Kompas.com - 11/04/2022, 12:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hari ini, tepat pada lima tahun lalu, yakni 11 April 2017, eks penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengalami nasib nahas lantaran mukanya disiram air keras.

Peristiwa tersebut merupakan teror terhadap upaya pemberantasan korupsi yang menyita banyak perhatian. Sebabnya, Novel merupakan penyidik KPK yang kerap menangani kasus korupsi besar.

Beberapa kasus besar yang ia tangani di antaranya korupsi e-KTP, suap terhadap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, dan korupsi proyek simulator SIM.

Baca juga: Berangkat ke Belanda, Novel Baswedan Jalani Pengobatan Matanya

Sudah menjadi kebiasaan Novel yang selalu memulai harinya dengan menunaikan shalat subuh berjamaah di Masjid Al Ihsan di dekat rumahnya di Jalan Deposito, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pagi itu berlalu seperti biasanya. Suasana terasa normal, jalanan di sekitar hanya dilalui oleh orang yang ingin pergi ke masjid. Orang yang hadir di masjid terdiri dari warga sekitar yang sebagian diantaranya dikenali Novel.

Setelah selesai shalat, Novel langsung kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan ia mendengar sebuah sepeda motor berjalan dengan sangat lambat.

Saat motor mendekat, Novel menolehkan wajahnya ke kanan, sesuai arah datangnya suara. Namun, belum sempat ia menengok si pengendara, wajahnya sudah keburu disiram air keras.

"Saya yakin (terdakwa) sangat dekat, karena terkena sekujur wajah dan dipakai sangat banyak," ucap Novel saat mereka ulang peristiwa nahas yang menimpanya itu dalam persidangan, pada April 2020.

 

Setelah menyiram wajah Novel, kedua terdakwa langsung meninggalkan lokasi demgan cepat mengendarai sepeda motor matic.

Baca juga: Mengharapkan Putusan yang Seadil-adilnya dalam Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan...

Ketika disiram air keras, Novel merasakan wajahnya begitu panas seperti terbakar. Pandangan matanya waktu itu juga sangat buram. Awalnya ia berusaha mencari sumber air untuk menyiram wajah di sebuah rumah paling dekat di tempat kejadian.

Akan tetapi ia mengurungkan niatnya, lalu berputar kearah masjid untuk menjangkau tempat wudhu. Saking buramnya, Novel sampai menabrak batang pohon lalu terjatuh. Ia pun berteriak kencang karena tak kuasa menahan sakitnya luka bakar yang terasa di wajah.

Mendengar teriakan Novel, warga yang ikut shalat subuh langsung mendatangi dan membantunya kembali ke masjid. Di sana, Novel berulang kali membasuh wajahnya dengan air untuk membersihkan paparan air keras di wajahnya.

Baca juga: Penyerang Novel Baswedan Dituntut 1 Tahun, Jokowi Diminta Evaluasi Kinerja Kepolisian dan Kejaksaan

 

Setelah itu, tetangga Novel berinisiatif mengambil mobil dan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk mendapatkan perawatan.

Berobat ke Singapura

Novel lalu mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Jakarta Eye Center, Menteng, Jakarta Pusat.

Namun tim dokter akhirnya memutuskan Novel dirujuk ke rumah sakit di Singapura untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai. Novel berangkat untuk berobat ke Singapura pada 12 April 2017. 

Kapolri bentuk tim khusus ungkap kasus Novel

Kasus yang menyita perhatian publik itu ditangapi serius oleh Kapolri yang saat itu dijabat Jenderal (Pol) Tito Karnavian. Tito langsung membentuk tim khusus untuk mengungkap pelaku penyiraman Novel.

Tito mengatakan, tim tersebut merupakan gabungan dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya dan Mabes Polri. Sejak mendapat laporan terkait kasus yang menimpa Novel, Tito telah memerintahkan bawahannya untuk menjaga keamanan di kediaman Novel dan di rumah sakit tempat Novel dirawat.

Jokowi pun secara langsung mengutus Tito untuk menyelesaikan kasus penyiraman Novel. Jokowi memberi Tito tenggat waktu hingga 19 Oktober 2019.

