Nasib Kali Bekasi yang Kerap Terkena Imbas dari Kali Cileungsi

Kompas.com - 15/08/2019, 06:30 WIB
Kali Bekasi berwarna gelap akibat pencemaran di hulu, yakni Kali Cileungsi. KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEANKali Bekasi berwarna gelap akibat pencemaran di hulu, yakni Kali Cileungsi.


BEKASI, KOMPAS.com – Aliran Kali Bekasi merupakan pertemuan dua anak sungai, yakni Kali Cikeas dan Kali Cileungsi. Nahas, hampir tiap tahun Kali Bekasi terimbas pencemaran yang datangnya dari Kali Cileungsi di Kabupaten Bogor itu.

September 2018, misalnya, ribuan ekor ikan sapu-sapu, mujair, dan sepat ditemukan mati mengambang di Kali Bekasi.

Baku mutu air Kali Bekasi saat itu ada di titik terburuk karena polutan dari Kali Cileungsi. Warnanya hitam pekat dan muncul aroma tak sedap dari kali.

September 2017 pun, keadaannya sama persis. Saat itu, Kali Bekasi yang menghitam dan bau "dihiasi" busa. Pencemaran juga berasal dari Cileungsi.

Baca juga: Warna Kali Bekasi Kini Menghitam karena Tercemar

Tahun ini, keadaannya tak banyak berbeda.

Sejak bulan lalu, tepatnya Sabtu (20/7/2019), Kali Bekasi kembali tercemar oleh aliran Kali Cileungsi. Ciri-cirinya sama persis, berwarna hitam dan bau tak sedap.

Bulan lalu, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan (PDL) BPLH Kota Bekasi Masri Wati mengaku sudah menelusuri sumber pencemar di Kota Bekasi, namun nihil.

Ia pun berkesimpulan bahwa pencemaran bermula di hulu Kali Bekasi, yakni Kali Cileungsi. Kesimpulan itu tak ada bedanya dengan kesimpulan tahun-tahun sebelumnya.

"Kami sudah cek di wilayah sepanjang Kali Bekasi di wilayah Cileungsi untuk Kota Bekasi. Kami tidak menemukan sumber warna hitam begitu," kata Masri pada 24 Juli 2019.

"Kabupaten Bogor yang harusnya cek ke lokasi, untuk mengetahui sumbernya dari mana. Kami enggak bisa setop (pencemaran) dari hulunya, karena kan bukan di wilayah kami sumbernya," ujar Masri.

Baca juga: Kali Bekasi Menghitam, Diduga Imbas Pencemaran di Sungai Cileungsi

Nihil perbaikan

Pencemaran Kali Bekasi yang sudah diderita tahunan itu merupakan imbas buangan limbah puluhan pabrik yang beroperasi di sekitar Kali Cileungsi.

"Sumber pencemaran itu adalah limbah industri yang ada di sepanjang Kali Cileungsi, dari wilayah Klapanunggal, Gunung Putri, dan Cileungsi di Kabupaten Bogor. Kali Bekasi hitam dan berbau itu sumbernya dari Bogor, bukan dari Bekasi," kata Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi & Cikeas, Puarman, via telepon kepada Kompas.com, Rabu (14/8/2019).

"Banyak. Ada 60 pabrik industri di pinggir Kali Cileungsi itu. Sejak bulan lalu, bahkan bertahun-tahun lalu, hingga saat ini masih membuang limbah," imbuh Puarman.

Buangan limbah tersebut tidak berskala kecil, sama sekali. Puarman menyebut, lantaran musim kemarau dan debit aliran Kali Cileungsi menyusut, pipa-pipa pembuangan limbah yang berasal dari puluhan pabrik tersebut dapat dikenali di dasar Kali Cileungsi. Sejauh ini, sebut Puarman, pihaknya menemukan 20 pipa.

Baca juga: Ada Lahan Warga, Kali Bekasi Baru Dinormalisasi Tahun Depan

"Pipa itu di dasar kali, ada di Kabupaten Bogor bukan Bekasi, tapi mengalir ke Bekasi. Di Bekasi sendiri cukup aman, hanya terdampak saja oleh Kali Cileungsi yang sekarang bermasalah," ujar Puarman.

