Kompas.com - 15/09/2014, 14:10 WIB
Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/10/2013). Jalan utama di kota ini tidak memiliki ruang hijau. Kondisi diperparah dengan kemacetan lalu lintas yang sering terjadi. KOMPAS IMAGES / VITALIS YOGI TRISNAJalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/10/2013). Jalan utama di kota ini tidak memiliki ruang hijau. Kondisi diperparah dengan kemacetan lalu lintas yang sering terjadi.
EditorAna Shofiana Syatiri

DEPOK, KOMPAS.com - Kemacetan di jalan utama Kota Depok, Jalan Margonda, tidaklah separah kemacetan di sejumlah jalan protokol Jakarta, yang mengular hingga beberapa kilometer. Kemacetan di Jalan Margonda pada jam sibuk setiap han hanya terjadi sesaat saja, bahkan masih relatif mudah ditembus dengan sepeda motor.

"Kemacetan di Jalan Margonda tak separah di Jakarta. Terutama setelah ruas jalan ini dilebarkan, maka kemacetan di sini relatif cepat terurai. Justru di ruas jalan lain di Depok, ada kemacetan yang lebih parah," kata Tumpak (29), jurnalis media massa nasional yang sudah lebih dari 5 tahun bertugas di wilayah Depok.

Menurut Tumpak, kemacetan di ruas Jalan Margonda yang merupakan jantung utama Kota Depok sekaligus pusat bisnis ini, terjadi secara kasuistis.

"Jika ada genangan air karena drainase yang enggak beres, barulah ada kemacetan panjang," ujarnya.

Selain itu, tuturnya, kemacetan yang lebih parah dari biasanya di Jalan Margonda justru kerap terjadi pada saat akhir pekan. Sebab, saat itulah banyak warga masyarakat yang menghabiskan waktu luangnya mengunjungi mal atau pusat perbelanjaan, kafe, tempat makan dan pertokoan yang ada di hampir di sepanjang Jalan Margonda.

"Tapi ini pun tidak selalu terjadi. Pada akhir pekan di tanggal tua, biasanya ini tidak terjadi. Mungkin saat itu, masyarakat sudah kehabisan uang sehingga mengurungkan niatnya ke pusat perbelanjam, kafe, tempat makan dan pertokoan," ujarnya.

Lampu merah pertigaan

Walaupun begitu, kata dia, masih banyak yang harus dibenahi di Jalan Margonda agar potensi, kemacetan seperti di Jakarta tidak terjadi di Jalan Margonda. Di antaranya adalah pedagang kaki lima yang dibiarkan masuk ke ruas jalan di beberapa titik terutama di depan ITC Depok, parkir kendaraan di sisi jalan di sepanjang Jalan Margonda, serta terminal bayangan di depan gang menuju Stastun UI Depok di kawasan Beji.

"Selain itu tidak adanya jembatan penyeberangan orang (JPO) yang memadai membuat pejalan kaki menyeberang jalan di tempat, yang tak terduga sehingga pengendara harus terpaksa melambatkan kendaraannya," kata dia.

Pantauan Warta Kota, perlambatan 2.179 kendaraan di Jalan Margonda secara wajar terjadi menjelang lampu merah, seperti di pertigaan arah Jalan Arif Rahman Hakim, pertigaan arah Jalan Juanda, serta pertigaan arah Jalan Tole Iskandar. Perlambatan kendaraan juga terjadi di depan Terminal Terpadu Depok karena adanya angkutan umum yang keluar masuk terminal.

Hal serupa juga terjadi depan Depok Town Square, di depan Plasa Depok, di depan Margo City, serta di depan Perumahan Pesona Kahyangan.Pada jam pulang kerja sejak pukul 19.00 sampat pukul 21.00, ketersendatan arus kendaraan, terutama untuk roda empat, biasa terjadi di ruas jalan arah ke Jakarta mulai dari depan Margo City sampai lampu merah di pertigaan arah ke Jalan Juanda.

