Kompas.com - 07/10/2016, 19:00 WIB
EditorEgidius Patnistik

Hingga kini, Aliya belum bisa bicara. Belum jelas betul penyebabnya. Ada kemungkinan, Aliya tunarungu.

"Namun, itu kan harus melalui observasi, baru bisa diketahui secara pasti (penyebabnya)," ucap Ema.

Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Suku Dinas Sosial Jakarta Barat Salamun mengatakan, anak balita berkebutuhan khusus itu harus mendapatkan perawatan dan pembiayaan yang bagus. Setelah berunding dan berkonsultasi dengan ayahnya, Aliya disepakati akan dirawat dan dititipkan di panti asuhan.

Di tempat itu, Aliya akan mendapatkan pelayanan sosial, pendidikan, makanan, perawatan kesehatan, dan pelayanan lain dengan gratis sampai usia sekolah dasar.

Selain Aliya, di panti itu juga ada satu anak balita tunanetra lainnya, Wulan (3). Petugas Satuan Pelaksana Pelayanan Sosial Panti Asuhan Balita Tunas Bangsa, Zulfarini Thaib, menyebutkan, kendala pada anak balita tunanetra adalah tak percaya diri untuk belajar jalan. Wulan, contohnya, harus menjalani terapi agar otot-otot kakinya berkembang sehingga cukup kuat menopang tubuh saat anak balita itu belajar jalan.

"Tenaga terapi kami yang akan memijat anak-anak balita itu. Kemudian, pengasuh yang akan mengajarkan mereka berjalan," ujarnya.

Menurut Zulfarini, total ada 88 bayi dan anak balita yang dirawat di Panti Asuhan Balita Tunas Bangsa.

Ia menambahkan, pihaknya juga melayani adopsi anak. Namun, setiap orangtua yang ingin mengadopsi harus melalui konsultasi psikolog yang ada di panti. Hasil konsultasi itu yang akan menentukan, orangtua itu dapat mengadopsi atau tidak.

Rentan kekerasan

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, anak penyandang disabilitas adalah sosok yang rentan terhadap kekerasan fisik ataupun seksual. Orangtua yang seharusnya melindungi justru merasa frustrasi karena tak punya keahlian untuk menjaga dan menangani anak. Rasa frustrasi itu diperparah dengan tekanan ekonomi.

"Tidak hanya oleh orangtua, anak disabilitas juga rawan mengalami kekerasan dari terapis di panti sosial. Karena itu, tidak cukup dengan menitipkan anak di panti sosial, tetapi juga harus ada pendampingan dari ahlinya," tutur Arist.

Menurut dia, penyandang disabilitas selayaknya dibimbing menjadi sosok yang bisa mandiri. Anak dibimbing dengan kesabaran untuk bisa melakukan kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Setelah mandiri, anak didorong untuk mengembangkan bakat yang dimiliki sebagai bekal hidup di masa depan. (Madina Nusrat/Dian Dewi Purnamasari)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Oktober 2016, di halaman 28 dengan judul "Tangis Aliya Tak Lagi Terdengar di Gang Sempit Itu".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkot Bekasi Kukuhkan 40 Anggota Pasukan Pengibar Bendera untuk Hut ke-77 RI

Pemkot Bekasi Kukuhkan 40 Anggota Pasukan Pengibar Bendera untuk Hut ke-77 RI

Megapolitan
Pria yang Lecehkan Perempuan di Toilet Kawasan Melawai Ditangkap dan Ditetapkan sebagai Tersangka

Pria yang Lecehkan Perempuan di Toilet Kawasan Melawai Ditangkap dan Ditetapkan sebagai Tersangka

Megapolitan
Siasat Sindikat Narkoba dari Malaysia Selundupkan Pil Ekstasi Senilai Rp 50 Miliar ke Jakarta

Siasat Sindikat Narkoba dari Malaysia Selundupkan Pil Ekstasi Senilai Rp 50 Miliar ke Jakarta

Megapolitan
Saat Pelecehan Seksual Diduga Terjadi di Kawan Lama Grup, Korban Memutuskan 'Resign' dan Konsultasi ke Polres Jakarta Barat

Saat Pelecehan Seksual Diduga Terjadi di Kawan Lama Grup, Korban Memutuskan "Resign" dan Konsultasi ke Polres Jakarta Barat

Megapolitan
Status PPKM Level 1 di Jakarta Kembali Diperpanjang

Status PPKM Level 1 di Jakarta Kembali Diperpanjang

Megapolitan
Ada Sidang Tahunan 2022, Polda Metro Pastikan Tak Ada Rekayasa Lalu Lintas di DPR/MPR

Ada Sidang Tahunan 2022, Polda Metro Pastikan Tak Ada Rekayasa Lalu Lintas di DPR/MPR

Megapolitan
Panggung Apung Situ Rawa Kalong, Sudah Dipamerkan Ridwan Kamil tapi Belum Bisa Dipakai

Panggung Apung Situ Rawa Kalong, Sudah Dipamerkan Ridwan Kamil tapi Belum Bisa Dipakai

Megapolitan
Minta Maaf, Putri Mariana Akui Ibunya Curi 3 Cokelat dan 2 Sampo di Alfamart

Minta Maaf, Putri Mariana Akui Ibunya Curi 3 Cokelat dan 2 Sampo di Alfamart

Megapolitan
Kawan Lama Group Investigasi Dugaan Pelecehan secara Internal, 'Jika Ditemukan Pelanggaran, Akan Dukung Proses Hukum'

Kawan Lama Group Investigasi Dugaan Pelecehan secara Internal, "Jika Ditemukan Pelanggaran, Akan Dukung Proses Hukum"

Megapolitan
Pemprov DKI Jakarta Genjot Upaya Integrasi Antarmoda Transportasi

Pemprov DKI Jakarta Genjot Upaya Integrasi Antarmoda Transportasi

Megapolitan
UPDATE 15 Agustus 2022: Bertambah 100, Kumulatif Kasus Covid-19 di Tangerang Tembus 81.607

UPDATE 15 Agustus 2022: Bertambah 100, Kumulatif Kasus Covid-19 di Tangerang Tembus 81.607

Megapolitan
UPDATE 15 Agustus 2022: Bertambah 199, Kumulatif Kasus Covid-19 di Tangsel Tembus 98.464

UPDATE 15 Agustus 2022: Bertambah 199, Kumulatif Kasus Covid-19 di Tangsel Tembus 98.464

Megapolitan
Monas Ditutup Hari Ini untuk Persiapan HUT Ke-77 RI

Monas Ditutup Hari Ini untuk Persiapan HUT Ke-77 RI

Megapolitan
Keluarga Pelaku Pencurian Cokelat di Alfamart Tangerang Minta Maaf

Keluarga Pelaku Pencurian Cokelat di Alfamart Tangerang Minta Maaf

Megapolitan
Perempuan yang Diintip Pria di Toilet Kafe Kawasan Melawai Juga Jadi Korban Remas Payudara

Perempuan yang Diintip Pria di Toilet Kafe Kawasan Melawai Juga Jadi Korban Remas Payudara

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.