Menurut dia, pembuangan limbah itu rutin dilakukan pabrik-pabrik di sekitar Kali Cileungsi tanpa kenal musim dan tahun. Pencemaran memang kian kentara karena saat musim kemarau sebab polutan tak terbawa arus kali.

"Jujur, saya nilai belum ada perubahan berarti, masih seperti itu saja. Tahun ini, kondisinya di bulan Juli sampai Agustus sekarang belum ada perbaikan. Saya harap, pemerintah tindak tegaslah pabrik-pabrik ini," pungkas Puarman.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 31 Mei: Bertambah 119, Kasus Covid-19 di Jakarta Jadi 7.272 Pasien

UPDATE 31 Mei: Bertambah 119, Kasus Covid-19 di Jakarta Jadi 7.272 Pasien

Megapolitan
Pengendara Tak Punya SIKM, 10.863 Kendaraan Dilarang Keluar dan Masuk Jakarta

Pengendara Tak Punya SIKM, 10.863 Kendaraan Dilarang Keluar dan Masuk Jakarta

Megapolitan
Penghentian Layanan Bus AKAP di Terminal Jabodetabek Diperpanjang hingga 7 Juni

Penghentian Layanan Bus AKAP di Terminal Jabodetabek Diperpanjang hingga 7 Juni

Megapolitan
Belasan Pengunjung Pasar Ikan Hias Jatinegara Dihukum Menyapu Trotoar

Belasan Pengunjung Pasar Ikan Hias Jatinegara Dihukum Menyapu Trotoar

Megapolitan
Ada Pembongkaran JPO di Ruas Tol Jakarta-Cikampek, Jalan Akan Dibuka Tutup

Ada Pembongkaran JPO di Ruas Tol Jakarta-Cikampek, Jalan Akan Dibuka Tutup

Megapolitan
1.110 Calon Penumpang Ditolak Saat Hendak Keluar Kota Menggunakan Kereta Luar Biasa

1.110 Calon Penumpang Ditolak Saat Hendak Keluar Kota Menggunakan Kereta Luar Biasa

Megapolitan
Sejumlah Hal yang Dapat Diterapkan Pejalan Kaki Saat New Normal

Sejumlah Hal yang Dapat Diterapkan Pejalan Kaki Saat New Normal

Megapolitan
Ini Daftar 15 Rute BRT yang Dioperasikan Transjakarta Sejak 30 Mei

Ini Daftar 15 Rute BRT yang Dioperasikan Transjakarta Sejak 30 Mei

Megapolitan
DKI Jakarta masih Terapkan PSBB, Transjakarta Hanya Operasikan 15 Rute BRT

DKI Jakarta masih Terapkan PSBB, Transjakarta Hanya Operasikan 15 Rute BRT

Megapolitan
PT KAI Perpanjang Operasional Kereta Luar Biasa hingga 7 Juni

PT KAI Perpanjang Operasional Kereta Luar Biasa hingga 7 Juni

Megapolitan
Pemprov DKI Diminta Buat Jalur Jaga Jarak di Trotoar dan Halte

Pemprov DKI Diminta Buat Jalur Jaga Jarak di Trotoar dan Halte

Megapolitan
Jelang New Normal, Banyak Warga Mulai Berolahraga di Bundaran HI

Jelang New Normal, Banyak Warga Mulai Berolahraga di Bundaran HI

Megapolitan
Masih Terjadi Lonjakan PDP dan ODP Selama Dua Bulan Terakhir di Jakarta

Masih Terjadi Lonjakan PDP dan ODP Selama Dua Bulan Terakhir di Jakarta

Megapolitan
Kilas Balik: Yang Terjadi di DKI Setelah Kasus Pertama Covid-19 Diumumkan...

Kilas Balik: Yang Terjadi di DKI Setelah Kasus Pertama Covid-19 Diumumkan...

Megapolitan
Mingggu Pagi, Pemprov DKI Disinfeksi Puluhan Ruas Jalan untuk Cegah Covid-19

Mingggu Pagi, Pemprov DKI Disinfeksi Puluhan Ruas Jalan untuk Cegah Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X