Kompas.com - 03/11/2015, 07:33 WIB
Tiga pengojek Grab Bike, (dari kiri ke kanan) Rudianto (26), Henri Johan (38), dan Igin Hendriawan (31) di kantor Grab Bike, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2015). KOMPAS.com/Andri Donnal PuteraTiga pengojek Grab Bike, (dari kiri ke kanan) Rudianto (26), Henri Johan (38), dan Igin Hendriawan (31) di kantor Grab Bike, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2015).
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada Senin (2/11/2015) sore, sejumlah pengojek berbasis aplikasi dari Go-Jek melakukan sweeping terhadap rekannya sesama pengojek yang sedang menerima order dari penumpang.

Sweeping dilakukan sebagai bentuk protes terhadap keputusan manajemen yang menurunkan tarif untuk pengojek, dari Rp 4.000 per kilometer menjadi Rp 3.000 per kilometer. Selain itu, masih ada kebijakan baru lainnya yang dianggap para pengojek tidak adil untuk mereka.

Perwakilan manajemen Go-Jek yang mengirim pesan singkat kepada para pengojek juga mengaku telah merugi sebelum bulan Agustus sampai saat ini. Keputusan untuk merugi bertujuan untuk dana promosi agar order para pengojek bisa meningkat.

Melihat fenomena seperti itu, perusahaan lain yang bergerak di bidang serupa, Grab Bike, memandang ada pertimbangan tertentu sebelum menjalankan bisnis ini.

Perusahaan harus jeli melihat seberapa besar permintaan pasar dan berapa banyak pengojek yang harus mereka rekrut. Hitung-hitungan sederhana itu dilakukan untuk menghindari kerugian.

"Kami memastikan jumlah biker (pengojek) dengan permintaan pasar juga terjaga agar tidak terjadi oversupply," kata Head of Marketing Grab Taxi atau Grab Bike, Kiki Rizki, kepada Kompas.com, Selasa (3/11/2015).

Menurut Kiki, kebijakan di Grab Bike tidak hanya fokus mengedepankan promosi untuk konsumen, tetapi juga ikut memikirkan bagaimana kesejahteraan bagi pengojeknya.

Manajemen Grab Bike mengaku mengalokasikan biaya-biaya tertentu untuk meningkatkan kesejahteraan para pengojeknya, salah satunya asuransi.

Jumlah pengojek yang disesuaikan dengan jumlah pasar dinilai menjadi salah satu kunci menjalankan bisnis ojek berbasis aplikasi.

Selain memastikan para pengojeknya bisa mendapat order, pembagian untung ke perusahaan juga bisa seimbang, terlepas dari promo apa yang dibuat oleh perusahaan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 25 Januari: Tambah 209 Kasus di Kota Tangerang, Kini 1.028 Pasien Covid-19 Dirawat

UPDATE 25 Januari: Tambah 209 Kasus di Kota Tangerang, Kini 1.028 Pasien Covid-19 Dirawat

Megapolitan
Nasib Formula E Kian Dipertanyakan, Lahan Sirkuit Masih Berlumpur Ditambah Tender Pembangunan Gagal

Nasib Formula E Kian Dipertanyakan, Lahan Sirkuit Masih Berlumpur Ditambah Tender Pembangunan Gagal

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Kecurigaan Keluarga Kakek yang Tewas Diteriaki Maling | Tender Formula E Gagal

[POPULER JABODETABEK] Kecurigaan Keluarga Kakek yang Tewas Diteriaki Maling | Tender Formula E Gagal

Megapolitan
Polda Metro Jaya Disebut Cabut Status 2 Tersangka Kebakaran Lapas Tangerang

Polda Metro Jaya Disebut Cabut Status 2 Tersangka Kebakaran Lapas Tangerang

Megapolitan
Mulai Hari Ini, Siswa PAUD hingga SMP di Tangerang Kembali Belajar Daring

Mulai Hari Ini, Siswa PAUD hingga SMP di Tangerang Kembali Belajar Daring

Megapolitan
Korsleting Sebabkan Kepulan Asap di Mal Alam Sutera Tangerang

Korsleting Sebabkan Kepulan Asap di Mal Alam Sutera Tangerang

Megapolitan
Damkar Evakuasi Buaya Peliharaan Warga Depok

Damkar Evakuasi Buaya Peliharaan Warga Depok

Megapolitan
Polisi Gagalkan Penyelundupan 4 Liter Sabu Cair dari Meksiko

Polisi Gagalkan Penyelundupan 4 Liter Sabu Cair dari Meksiko

Megapolitan
Kuasa Hukum Korban Minta Polres Depok Segera Tangani Kasus Dugaan KDRT

Kuasa Hukum Korban Minta Polres Depok Segera Tangani Kasus Dugaan KDRT

Megapolitan
Terima Paket 4 Liter Sabu Cair dari Luar Negeri, Seorang Kurir Ditangkap di Cengkareng

Terima Paket 4 Liter Sabu Cair dari Luar Negeri, Seorang Kurir Ditangkap di Cengkareng

Megapolitan
Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan Perempuan yang Diduga Korban KDRT

Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan Perempuan yang Diduga Korban KDRT

Megapolitan
Kasus Anak Jual Kulkas Ibunya Berlanjut ke Meja Hijau, Kuasa Hukum Terdakwa: Sebaiknya Dihentikan

Kasus Anak Jual Kulkas Ibunya Berlanjut ke Meja Hijau, Kuasa Hukum Terdakwa: Sebaiknya Dihentikan

Megapolitan
Pedagang di Pasar Serpong Belum Tahu soal Kebijakan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Pedagang di Pasar Serpong Belum Tahu soal Kebijakan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Megapolitan
Bertambah 95, Kini Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Capai 2.957

Bertambah 95, Kini Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Capai 2.957

Megapolitan
PTM di 18 Sekolah di Jakpus Dihentikan karena Temuan Kasus Covid-19, Total 37 Siswa Terpapar

PTM di 18 Sekolah di Jakpus Dihentikan karena Temuan Kasus Covid-19, Total 37 Siswa Terpapar

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.