung Belum Tertangkap, Polisi Pegang Data Kendaraan

Beberapa Pengeroyok Kakek 89 Tahun di Cakung Belum Tertangkap, Polisi Pegang Data Kendaraan

Megapolitan
Rumah Jaelani di Pegangsaan Dua Jadi Pilot Project 'Bedah Rumah' oleh Polsek Wilayah Jakarta Utara

Rumah Jaelani di Pegangsaan Dua Jadi Pilot Project "Bedah Rumah" oleh Polsek Wilayah Jakarta Utara

Megapolitan
Dua Siswanya Terpapar Covid-19, SMPN 77 Cempaka Putih Tetap PTM

Dua Siswanya Terpapar Covid-19, SMPN 77 Cempaka Putih Tetap PTM

Megapolitan
18 Sekolah di 4 Kecamatan Jakpus Ditutup Sementara akibat Siswa Positif Covid-19

18 Sekolah di 4 Kecamatan Jakpus Ditutup Sementara akibat Siswa Positif Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.