Namun, sekali lagi, kemacetan di Jalan Margonda memana separah di jalan protokol Jakarta, walau perlambatan kendaraan terkadang memang cukup menganggu. (bum)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Demi Bayar Utang Rp 1 Miliar, Ibu Hamil Rela Jual Ginjal

Demi Bayar Utang Rp 1 Miliar, Ibu Hamil Rela Jual Ginjal

Megapolitan
Balas Pantun Anies dan Giring PSI: dari Sirkuit Formula E hingga Sindiran 'Kurang Kerjaan'

Balas Pantun Anies dan Giring PSI: dari Sirkuit Formula E hingga Sindiran "Kurang Kerjaan"

Megapolitan
Pelintasan Rel Stasiun Pondok Cina Melengkung, Warga: Enggak Kelihatan Kereta Datang

Pelintasan Rel Stasiun Pondok Cina Melengkung, Warga: Enggak Kelihatan Kereta Datang

Megapolitan
Situasi Jakarta Makin Gawat: Omicron Tembus 1.000 Kasus, Pasien Wisma Atlet Terus Melonjak

Situasi Jakarta Makin Gawat: Omicron Tembus 1.000 Kasus, Pasien Wisma Atlet Terus Melonjak

Megapolitan
18.000 Nasi Bungkus Dibagikan ke Warga Terdampak Banjir di Jakbar Selama 4 Hari

18.000 Nasi Bungkus Dibagikan ke Warga Terdampak Banjir di Jakbar Selama 4 Hari

Megapolitan
Kejati DKI Jakarta Geledah Kantor Distamhut, Ini Respons Wagub Riza

Kejati DKI Jakarta Geledah Kantor Distamhut, Ini Respons Wagub Riza

Megapolitan
UPDATE 21 Januari: Ada 1.177 Kasus Omicron di DKI Jakarta

UPDATE 21 Januari: Ada 1.177 Kasus Omicron di DKI Jakarta

Megapolitan
Polisi dan Keluarga Korban Bantah Laporan Bocah yang Dicabuli Kuli Bangunan Sempat Diremehkan

Polisi dan Keluarga Korban Bantah Laporan Bocah yang Dicabuli Kuli Bangunan Sempat Diremehkan

Megapolitan
Pekan Depan, Kapasitas PTM di Kota Tangerang Dikurangi hingga 50 Persen

Pekan Depan, Kapasitas PTM di Kota Tangerang Dikurangi hingga 50 Persen

Megapolitan
Realisasi Vaksinasi Covid-19 Dosis Ketiga di DKI Capai 216.726 Orang

Realisasi Vaksinasi Covid-19 Dosis Ketiga di DKI Capai 216.726 Orang

Megapolitan
Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat Dijambret, Tas Berisi Dokumen Penting Hilang

Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat Dijambret, Tas Berisi Dokumen Penting Hilang

Megapolitan
Perkenalkan Formula E ke Anies, Dino Patti Djalal: Saya Yakin Akan Naikkan Pamor Jakarta

Perkenalkan Formula E ke Anies, Dino Patti Djalal: Saya Yakin Akan Naikkan Pamor Jakarta

Megapolitan
Soal Penjabat Gubernur DKI, Ketua Fraksi PDI-P: Sekda Juga Memenuhi Syarat

Soal Penjabat Gubernur DKI, Ketua Fraksi PDI-P: Sekda Juga Memenuhi Syarat

Megapolitan
Cerita Sopir Odong-odong di Tegal Alur, Biasa Antar Bocah jadi Antar Pengungsi

Cerita Sopir Odong-odong di Tegal Alur, Biasa Antar Bocah jadi Antar Pengungsi

Megapolitan
Puluhan Kilogram Kulit Kabel Dibuang di Gorong-gorong, Diduga Ulah Pencuri

Puluhan Kilogram Kulit Kabel Dibuang di Gorong-gorong, Diduga Ulah Pencuri

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.