Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ragam Respons Jukir Liar Saat Ditertibkan, Ada yang Pasrah dan Mengaku Setor ke Ormas

Kompas.com - 16/05/2024, 12:39 WIB
Dzaky Nurcahyo,
Ambaranie Nadia Kemala Movanita

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Belasan juru parkir (jukir) liar ditertibkan Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2024).

Kompas.com berkesempatan untuk mengikuti tiap langkah petugas Sudinhub tatkala melakukan penertiban bersama Satpol PP.

Setiap jukir liar yang didatangi petugas menunjukkan reaksi beragam.

Baca juga: Indra Mau Tak Mau Jadi Jukir Liar, Tak Tamat SMP dan Pernah Tertipu Lowongan Kerja

Ada yang kaget dan pasrah ketika disatroni. Namun, ada juga yang tetap tenang ketika dihampiri.

Dalam kegiatan ini, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan Bernad Octavianus Pasaribu menyebut, ada 11 orang yang terjaring razia.

Mereka semua adalah jukir liar yang berjaga di minimarket.

Semua jukir yang tertangkap basah kemudian langsung dibina dan diberikan informasi bahwa profesinya melanggar Peraturan Daerah (Perda).

“Saat kami menemukan juru parkir liar, kami melakukan pembinaan, salah satunya dengan memberikan arahan atau aturan terkait dengan pelanggaran yang dilakukan,” kata Bernad di kantornya.

“Yang bersangkutan lalu diminta membuat surat pernyataan untuk tak lagi menjadi jukir liar,” sambung dia.

Baca juga: Serba-serbi Penertiban Jukir Minimarket, Ada yang Mengaku Ojol hingga Pakai Seragam Dishub

Tak tahu profesinya dilarang

Husin (70), jukir liar di sebuah minimarket Jalan KH Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, hanya bisa pasrah saat diminta untuk berhenti dari pekerjaannya.

Ia mengaku, tak mengetahui ada Perda yang mengatur perihal jukir.

“Iya pak, saya terima dengan lapang dada. Saya berterima kasih karena sudah diberitahu bahwa menjadi tukang parkir itu dilarang,” kata dia kepada petugas yang menyatroninya.

Husin menegaskan, dirinya tak ambil hati dan tak keberatan untuk meninggalkan profesinya.

Ia bahkan berjanji untuk berhenti menjadi seorang jukir.

“Namanya dilarang, mau gimana, kan itu peraturan, saya enggak keberatan,” ungkap dia.

Husin mengungkapkan, baru beberapa bulan terakhir menekuni profesi sebagai jukir di minimarket.

Ia terpaksa menjadi jukir karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di usia senjanya.

Terlebih, penyakit glaukoma yang menyerang matanya membuat mayoritas pemberi kerja enggan memberinya kesempatan.

“Saya sudah lama enggak kerja, mata saya kurang awas, saya menderita glaukoma. Ini juga jadi jukir cuma beberapa jam setiap hari, paling dua jam, buat cari uang untuk sarapan saja. Karena ada jukir yang sebenarnya,” ucap dia.

Baca juga: Para Jukir Lansia Minimarket Itu Diputus Rezekinya...

Bakal beralih profesi

Senada dengan Husin, jukir liar lain di Jalan KH Abdullah Syafei bernama Bagus (48) juga bakal beralih profesi dalam waktu dekat.

Ia akan kembali menekuni profesi lamanya, yakni pengemudi ojek online (ojol).

“Kalau memang dilarang (jadi jukir), mungkin saya bakal ngojek full time saja nanti,” kata dia.

Bagus mengungkapkan, profesi ojol telah ditekuninya selama beberapa tahun.

Namun, ia mulai beralih menjadi jukir ketika ada kenalan yang menawarinya pekerjaan untuk menjaga parkiran minimarket.

“Saya baru satu tahun jadi jukir, dulu ditawarin teman. Jadi ngojek cuma sampingan saja setelah itu,” ungkap dia.

Baca juga: “Kalau Belum Punya Istri dan Anak, Saya Juga Enggak Mau Jadi Jukir Liar Minimarket”

Bingung biayai anak istri

Berbeda dengan Husin dan Bagus, seorang jukir minimarket bernama Matsuri (46) keberatan jika harus meninggalkan profesinya.

Hal itu disebabkan karena profesi ini telah ditekuninya selama satu dekade terakhir.

Dari hasil jukir, Matsuri bisa membiayai anak-anaknya sekolah dan membuat dapur di rumahnya selalu ngebul.

“Saya sebenarnya ikut saja kalau aturannya gitu, tetapi nanti bagaimana dengan anak dan istri saya, mau makan apa mereka,” kata Matsuri di minimarket Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet.

Ia merasa tak melakukan pekerjaan yang ilegal.

Husin (70), seorang juru parkir (jukir) liar di salah satu minimarket Jalan KH Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, hanya bisa pasrah saat terjaring razia, Rabu (15/5/2024).KOMPAS.com/Dzaky Nurcahyo Husin (70), seorang juru parkir (jukir) liar di salah satu minimarket Jalan KH Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, hanya bisa pasrah saat terjaring razia, Rabu (15/5/2024).

Pasalnya, pihak minimarket telah memberinya izin untuk menjaga dan mengatur parkiran.

“Saya sejak 2014 menjadi jukir di sini, enggak ada larangan selama 10 tahun ke belakang, baru ini. Saya juga telah mendapat izin dari pihak minimarket,” ucap dia.

