Fahira: Saya Enggak Rela Jakarta Dipimpin Orang Agak Gila di Jalan yang Gila

Kompas.com - 10/04/2015, 08:24 WIB
(dari kiri ke kanan) Asisten Sekda bidang Keuangan DKI Andi Baso Mappapoleonro, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, ?Bupati Kepulauan Seribu Tri Djoko Sri Margianto, dan Asisten Sekda bidang Kesejahteraan Masyarakat DKI Fatahillah di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Selasa (7/4/2015). KOMPAS.COM/KURNIASARI AZIZAH(dari kiri ke kanan) Asisten Sekda bidang Keuangan DKI Andi Baso Mappapoleonro, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, ?Bupati Kepulauan Seribu Tri Djoko Sri Margianto, dan Asisten Sekda bidang Kesejahteraan Masyarakat DKI Fatahillah di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Selasa (7/4/2015).
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Fahira Idris, menolak anggapan yang menyamakan adanya kemiripan antara Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew atau mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Menurut Fahira, Lee Kuan Yew dan Ali adalah dua tokoh yang keras, tetapi memiliki komunikasi politik yang santun dan tidak anti-terhadap kritik.

"Lee K Yew & Bang Ali adalah Pemimpin yg KERAS karakternya. Dan mereka BERHASIL membangun wilayahnya. Mereka berdua sekali lagi KERAS, tetapi TIDAK ANTI KRITIK & TIDAK MERASA PALING BENAR. Mereka berdua punya gaya Komunikasi Berpolitik yang SANTUN, tanpa harus menjadi orang yang Arogan Se-Jakarta," tulis Fahira lewat akun Twitter-nya, @fahiraidris, Kamis (9/4/2015) malam.

Fahira menganggap sampai saat ini Ahok, sapaan Basuki, adalah tipe pemimpin yang anti-terhadap kritik dan tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Menurut dia, sudah banyak tokoh yang mencoba menasihati dan mengkritik Ahok. Namun, yang terjadi, ujar Fahira, Ahok terlihat tidak terima terhadap kritikan dan masukan tersebut.

"Pak Jaya Suprana, Ibu Risma, Bang @IwanPiliang7 dll memberi kritik & masukan, tetapi beliau tidak terima. Ya Nasib," ujar dia.

Fahira menilai, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya berani dan antikorupsi, tetapi juga mau menerima kritik. Terlebih lagi, kata dia, Indonesia adalah sistem yang menganut sistem demokrasi.

"Masa hidup di Negara Demokrasi tapi tak tahan kritik?? Kalau tak TAHAN KRITIK, Silahkan jadi warga biasa Jakarta saja. Jangan Ambil Resiko Jadi Pemimpin Jakarta! BERAT," ucap putri dari mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris itu.

Selain mengkritik perihal Ahok yang anti-kritik, Fahira juga mengkritisi Ahok yang dianggapnya terlalu sering menyalahkan bawahan apabila terjadi suatu masalah. Ia menganggap kebiasaan ini berbeda dengan kebiasaan yang ditunjukkan Ali Sadikin dan mantan Gubernur DKI lainnya, Sutiyoso.

"Bagi saya Sosok Bang Ali Sadikin dan Bang Yos adalah sosok yang TANGGUH dalam memimpin Jakarta. Mereka KERAS, tetapi punya KARAKTER dan BERANI ambil TANGGUNG JAWAB jika bawahannya berbuat salah. Bukan BUANG BADAN," ucap Fahira.

Menurut Fahira, pada dasarnya, ia mengaku setuju dengan pernyataan koleganya di DPD RI, AM Fatwa, yang mengatakan bahwa Jakarta membutuhkan pemimpin yang agak gila. Namun, ia menganggap pemimpin agak gila yang dibutuhkan Jakarta adalah pemimpin yang berada di jalan yang waras.

"Boleh-boleh saja sih Agak Gila, asal di Jalan yang WARAS! Saya gak Rela Jakarta dipimpin seorang yang Agak Gila di Jalan yang Gila!" kata perempuan yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha itu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BMKG: Hari Ini Sebagian Jabodetabek Hujan Ringan

BMKG: Hari Ini Sebagian Jabodetabek Hujan Ringan

Megapolitan
Apresiasi Kinerja, Pemkot Bekasi Beri Insentif ke Petugas Pemulasaraan Jenazah Covid-19 TPU Pedurenan

Apresiasi Kinerja, Pemkot Bekasi Beri Insentif ke Petugas Pemulasaraan Jenazah Covid-19 TPU Pedurenan

Megapolitan
Proses Aborsi di Klinik Ilegal Jakarta Pusat Hanya Berlangsung 15 menit

Proses Aborsi di Klinik Ilegal Jakarta Pusat Hanya Berlangsung 15 menit

Megapolitan
Polisi Gerebek Rumah yang Dijadikan Pabrik Ekstasi di Tangerang

Polisi Gerebek Rumah yang Dijadikan Pabrik Ekstasi di Tangerang

Megapolitan
26 RS Swasta di Jakarta akan Jadi RS Rujukan Covid-19

26 RS Swasta di Jakarta akan Jadi RS Rujukan Covid-19

Megapolitan
Langgar Protokol Kesehatan, Lebih dari 208 Tempat Usaha di Jakarta Ditutup Sementara

Langgar Protokol Kesehatan, Lebih dari 208 Tempat Usaha di Jakarta Ditutup Sementara

Megapolitan
Selama Isolasi di RS, Rektor IPB Ciptakan Lagu

Selama Isolasi di RS, Rektor IPB Ciptakan Lagu

Megapolitan
Setelah 3 Jam, Kebakaran di Sebuah Restoran di Kebayoran Baru Akhirnya Padam

Setelah 3 Jam, Kebakaran di Sebuah Restoran di Kebayoran Baru Akhirnya Padam

Megapolitan
Rekonstruksi Aborsi Ilegal di Jakarta Pusat, 10 Tersangka Peragakan 63 Adegan

Rekonstruksi Aborsi Ilegal di Jakarta Pusat, 10 Tersangka Peragakan 63 Adegan

Megapolitan
Sembuh dari Corona, Rektor IPB University Diperbolehkan Pulang

Sembuh dari Corona, Rektor IPB University Diperbolehkan Pulang

Megapolitan
Profil Cai Changpan, Bandar Narkoba Terpidana Mati yang Dua Kali Kabur dari Penjara

Profil Cai Changpan, Bandar Narkoba Terpidana Mati yang Dua Kali Kabur dari Penjara

Megapolitan
Pesan 87 Permen Mengandung Ganja dari Amerika, Pria Ini Ditangkap

Pesan 87 Permen Mengandung Ganja dari Amerika, Pria Ini Ditangkap

Megapolitan
UPDATE 25 September: Bertambah 19 Kasus Positif dan 25 Pasien Covid-19 Sembuh di Tangsel

UPDATE 25 September: Bertambah 19 Kasus Positif dan 25 Pasien Covid-19 Sembuh di Tangsel

Megapolitan
Polisi Tangkap Bandar Narkoba di Pamulang, Sita Sabu Senilai Rp 2,5 Miliar

Polisi Tangkap Bandar Narkoba di Pamulang, Sita Sabu Senilai Rp 2,5 Miliar

Megapolitan
UPDATE 25 September: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 1.289 Orang, Kasus Aktif Jadi 12.898

UPDATE 25 September: Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 1.289 Orang, Kasus Aktif Jadi 12.898

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X