Pelajaran Kesabaran dari "The Invisible" Djarot - Kompas.com

Pelajaran Kesabaran dari "The Invisible" Djarot

Jessi Carina
Kompas.com - 12/05/2017, 07:39 WIB
KOMPAS.com/JESSI CARINA Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menangis di hadapan para pendukungnya di Balai Kota DKI, Rabu (10/5/2017).

Menjadi wakil yang mendampingi sosok Basuki Tjahaja Purnama bukanlah hal mudah. Hampir dua tahun Djarot Saiful Hidayat mendampingi pria yang kita kenal dengan nama Ahok itu.

Namun, apresiasi terhadap perubahan baik yang terjadi di Jakarta terkesan diberikan hanya untuk Ahok. Sungai bersih karena Ahok. Birokrasi baik karena Ahok. Transparansi anggaran di Jakarta juga terjadi karena Ahok.

Jarang sekali Djarot menerima kredit atas prestasi-prestasi itu. Dia seolah invisible, tak terlihat mata. Padahal ada dan juga bekerja untuk rakyat Jakarta.

Sebagai wartawan yang sering meliput kegiatannya di Balai Kota, saya punya julukan yang diberikan khusus untuk Djarot. Selain seseorang yang 'invisible', dia juga merupakan 'tukang bersih-bersih'. Bersih-bersih dari "kekacauan" yang tak bisa diselesaikan Ahok.

Saya tidak memandang itu sebagai sesuatu hal buruk. Justru melihat itu sebagai sikap saling melengkapi antara gubernur dan wakilnya, antara dua orang sahabat, antara Ahok dan Djarot.

Coba ingat kembali ketika Komisi II DPR RI menolak pengalihan aset dari pemerintah pusat ke Pemprov DKI untuk pembangunan wisma atlet Kemayoran dalam rangka persiapan ASIAN Games, pada 2015. Ketika itu, Ahok menuding Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran "bermain mata" dengan DPR RI.

Namun, masalah itu selesai setelah Djarot melobi Komisi II DPR RI. Ketika itu Djarot mengatakan, ada beberapa hal yang tak dipahami anggota DPR RI terkait penggunaan lahan itu.

"Jadi jangan gegabah. Ini bukan hanya untuk kepentingan DKI Jakarta, ini kepentingan negara yang kebetulan saja tuan rumahnya adalah DKI," ujar Djarot ketika itu, Jumat (4/12/2015).

Setelah berbagai rapat dan pertemuan, akhirnya DPR RI setuju memberikan hibah murni kepada Pemprov DKI.

Berada di bawah bayang-bayang Ahok terlihat begitu sulit. Namun Djarot tidak pernah mengeluh.

Dua tahun menjadi wakil gubernur, dua tahun juga Djarot bergeming dengan sebutan tukang gunting pita. Sebuah julukan yang menggambarkan dirinya yang ada untuk menghadiri acara seremonial saja. Tanpa banyak yang menyadari apa yang telah dia lakukan di balik layar.

Jangan pernah lupa tentang beratnya masa kampanye untuk Ahok dan Djarot. Karena kasus yang menimpa Ahok, kegiatan kampanye keduanya kerap ditolak. Sebagai pasangannya, Djarot tidak luput dari kemarahan warga. Dia ikut dicaci di sana sini, bahkan ketika dia ingin memasuki masjid.

Sekarang, mari saya ceritakan sedikit pengalaman yang menjadi kisah dari seorang 'invisible' ini.

Pada suatu sore, Djarot diteriaki oleh "lautan" manusia ketika dia ingin memasuki Masjid At-Tin. Saya dan satu teman wartawan lain terus mengikuti Djarot yang mantap melangkah dan tersenyum. Sampai akhirnya kami dipisahkan oleh kerumunan dan tidak lagi melihat keberadaan Djarot.

Kami pulang menunggu Djarot keluar dari masjid itu. Saat bertemu kami kembali, Djarot memarahi kami.

