Kok Harga Kerak Telor di PRJ Monas Lebih Mahal dari PRJ Kemayoran?

Kompas.com - 11/06/2014, 16:00 WIB
Seorang pedagang kerak telor di area Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7/2013). KOMPAS.com/FABIANUS JANUARIUS KUWADOSeorang pedagang kerak telor di area Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7/2013).
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com — Ternyata tak semua pedagang kerak telor di Pekan Rakyat Jakarta (PRJ) Monas mematuhi instruksi Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama untuk menjual dagangannya di bawah Rp 9.000. Saat Kompas.com mencoba mengelilingi PRJ Monas, banyak pedagang kerak telor yang tersebar di sana. Ada yang berdagang di dalam stan Pemprov DKI, ada juga yang di luar.

Kadir (53), seorang pedagang kerak telor di lapangan Silang Barat Monas, menjual kerak telor ayam seharga Rp 20.000 dan telor bebek seharga Rp 25.000. Ia mengaku mengambil kesempatan gratis biaya sewa lokasi dagang di sana.

"Yah, kebetulan tempatnya gratis, kapan lagi kan," kata Kadir, kepada wartawan, di Monas, Jakarta, Rabu (11/6/2014).

Tak hanya Kadir, Sudewo (38) juga mempergunakan kesempatan itu untuk meraup keuntungan setinggi-tingginya. Sudewo yang sehari-hari berdagang kerak telor di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, ini lebih memilih berdagang di PRJ Monas daripada di Jakarta Fair Kemayoran. Sebab, untuk berdagang di Jakarta Fair, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 150.000 per harinya sebagai sewa lokasi. Sudewo menjual kerak telor ayam seharga Rp 15.000, sementara kerak telor bebek Rp 20.000.

Saat Kompas.com mencoba menyambangi pedagang kerak telor yang berada di dalam stan Pemprov DKI, harganya sudah diseragamkan. Pedagang kerak telor resmi yang telah didata oleh Pemprov DKI adalah mereka yang menempelkan harga di bakul dagangannya.

Hal ini terlihat pada dagangan milik Amiruddin (52). Pada bakul jinjingannya telah tertera harga kerak telor ayam Rp 10.000 dan kerak telor bebek Rp 15.000. "Kita sudah daftar ke DKI untuk berdagang di sini. Alhamdulillah, sehari kemarin sudah laku 15 kerak telor ayam dan bebek," kata Amiruddin yang biasa berdagang di kawasan Warung Buncit itu.

Alisa, salah seorang pengunjung PRJ Monas asal Kemayoran, mengaku menyesal telah membeli kerak telor dari pedagang kaki lima (PKL). Ia membeli kerak telor bebek seharga Rp 25.000. Ia lantas membanding-bandingkan harga kerak telor di PRJ Monas dengan Jakarta Fair Kemayoran.

"Kemarin saya beli kerak telor di PRJ Kemayoran harganya Rp 15.000. Pas beli di pesta rakyatnya Jakarta kok harga kerak telornya mahal sekali. Malah jadi lebih mahal di PRJ Monas dari PRJ Kemayoran," keluh ibu dua anak tersebut.

Ia pun baru mengetahui jika ada pedagang kerak telor resmi dan pedagang kerak telor yang berasal dari PKL. Selanjutnya, Alisa mengimbau kepada Pemprov DKI untuk mengakomodasi semua pedagang, baik PKL maupun yang terdaftar. Dengan demikian, pengunjung tidak terjebak dengan harga yang tinggi.

"Saya kan mana tahu kalau pedagang resmi itu yang berada di dalam stan. Kalau semua pedagang masuk stan dan harganya disesuaikan, pasti pengunjung juga senang," ujar Alisa.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ridwan Kamil Sindir Acara Rizieq di Megamendung yang Timbulkan Kerumunan

Ridwan Kamil Sindir Acara Rizieq di Megamendung yang Timbulkan Kerumunan

Megapolitan
Dipanggil Polda Metro soal Acara Rizieq Shihab, Kadishub DKI: Izin Penutupan Jalan Wewenang Polisi

Dipanggil Polda Metro soal Acara Rizieq Shihab, Kadishub DKI: Izin Penutupan Jalan Wewenang Polisi

Megapolitan
Duduk di Ujung Balkon Apartemen, Seorang Perempuan Diduga Akan Bunuh Diri

Duduk di Ujung Balkon Apartemen, Seorang Perempuan Diduga Akan Bunuh Diri

Megapolitan
Kadishub DKI Pastikan Aturan Ganjil Genap Belum Diterapkan di Jakarta

Kadishub DKI Pastikan Aturan Ganjil Genap Belum Diterapkan di Jakarta

Megapolitan
Proyek LRT Rute Velodrome-Manggarai Diusulkan Diubah Jadi Velodrome-Klender, Ini Alasannya

Proyek LRT Rute Velodrome-Manggarai Diusulkan Diubah Jadi Velodrome-Klender, Ini Alasannya

Megapolitan
Hina Brimob Kacung China di Instagram, Tersangka Mengaku Cuma Iseng

Hina Brimob Kacung China di Instagram, Tersangka Mengaku Cuma Iseng

Megapolitan
Perwakilan FPI Sambangi Kodam Jaya, Mayjen Dudung: Silaturahim Saja

Perwakilan FPI Sambangi Kodam Jaya, Mayjen Dudung: Silaturahim Saja

Megapolitan
Satu Rumah di Kompleks Polri Ragunan Terbakar

Satu Rumah di Kompleks Polri Ragunan Terbakar

Megapolitan
Gerindra DKI: DPP Akan Jelaskan soal Penangkapan Menteri Edhy Prabowo oleh KPK

Gerindra DKI: DPP Akan Jelaskan soal Penangkapan Menteri Edhy Prabowo oleh KPK

Megapolitan
Riza Patria Berharap KPK Bisa Adil Tangani Kasus Edhy Prabowo

Riza Patria Berharap KPK Bisa Adil Tangani Kasus Edhy Prabowo

Megapolitan
Tabung Gas Meledak di Bekasi, Tiga Rumah Rusak dan Satu Orang Luka Bakar

Tabung Gas Meledak di Bekasi, Tiga Rumah Rusak dan Satu Orang Luka Bakar

Megapolitan
Lonjakan Pasien Covid-19 pada November, RSUD Depok Terisi 94 Persen, ICU Penuh

Lonjakan Pasien Covid-19 pada November, RSUD Depok Terisi 94 Persen, ICU Penuh

Megapolitan
Kabur Setelah Dinyatakan Reaktif, Tiga Warga Petamburan Akan Didatangi Tim Puskesmas

Kabur Setelah Dinyatakan Reaktif, Tiga Warga Petamburan Akan Didatangi Tim Puskesmas

Megapolitan
PSBB Tangsel Diperpanjang hingga 19 Desember, Wali Kota Airin Sebut Tak Ada Perubahan Aturan

PSBB Tangsel Diperpanjang hingga 19 Desember, Wali Kota Airin Sebut Tak Ada Perubahan Aturan

Megapolitan
Anies Singgung Penegakan Aturan PSBB di Daerah Pilkada Tak Seperti Jakarta, Wali Kota Tangsel: Nanti Kami Evaluasi

Anies Singgung Penegakan Aturan PSBB di Daerah Pilkada Tak Seperti Jakarta, Wali Kota Tangsel: Nanti Kami Evaluasi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X