Baca juga: Tuntutan Ringan Penyerang Novel Baswedan dan Istana yang Akhirnya Buka Suara

Awalnya, selama 100 hari berlalu, polisi telah menyelesaikan tiga sketsa wajah yang diduga pelaku penyiraman Novel.

"Hasil sketsa sudah jadi, sudah disampaikan kepada penyidik, sekarang tinggal nyari yang mirip-mirip itu siapa gitu... Ada tiga hasil sketsa yang berbeda," kata Kepala Divisi Humas Polri saat itu yakni Irjen Setyo Wasisto di Mapolda Metro Jaya, Kamis (20/7/2017).

 

Kasus Novel mandek

Namun seiring berjalannya waktu, Polri tak segera mengungkap siapa pelaku penyiraman Novel. Hal itu membuat publik bertanya-tanya tentang keseriusan Polri mengungkap kasus tersebut.

Baca juga: Novel Baswedan Sebut Kepala Biro Hukum KPK Telah Berbohong di Persidangan

Menyikapi kecurigaan publik itu, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri saat itu yang dijabat Kombes Martinus Sitompul mengatakan, ada sejumlah kendala yang belum bisa diatasi penyidik Polri dalam penanganan kasus penyidik KPK Novel Baswedan.

Sementara itu, desakan terus berdatangan pasca 200 hari kejadian, termasuk dari KPK sendiri.

"Kan, sama-sama penyidik (dengan KPK), tahu kesulitan-kesulitan teknis dalam mengungkap suatu perkara," ujar Martinus di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Martinus mengatakan, kendala yang ditemui penyidik antara lain minimnya saksi yang melihat langsung saat kejadian. Di samping itu, barang bukti yang ada tidak cukup menjadi dasar untuk menangkap atau mentersangkakan seseorang.

"Jangan sampai kami melakukan upaya paksa menangkap seseorang yang ternyata bukan, 1×24 jam kemudian kami dialami ternyata enggak (terbukti), kami keluarkan," kata Martinus.

Hingga Tito pensiun pun pelaku penyiraman Novel belum terungkap. Tugas berat berpindah ke Idham Azis yang menjadi pengganti Tito.

Jokowi pun memberi tenggat waktu sampai awal Desember 2019 kepada Idham untuk mengungkap kasus penyerangan Novel.

Polri tangkap pelaku penyiraman Novel

Akhirnya, selang lebih dari 2,5 tahun usai kasus penyiraman itu terjadi, Polri baru berhasil menangkap pelaku yang ironisnya berstatus polisi aktif.

Baca juga: Polri Pastikan Novel Baswedan Dkk Akan Ditugaskan di Kortas Tipikor

Kepala Bareskrim Polri saat itu, Komjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pelaku ditangkap  pada Kamis (26/12/2019) malam. Kedua polisi itu bernama Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis.

"Tadi malam (Kamis malam), kami tim teknis bekerja sama dengan Satkor Brimob, mengamankan pelaku yang diduga telah melakukan penyerangan kepada Saudara NB (Novel Baswedan)," kata Sigit.

"Pelaku dua orang, insial RM dan RB. (Anggota) Polri aktif," ucap dia. 

 

Sidang Penuh kejanggalan

Meski pelaku sudah ditangkap, Novel merasa ada sejumlah kejanggalan dalam proses hukum terhadap kasusnya. Pertama, ia mencurigai motif para pelaku

Menurut jaksa penutut umum, mereka merencakan penyiraman air keras kepada Novel dengan motif yang sama. Keduanya disebut benci terhadap Novel karena dianggap telah mengkhianati institusi Polri. Menurut Novel motif tersebut terasa janggal.

Kedua, tidak diperiksannya saksi kunci pada kasus penyiraman air keras terhadap dirinya oleh aparat penegak hukum. Menurut Novel, hanya sebagian saksi saat kejadian dan setelah kejadian yang diperiksa.

"Saksi-saksi kunci yang mengetahui peristiwa dan sebelum kejadian tidak diperiksa. Hanya sebagian saja saksi saat kejadian dan setelah kejadian yang diperiksa," kata Novel dalam persidangan.

Kendati sempat diwarnai kecurigaan, persidangan terhadap para pelaku yang ditangkap Polri pun terus berlanjut.