"Kalian, lain kali kalau ada seperti ini lagi jangan ikut aku," kata dia.

Jujur saja saya heran karena orang yang patut dikhawatirkan seharusnya adalah dirinya sendiri.

Setelah peristiwa itu, dia malah asik pergi ke warung sop kambing dan makan dengan lahap, seolah tidak terjadi apa-apa.  Berbincang dengan kami dan pengunjung restoran lain tentang betapa hangatnya suasana di dalam masjid saat itu.

Masih ingat juga kejadian Djarot diteriaki usai shalat Jumat di kawasan Tebet? Ketika itu Djarot mengaku tidak memilih masjid itu dengan sengaja. Dia memilih masjid itu karena berada paling dekat dengan lokasi kegiatan yang akan dia hadiri. Dia juga merasa berhak sholat di mana saja.

Kejadian itu terjadi usai peristiwa di Masjid At-Tin. Kebetulan, saya juga berada di sana. Saya sempat mencoba sedikit menenangkan dia dengan mengucapkan kata "sabar". Melihat saya, dia malah balik menghibur dan meminta saya untuk merasa tidak takut.

"Tenang saja kamu Jes. Kamu tenang saja, semuanya enggak apa-apa kok," kata dia.

Setelah mengucapkan itu dia menyapa warga yang ada di sana sambil tersenyum.

Setelah itu, dia membicarakan tentang perlakuan beberapa warga di masjid yang tetap baik kepadanya. Bahwa yang berteriak hanya segelintir orang saja. Bahwa dia tidak marah dan sudah memaafkan orang-orang itu. Berusaha tetap berpikir positif.

Dari semua perlakuan kasar yang diterima, Djarot tidak marah dan memilih tetap tersenyum, tanpa menyalahkan Ahok. Apapun yang dikatakan atau dilakukan orang padanya, dia tetap tersenyum. Namun, senyum khas Djarot itu pudar ketika mengetahui Ahok divonis 2 tahun penjara.

Bagi Djarot, Ahok bukan sekadar gubernur yang dia dampingi, melainkan juga seorang sahabat yang menjadi satu kesatuan dengan dia.

Djarot selalu bilang, kita tidak harus selalu hadir saat sahabat sedang bahagia. Tapi kita harus hadir saat sahabat sedang susah. Rangkaian kisah di atas membuktikan komitmen Djarot atas sikap sahabat setia itu. Menurut dia, menerima perlakuan itu merupakan bentuk "senasib sepenanggungannya" dengan Ahok.

"Bagaimana pun kami itu satu paket, jadi susahnya beliau itu susahnya saya juga.  Apapun yang Pak Basuki terima, saya juga akan merasakan," ujar Djarot.

"Ini bukan hanya esensi gubernur dan wakil gubernur, tapi esensi seorang sahabat dengan sahabat yang lain, ketika punya sahabat yang sakit kita juga ikut sakit," kata Djarot.

Tulisan ini bukan tentang siapa membela siapa, tetapi tentang apa yang kita pelajari dari orang lain. Selalu ada hal baik yang bisa dipelajari dari setiap orang, terlepas dari hitam dan putih hati orang itu. Dari Djarot, kita bisa belajar kesabaran, kesetiaan, dan juga tulus dalam bekerja dan berteman.

Satu hal lagi yang kami pelajari dari dia adalah tentang konsep "mati sajroning urip". Ini merupakan istilah Jawa yang bermakna "mati di dalam hidup".

"Apa yang dimatikan dalam hidup? Nafsu, amarah, dendam, benci, kita matikan," ujar Djarot.

Mungkin, itulah alasan kenapa selama ini dia bisa begitu sabar. Dari Ahok kita belajar ketegasan. Dari Djarot kita belajar kelembutan dan kesabaran, meski kadang itu membuat kita tak menonjol dan nyaris invisible...

EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar

Close Ads X