Baca juga: Terjaring Razia, Jukir di Minimarket: Saya Sudah Rentan, Tapi Harus Tetap Jadi Tulang Punggung Keluarga

Setoran ke oknum ormas dan aparat

Beberapa jukir yang terjaring razia tak menampik bahwa mereka harus memberikan setoran kepada oknum tertentu setiap harinya.

Matsuri mengaku memberikan sejumlah uang kepada oknum berseragam setiap harinya.

“Saya sih setor juga ke oknum-oknum sini lah, yang pegang wilayah sini,” ujar dia.

Namun, Matsuri enggan membeberkan lebih rinci terkait siapa oknum yang diberikan uang setoran olehnya.

Ia hanya memberitahu bahwa oknum itu adalah aparat yang memiliki kantor tak jauh dari lokasi minimarket.

“Iya biasalah, kalau daerah sini dipegang sama mereka (oknum). Kantornya tak jauh dari sini,” tutur dia.

Baca juga: Jukir Liar yang Masih Bandel Akan Dikenai Sanksi Tindak Pidana Ringan

Sementara itu, Bagus juga membenarkan bahwa dirinya harus memberikan setoran usai shift kerjanya sebagai jukir berakhir.

Berbeda dengan Matsuri, oknum yang diberi setoran oleh Bagus disinyalir merupakan organisasi masyarakat (ormas).

“Kalau itu (kasih setoran) ada. Saya kasih ke kelompok yang menaungi parkir di wilayah ini,” imbuh dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Polisi Kejar Pelaku Penjambretan di CFD Jakarta yang Tertangkap Kamera Fotografer

Polisi Kejar Pelaku Penjambretan di CFD Jakarta yang Tertangkap Kamera Fotografer

Megapolitan
Bentrok Dua Ormas di Pasar Minggu Diduga Berawal dari Pembacokan

Bentrok Dua Ormas di Pasar Minggu Diduga Berawal dari Pembacokan

Megapolitan
Satu Motor Warga Ringsek Diseruduk Sapi Kurban yang Mengamuk di Pasar Rebo

Satu Motor Warga Ringsek Diseruduk Sapi Kurban yang Mengamuk di Pasar Rebo

Megapolitan
Soal Wacana Duet Anies-Sandiaga pada Pilkada Jakarta 2024, Gerindra: Enggak Mungkinlah!

Soal Wacana Duet Anies-Sandiaga pada Pilkada Jakarta 2024, Gerindra: Enggak Mungkinlah!

Megapolitan
Viral Video Plt Kadis Damkar Bogor Protes Kondisi Tenda di Mina, Pj Wali Kota: Ada Miskomunikasi

Viral Video Plt Kadis Damkar Bogor Protes Kondisi Tenda di Mina, Pj Wali Kota: Ada Miskomunikasi

Megapolitan
Bentrok Dua Ormas di Pasar Minggu Mereda Usai Polisi Janji Tangkap Terduga Pelaku Pembacokan

Bentrok Dua Ormas di Pasar Minggu Mereda Usai Polisi Janji Tangkap Terduga Pelaku Pembacokan

Megapolitan
Tak Mau Sukses Sendiri, Perantau Asal Gunung Kidul Gotong Royong Bangun Fasilitas di Kampung

Tak Mau Sukses Sendiri, Perantau Asal Gunung Kidul Gotong Royong Bangun Fasilitas di Kampung

Megapolitan
Kisah Dian, Seniman Lukis Piring yang Jadi Petugas Kebersihan demi Kumpulkan Modal Sewa Lapak

Kisah Dian, Seniman Lukis Piring yang Jadi Petugas Kebersihan demi Kumpulkan Modal Sewa Lapak

Megapolitan
Sempat Sidak Alun-alun Bogor, Pj Wali Kota Soroti Toilet hingga PKL di Trotoar

Sempat Sidak Alun-alun Bogor, Pj Wali Kota Soroti Toilet hingga PKL di Trotoar

Megapolitan
Kisah Dian Bertahan Jadi Pelukis Piring, Karya Ditawar Murah hingga Lapak Diganggu Preman

Kisah Dian Bertahan Jadi Pelukis Piring, Karya Ditawar Murah hingga Lapak Diganggu Preman

Megapolitan
Dua Ormas Bentrok hingga Lempar Batu-Helm, Lalin Jalan TB Simatupang Sempat Tersendat

Dua Ormas Bentrok hingga Lempar Batu-Helm, Lalin Jalan TB Simatupang Sempat Tersendat

Megapolitan
Kisah Perantau Bangun Masjid di Kampung Halaman dari Hasil Kerja di Tanah Perantauan

Kisah Perantau Bangun Masjid di Kampung Halaman dari Hasil Kerja di Tanah Perantauan

Megapolitan
Uniknya Seni Lukis Piring di Bekasi, Bermodalkan Piring Melamin dan Pensil Anak SD

Uniknya Seni Lukis Piring di Bekasi, Bermodalkan Piring Melamin dan Pensil Anak SD

Megapolitan
Sapi Kurban Mengamuk Saat Hendak Disembelih di Tangsel, Rusak Tiga Motor Warga

Sapi Kurban Mengamuk Saat Hendak Disembelih di Tangsel, Rusak Tiga Motor Warga

Megapolitan
Suasana Mencekam di Pasar Minggu Sore Ini, Dua Ormas Bentrok Lempar Batu dan Helm

Suasana Mencekam di Pasar Minggu Sore Ini, Dua Ormas Bentrok Lempar Batu dan Helm

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com