Hingga akhirnya Rahmat Kadir Mahulette divonis dua tahun penjara. Sementara terdakwa lainnya yakni Ronny Bugis dijatuhkan vonis 1,5 tahun penjara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bupati Tangerang Larang Pelajar di Bawah Usia 17 Tahun Bawa Motor ke Sekolah

Bupati Tangerang Larang Pelajar di Bawah Usia 17 Tahun Bawa Motor ke Sekolah

Megapolitan
Ada Imunisasi Campak Rubela Dibuka di Tempat Umum, Simak Lokasi dan Jadwal BIAN Hari Ini

Ada Imunisasi Campak Rubela Dibuka di Tempat Umum, Simak Lokasi dan Jadwal BIAN Hari Ini

Megapolitan
Jakarnaval 2022 Digelar Sore Ini, Ada 10 Transjakarta dan Bus Wara-wiri Buat Mobilisasi Pengunjung

Jakarnaval 2022 Digelar Sore Ini, Ada 10 Transjakarta dan Bus Wara-wiri Buat Mobilisasi Pengunjung

Megapolitan
Jakarnaval 2022 di Sirkuit Formula E Digelar Sore Ini, Ini Lokasi Parkirnya

Jakarnaval 2022 di Sirkuit Formula E Digelar Sore Ini, Ini Lokasi Parkirnya

Megapolitan
Jakarnaval 2022 Bisa Dikunjungi Secara Gratis, tapi Pengunjung Wajib Beli Tiket Masuk Ancol

Jakarnaval 2022 Bisa Dikunjungi Secara Gratis, tapi Pengunjung Wajib Beli Tiket Masuk Ancol

Megapolitan
Rekam Jejak 4 Perwira Menengah Polda Metro yang Diduga Terlibat Atas Kematian Brigadir J: Punya Prestasi Mentereng

Rekam Jejak 4 Perwira Menengah Polda Metro yang Diduga Terlibat Atas Kematian Brigadir J: Punya Prestasi Mentereng

Megapolitan
4 Perwira Polda Metro Jaya Ditahan Provos Polri, Diduga Langgar Etik dalam Kasus Brigadir J

4 Perwira Polda Metro Jaya Ditahan Provos Polri, Diduga Langgar Etik dalam Kasus Brigadir J

Megapolitan
UPDATE 13 Agustus: Tambah 261 Kasus Covid-19 di Tangsel, 885 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 13 Agustus: Tambah 261 Kasus Covid-19 di Tangsel, 885 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
UPDATE 13 Agustus: Tambah 197 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 1.879 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 13 Agustus: Tambah 197 Kasus Covid-19 di Kota Tangerang, 1.879 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Info SIM Keliling Jakarta Minggu, 14 Agustus 2022: Cek Lokasi, Biaya, dan Syaratnya

Info SIM Keliling Jakarta Minggu, 14 Agustus 2022: Cek Lokasi, Biaya, dan Syaratnya

Megapolitan
Jakarnaval 2022 Digelar di Sirkuit Formula E Sore Ini, Hadirkan Artis Tanah Air hingga Marching Band

Jakarnaval 2022 Digelar di Sirkuit Formula E Sore Ini, Hadirkan Artis Tanah Air hingga Marching Band

Megapolitan
Belum Putuskan Nasib 4 Perwira yang Terlibat Kasus Brigadir J, Polda Metro Tunggu Penyelidikan Mabes Polri

Belum Putuskan Nasib 4 Perwira yang Terlibat Kasus Brigadir J, Polda Metro Tunggu Penyelidikan Mabes Polri

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Cerah Pagi Hari, Siangnya Hujan

Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Cerah Pagi Hari, Siangnya Hujan

Megapolitan
Jakarnaval dari Masa ke Masa: Jokowi Bergaya Bak Kaisar Cina, Anies-Sandi Konvoi Vespa

Jakarnaval dari Masa ke Masa: Jokowi Bergaya Bak Kaisar Cina, Anies-Sandi Konvoi Vespa

Megapolitan
Rute Kereta Bengawan dan Jadwalnya 2022

Rute Kereta Bengawan dan Jadwalnya 2022

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.