Beras Plastik di Bekasi Dicampur dengan Beras Asli

Kompas.com - 21/05/2015, 10:50 WIB
Jessi Carina Dewi Septiani membawa tampah berisi beras yang diduga terbuat dari plastik di Mutiara Gading Timur, Selasa (19/5/2015).

BEKASI, KOMPAS.com — Kepala Bagian Pengujian Laboratorium PT Sucofindo, Adisam, mengatakan adanya kandungan protein tinggi dalam beras yang terbukti mengandung polyvinyl chloride, bahan baku pembuatan pipa. Adisam menyebutkan, kemungkinan besar beras palsu tersebut telah dicampur dengan beras asli.

"Kami cek juga kandungan proteinnya. Ternyata tinggi, sampai 7,38 persen. Kalau kita lihat itu sepertinya di-mix. Ada beras yang bahan lain. Ada juga beras asli karena masih ada kandungan proteinnya," ujar Adisam di Kantor Wali Kota Bekasi, Kamis (21/5/2015).

PT Sucofindo melakukan uji kandungan protein terhadap dua sampel beras. Satu sampel diambil dari beras milik Dewi Septiani, penjual bubur di Perumahan Mutiara Gading Timur. Dari beras tersebut, terdapat kandungan protein sebesar 7,38 persen.

Sementara itu, sampel kedua diambil dari beras yang berada di toko milik Sembiring. Berdasarkan hasil laboratorium, beras dari toko tersebut juga mengandung protein sebesar 6,76 persen. Adisam mengatakan, beras-beras plastik ini dicampur dengan beras aslinya.

Selain mengandung polyvinyl chloride, beras itu juga mengandung plastiser plastik seperti benzyl butyl phthalate (BBT), Bis 2-ethylhexyl phthalate (DEHP), dan diisononyl phthalate (DNIP). Ketiga bahan tersebut merupakan pelembut yang biasa digunakan bersamaan dengan polyvynil chloride. Tujuannya ialah agar pipa atau kabel mudah dibentuk. Adisam mengatakan, ketiga bahan tersebut juga digunakan untuk membuat beras yang mengandung senyawa polyvynil chloride mirip seperti aslinya.

Informasi mengenai beras sintetis mencuat setelah salah seorang penjual bubur di Bekasi, Dewi Septiani, mengaku membeli beras bersintetis. Dewi mengaku membeli enam liter beras yang diduga bercampur dengan beras plastik. Beras tersebut dia beli di salah satu toko langganannya. Dewi memang biasa membeli beras dengan jenis yang sama di toko tersebut seharga Rp 8.000 per liter. Keanehan dari beras tersebut dia rasakan setelah mengolahnya menjadi bubur.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAna Shofiana Syatiri

Close Ads X