Kompas.com - 22/12/2014, 15:58 WIB
Lalu lintas tersendat di ruas jalan di depan pusat perdagangan Pasar Senen, Jakarta, Senin (28/4/2014). Pascakebakaran beberapa hari lalu, ratusan pedagang terpaksa berjualan dengan memakan badan jalan sehingga menambah keruwetan jalan di sekitar pasar. KOMPAS / IWAN SETIYAWANLalu lintas tersendat di ruas jalan di depan pusat perdagangan Pasar Senen, Jakarta, Senin (28/4/2014). Pascakebakaran beberapa hari lalu, ratusan pedagang terpaksa berjualan dengan memakan badan jalan sehingga menambah keruwetan jalan di sekitar pasar.
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com - Puluhan pedagang sayur Pasar Inpres Blok 6 Senen, Jakarta Pusat menyampaikan aspirasi mereka di depan PD Pasar Jaya di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Senin (22/12/2014). Aksi ini lantaran rencana pengelola yang ingin menggusur pedagang-pedagang yang sudah belasan puluhan tahun berdagang di sana.

"Kecewa saya sama pengelola pasar yang enggak terbuka bikin kebijakan. Kalau pakai harga baru untuk sewa di sana, kita keberatan lah," ujar Gatot (43), perwakilan pedagang, di lokasi aksi, Senin.

Menurut dia, harga baru yang harus dibayar pedagang adalah Rp 22,5 juta per meter. Padahal ukuran los yang mereka sewa rata-rata 4 meter. Harga tersebut dinilai mahal untuk pedagang tradisional.

"Kalau enggak bisa bayar, kami disuruh keluar. Itu kan jelas memberatkan, kita cuma jualan sayur-sayuran doang," kata Gatot.

Gatot menuturkan, harga baru yang diberlakukan pengelola pasar disamakan dengan Pasar Blok 3 yang barang jualannya lebih beragam. Sementara itu, Blok 6 merupakan pasar tradisional yang didominasi pedagang sayur. Ia juga menyesali keputusan pengelola pasar yang berjanji memberikan tempat penampungan, namun hingga saat ini belum jelas keberlangsungannya.

"Katanya sih mau dipindahin ke Blok 5, tetapi sekarang masih penuh bekas pedagang yang dari Blok 3," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Humas PD Pasar Jaya Agus Lamun menuturkan, pihaknya akan segera membentuk tim investigasi untuk merespons laporan para pedagang. "Secepatnya akan ditindaklanjuti, namun baru berasal dari kita saja, belum melibatkan kepolisian," ujarnya.

Para pedagang datang sekitar pukul 10.00 dengan dua metromini. Dengan membawa spanduk-spanduk, mereka langsung memadati halaman Kantor PD Pasar Jaya dan melakukan orasi dengan pengeras suara. Massa tak hanya terdiri dari pria, tetapi juga wanita. Suara mereka yang keras menarik perhatian pengunjung Pasar Jaya Pramuka. Namun hingga aksi tersebut berakhir, suasana tetap berjalan dengan kondusif.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

Megapolitan
Dimulai 2019, Penanaman 200.000 Pohon di Jakarta Ditargetkan Terpenuhi pada 2022

Dimulai 2019, Penanaman 200.000 Pohon di Jakarta Ditargetkan Terpenuhi pada 2022

Megapolitan
Saat Rizieq Shihab 'Ngamuk': Kesal karena Sidang Online, Cap Bima Arya Pembohong, Bentak Jaksa dan Satpol PP

Saat Rizieq Shihab "Ngamuk": Kesal karena Sidang Online, Cap Bima Arya Pembohong, Bentak Jaksa dan Satpol PP

Megapolitan
Tumpukan Ban Bekas di Kampung Boncos Terbakar, Api Merambat ke Rumah Warga

Tumpukan Ban Bekas di Kampung Boncos Terbakar, Api Merambat ke Rumah Warga

Megapolitan
Ini Kronologi Kasus Pencurian Motor di Joglo yang Pelakunya Terekam CCTV

Ini Kronologi Kasus Pencurian Motor di Joglo yang Pelakunya Terekam CCTV

Megapolitan
Kak Seto: Walau yang Perkosa dan Jual Remaja di Bekasi Anak Anggota DPRD, Polisi Harus Tegas

Kak Seto: Walau yang Perkosa dan Jual Remaja di Bekasi Anak Anggota DPRD, Polisi Harus Tegas

Megapolitan
Salah Gunakan Dana BOS dan BOP, Mantan Kepala SMKN 53 Ditetapkan Jadi Tersangka

Salah Gunakan Dana BOS dan BOP, Mantan Kepala SMKN 53 Ditetapkan Jadi Tersangka

Megapolitan
Pingsan Setelah Ditonjok Sopir Lain, Pengemudi Taksi Tabrak Gerbang Mapolres Jakbar

Pingsan Setelah Ditonjok Sopir Lain, Pengemudi Taksi Tabrak Gerbang Mapolres Jakbar

Megapolitan
Praktik Prostitusi Online Anak di Penginapan Tebet, Warga: Enggak Terpikir Jadi Tempat Open BO

Praktik Prostitusi Online Anak di Penginapan Tebet, Warga: Enggak Terpikir Jadi Tempat Open BO

Megapolitan
Bersikeras Dua Terdakwa Kasus 192 Kg Ganja Divonis Mati, PN Tangerang Resmi Ajukan Banding

Bersikeras Dua Terdakwa Kasus 192 Kg Ganja Divonis Mati, PN Tangerang Resmi Ajukan Banding

Megapolitan
Aturan Perjalanan Pakai Kendaraan Pribadi ke Luar Jakarta Selama Larangan Mudik

Aturan Perjalanan Pakai Kendaraan Pribadi ke Luar Jakarta Selama Larangan Mudik

Megapolitan
KPAI Sebut Guru-guru di Jakarta Kelelahan Mengajar Tatap Muka dan Daring

KPAI Sebut Guru-guru di Jakarta Kelelahan Mengajar Tatap Muka dan Daring

Megapolitan
Semrawut, Kolong Flyover Roxy Akan Ditata Ulang

Semrawut, Kolong Flyover Roxy Akan Ditata Ulang

Megapolitan
Evaluasi Belajar Tatap Muka, Disdik DKI Tegaskan Akan Tutup Sekolah jika Tak Disiplin Protokol Kesehatan

Evaluasi Belajar Tatap Muka, Disdik DKI Tegaskan Akan Tutup Sekolah jika Tak Disiplin Protokol Kesehatan

Megapolitan
Hasil Uji Coba Belajar Tatap Muka, Kadisdik DKI: Sempat Hanya Dihadiri 5 Siswa

Hasil Uji Coba Belajar Tatap Muka, Kadisdik DKI: Sempat Hanya Dihadiri 5 Siswa

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X