3 Petugas KPPS Meninggal, KPU Kota Bekasi Harap Ada Evaluasi Jam Kerja

Kompas.com - 24/04/2019, 09:56 WIB
Ketua KPU Kota Bekasi, Nurul Sumarheni di kediaman Sudirdjo (66) salah seorang anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 126, Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi yang meninggal dunia akibat kelelahan pasca mengurus pemilu di TPSnya, Selasa (23/4/2019). KOMPAS.com/DEAN PAHREVIKetua KPU Kota Bekasi, Nurul Sumarheni di kediaman Sudirdjo (66) salah seorang anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 126, Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi yang meninggal dunia akibat kelelahan pasca mengurus pemilu di TPSnya, Selasa (23/4/2019).
Penulis Dean Pahrevi
|

BEKASI, KOMPAS.com - Sudah ada tiga petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ( KPPS) di Kota Bekasi yang meninggal karena faktor kelelahan mengurus pemilu.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi, Nurul Sumarheni berharap ada evaluasi terkait sistem kerja petugas KPPS yang dianggap memikul beban kerja yang berat.

"Mudah-mudahan sistem ini bisa dievaluasi secara menyeluruh, supaya juga bisa memanusiakan para penyelenggara pemilu. Sebenarnya juga kami sering bekerja dalam situasi yang tidak manusiawi," kata Nurul di kediaman Sudirdjo, anggota KPPS yang gugur, Selasa (23/4/2019).

Adapun saat ini sudah ada tiga petugas KPPS di Kota Bekasi yang meninggal dunia. Ketiganya yakni, Ahmad Salahudin (43), Ketua KPPS TPS 081, RT 03, RW 10, Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Baca juga: 3 Petugas KPPS di Bekasi Meninggal dalam Sepekan Pasca-Pemilu 2019...

Dia meninggal dunia pada Kamis (18/4/2019) pagi karena kelelahan hingga mengalami kecelakaan saat hendak mengantarkan anaknya ke Pesantren di daerah Depok, Jawa Barat.

Kemudian, Fransiskus Asis Ismantara (53) Ketua KPPS TPS 031, RT 07 RW 02, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi yang meninggal dunia pada Jumat (19/4/2019) sekitar pukul 04.40 WIB subuh karena serangan jantung.

Serta, Sudirdjo (66), anggota KPPS TPS 126, Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur yang meninggal pada Selasa siang kemarin karena penyakit komplikasi.

Nurul menambahkan, pada dasarnya ketiga petugas KPPS yang gugur tersebut berawal dari kelelahan pasca mengurus pemilu sehingga berdampak pada kondisi fisik menjadi lemah, lalu sakit, bahkan meninggal dunia.

Baca juga: Lelahnya Petugas KPPS Saat Penghitungan Suara

Dia pun berharap ada evaluasi sistem jam kerja petugas KPPS untuk pemilu selanjutnya. Mengingat pada pemilu tahun ini, banyak petugas KPPS yang baru selesai menghitung pagi dini hari bahkan pada pagi hari.

"Kami penyelenggara pemilu harus bekerja lebih dari 24 jam. Kami ingin para pembuat kebijakan UU yang di terhormat di DPR RI. Mudah-mudahan mendengar dan melihat ini. Bahwa di seluruh Indonesia para penyelenggara pemilu itu berguguran. Jadi saya sangat berharap ini dievaluasi secara menyuluruh," ujar Nurul.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

409 Pasien Covid-19 Masih Dirawat di Kota Tangerang, Berikut Sebaran Wilayahnya

409 Pasien Covid-19 Masih Dirawat di Kota Tangerang, Berikut Sebaran Wilayahnya

Megapolitan
613 Pengemudi Ojek di Jakarta Selatan Langgar PSBB

613 Pengemudi Ojek di Jakarta Selatan Langgar PSBB

Megapolitan
Pantau Langsung Operasi Yustisi di Bogor, Kapolda Jabar Lihat Masih Banyak Warga Tak Pakai Masker

Pantau Langsung Operasi Yustisi di Bogor, Kapolda Jabar Lihat Masih Banyak Warga Tak Pakai Masker

Megapolitan
Politisi PDI-P Kritik Pemprov DKI soal Kebijakan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19 yang Berubah-ubah

Politisi PDI-P Kritik Pemprov DKI soal Kebijakan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19 yang Berubah-ubah

Megapolitan
Seorang Pria yang Bawa Sabu Ditangkap Saat Operasi Yustisi

Seorang Pria yang Bawa Sabu Ditangkap Saat Operasi Yustisi

Megapolitan
PHRI Ajak Pengusaha agar Bersedia Hotelnya Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

PHRI Ajak Pengusaha agar Bersedia Hotelnya Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Megapolitan
Wali Kota Depok dan Wakilnya Cuti Kampanye 71 Hari, Pemprov Jabar Tunjuk Pejabat Sementara

Wali Kota Depok dan Wakilnya Cuti Kampanye 71 Hari, Pemprov Jabar Tunjuk Pejabat Sementara

Megapolitan
Keluh Kesah Mereka yang Tak Bisa Kerja dari Rumah Selama PSBB...

Keluh Kesah Mereka yang Tak Bisa Kerja dari Rumah Selama PSBB...

Megapolitan
Rekam Jejak Terpidana Mati Cai Changpan, Kabur 2 Kali dari Sel Tahanan

Rekam Jejak Terpidana Mati Cai Changpan, Kabur 2 Kali dari Sel Tahanan

Megapolitan
Lihat Pelanggaran Protokol Kesehatan, Lapor ke Hotline Polisi 0822-1666-6911

Lihat Pelanggaran Protokol Kesehatan, Lapor ke Hotline Polisi 0822-1666-6911

Megapolitan
PHRI: Protokol di Hotel untuk Isolasi Pasien OTG Akan Ketat seperti Wisma Atlet

PHRI: Protokol di Hotel untuk Isolasi Pasien OTG Akan Ketat seperti Wisma Atlet

Megapolitan
Selama Pengetatan PSBB, 211 Restoran di Jakarta Ditutup Sementara

Selama Pengetatan PSBB, 211 Restoran di Jakarta Ditutup Sementara

Megapolitan
Ruko di Kebayoran Baru Terbakar, 2 Mobil Pemadam Dikerahkan

Ruko di Kebayoran Baru Terbakar, 2 Mobil Pemadam Dikerahkan

Megapolitan
Jadi Calon Wakil Wali Kota Tangsel, Kekayaan Rahayu Saraswati Senilai Rp 23,7 Miliar

Jadi Calon Wakil Wali Kota Tangsel, Kekayaan Rahayu Saraswati Senilai Rp 23,7 Miliar

Megapolitan
3.000 Pasangan Bercerai di Jakut Setiap Tahunnya

3.000 Pasangan Bercerai di Jakut Setiap Tahunnya

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X