Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Server Down", PNS DKI Pusing Isi Kinerja Online

Kompas.com - 16/02/2015, 14:52 WIB
Nur Azizah

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kewajiban mengisi rapor kinerja online bagi seluruh pegawai negeri sipil di wilayah DKI Jakarta menuai banyak tanggapan. Banyak yang menerima namun ada pula yang mengkritik. Sebab, beberapa PNS menilai sistem yang baru memiliki celah merugikan pegawai.

Camat Kebon Jeruk, Agus Triono, mengatakan, sistem kinerja yang bebasis internet itu dapat menghambat kinerja PNS jika jaringan yang digunakan tidak mendukung. "Sistem ini berbasis internet, jika server down seperti saat uji coba kemarin maka seolah-olah tidak bekerja karena tak dapat direkapitulasi," kata Agus saat ditemui di kantor Kecamatan Kebon Jeruk.

Menurut dia, saat uji coba, tidak ada kendala untuk input data. Hanya saja, saat banyak pegawai yang menginput, server kemudian down sehingga gagal input.

Jika berbicara kesiapaan PNS di lingkungan Kecamatan Kebon Jeruk, kata dia, tak perlu diragukan. Sebab, lanjut Agus, semua PNS di Kecamatan dan seluruh Kelurahan Kebon Jeruk sudah melek intrenet.

“Malah kebanyakan pegawai lebih memilih mengakses menggunakan handphone. Gampang itu, asal punya handphone android saja sudah bisa," ucap Agus.

Di lain pihak, Wakil Camat Tambora, Yanto, mengatakan, pelaksanaan program ini terkesan terburu-buru. Sebab, sosialisasi yang diberikan sangat singkat, kurang dari seminggu kemudian langsung diterapkan. Selain itu, ia juga mengkritisi prihal sistem real time berbasis internet.

"Kalau sinyal tidak ada saat saya di lapangan, bagaimana saya harus menginput. Untuk mengatasi hal ini perlu dibuat solusi alternatif supaya tak merugikan," ujar Yanto.

Yanto menilai, sistem ini tak praktis dan kaku, terutama jika ada kejadian darurat yang menyebabkan ia harus mengutamakan kerja ketimbang menginput data. Di Kelurahan Kedoya Selatan, Lurah Kedoya Selatan Jufri mengaku pengisian rapor kinerja online tak memberikan hambatan apapun. Ia berpandangan sistem rapor kinerja online ini justru bisa memantau sejauh mana PNS berkerja.

“Semua yang dilakukan harus diunggah secara online. Ini bagus agar kerja terpantau. Tapi ya itu, kerja kami seperti dikejar-kejar, nggak bisa santai,” Kata Jufri.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta Agus Suradika mengatakan, mulai akhir Februari ini, seluruh pegawai negeri sipil di DKI Jakarta wajib mengisi rapor kinerja secara online.

"Laporan kinerja yang selama ini berupa diary atau catatan akan diganti oleh portal online," kata Agus.

Rapor online ini merupakan bentuk evaluasi kinerja terhadap seluruh pegawai negeri sipil yang mendapatkan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) dinamis.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Perjuangkan Peningkatan Upah Buruh, Lia dan Teman-temannya Rela ke Jakarta dari Cimahi

Perjuangkan Peningkatan Upah Buruh, Lia dan Teman-temannya Rela ke Jakarta dari Cimahi

Megapolitan
Cerita Suratno, Buruh yang Khawatir Uang Pensiunnya Berkurang karena UU Cipta Kerja

Cerita Suratno, Buruh yang Khawatir Uang Pensiunnya Berkurang karena UU Cipta Kerja

Megapolitan
Pembunuh Perempuan Dalam Koper Tak Melawan Saat Ditangkap Polisi di Palembang

Pembunuh Perempuan Dalam Koper Tak Melawan Saat Ditangkap Polisi di Palembang

Megapolitan
Said Iqbal Minta Prabowo Hapus UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan

Said Iqbal Minta Prabowo Hapus UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan

Megapolitan
Pembunuh Wanita Dalam Koper Sempat Ajak Korban Masuk ke Kamar Hotel di Bandung

Pembunuh Wanita Dalam Koper Sempat Ajak Korban Masuk ke Kamar Hotel di Bandung

Megapolitan
Said Iqbal: Upah Buruh di Jakarta yang Ideal Rp 7 Juta Per Bulan

Said Iqbal: Upah Buruh di Jakarta yang Ideal Rp 7 Juta Per Bulan

Megapolitan
Ikut Demo May Day 2024, Buruh Wanita Rela Panas-panasan demi Memperjuangkan Upah yang Layak

Ikut Demo May Day 2024, Buruh Wanita Rela Panas-panasan demi Memperjuangkan Upah yang Layak

Megapolitan
Dua Orang Terluka Imbas Kecelakaan di Tol Jakarta-Cikampek

Dua Orang Terluka Imbas Kecelakaan di Tol Jakarta-Cikampek

Megapolitan
Korban Kedua yang Tenggelam di Sungai Ciliwung Ditemukan Tewas 1,2 Kilometer dari Lokasi Kejadian

Korban Kedua yang Tenggelam di Sungai Ciliwung Ditemukan Tewas 1,2 Kilometer dari Lokasi Kejadian

Megapolitan
Rayakan 'May Day Fiesta', Massa Buruh Mulai Padati Stadion Madya GBK

Rayakan "May Day Fiesta", Massa Buruh Mulai Padati Stadion Madya GBK

Megapolitan
Fahira Idris: Gerakan Buruh Terdepan dalam Perjuangkan Isu Lintas Sektoral

Fahira Idris: Gerakan Buruh Terdepan dalam Perjuangkan Isu Lintas Sektoral

Megapolitan
Polisi Tangkap Pembunuh Wanita Dalam Koper di Bekasi

Polisi Tangkap Pembunuh Wanita Dalam Koper di Bekasi

Megapolitan
Hadiri 'May Day Fiesta', Massa Buruh Mulai Bergerak Menuju GBK

Hadiri "May Day Fiesta", Massa Buruh Mulai Bergerak Menuju GBK

Megapolitan
Pakai Caping Saat Aksi 'May Day', Pedemo: Buruh seperti Petani, Semua Pasti Butuh Kami...

Pakai Caping Saat Aksi "May Day", Pedemo: Buruh seperti Petani, Semua Pasti Butuh Kami...

Megapolitan
Penyebab Mobil Terbakar di Tol Japek: Pecah Ban lalu Ditabrak Pikap

Penyebab Mobil Terbakar di Tol Japek: Pecah Ban lalu Ditabrak Pikap

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com