Susi Minta Ahok Bangun Waduk untuk Kompensasi Reklamasi Pantai Utara

Kompas.com - 21/04/2015, 12:45 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memberi pengarahan dalam Seminar KOMPAS.COM/KURNIA SARI AZIZAMenteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memberi pengarahan dalam Seminar "Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam Indonesia Sektor Kelautan", di Balai Kota, Selasa (21/4/2015).
|
EditorKistyarini
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menginginkan Pemerintah Provinsi DKI membangun semacam waduk atau tampungan air sebagai kompensasi pelaksanaan reklamasi 17 pulau di pantai utara Jakarta.

Susi berpendapat, wilayah air di pantai Utara Jakarta yang ditutup untuk reklamasi pulau harus diganti dengan jumlah dan luas air yang sama. 

"Reklamasi itu sah-sah saja, diperbolehkan untuk tujuan pembangunan, pariwisata, dan menambah wilayah ruang. Tetapi, wilayah air yang ditutup itu harus dapat ganti yang sama, equal luasnya, dan kubikasinya sama. Pak Gubernur suruh bikin waduk ada tanah (kepemilikan) KKP (Kementerian Kelautan Perikanan), satu hektar Rp 1 triliun, ha-ha-ha," kata Susi tertawa, di Balai Kota, Selasa (21/4/2015). 

Susi menyambangi Balai Kota untuk memberi pengarahan dalam seminar "Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam Indonesia Sektor Kelautan" yang diselenggarakan KKP bersama Pemprov DKI dan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Susi menjelaskan, apabila ada satu juta ton air yang tertutup karena reklamasi pulau, DKI harus menyediakan wilayah dengan kapasitas penampungan air sebesar itu pula.

Jika tidak ada kompensasi waduk tersebut, Jakarta akan terendam banjir. Sebab, saat ini, Jakarta sudah kekurangan banyak wilayah air. Kemudian, jika DKI belum mampu membangun banyak tampungan air, sebaiknya reklamasi pulau itu ditunda pelaksanaannya.

"Ini pendapat saya pribadi. Tapi, untuk perizinan, saya harus dalami dulu dan tentu nanti saya secara tertulis akan memberikan kepada DKI Jakarta. Jadi, tadi adalah prinsip-prinsip lingkungan yang saya pegang teguh bahwa kita tidak boleh merusak ekosistem tanpa subsitusi ke alam yang menjaga bahwa air itu memiliki tempat yang cukup," kata Susi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wagub DKI Riza Patria Positif Covid-19

Wagub DKI Riza Patria Positif Covid-19

Megapolitan
UPDATE 29 November: Tambah 49 Kasus Baru, Covid-19 di Kabupaten Bekasi Jadi 6.807

UPDATE 29 November: Tambah 49 Kasus Baru, Covid-19 di Kabupaten Bekasi Jadi 6.807

Megapolitan
Balita Meninggal Saat Diajak Mengemis, Polisi: Sudah Sakit 4 Hari Sebelumnya

Balita Meninggal Saat Diajak Mengemis, Polisi: Sudah Sakit 4 Hari Sebelumnya

Megapolitan
Balita Meninggal saat Dibawa Mengemis, Polisi Sebut Tak Temukan Tanda-tanda Kekerasan

Balita Meninggal saat Dibawa Mengemis, Polisi Sebut Tak Temukan Tanda-tanda Kekerasan

Megapolitan
Bantah Rizieq Shihab Kabur dari RS, FPI: Bodoh Akut yang Bicara!

Bantah Rizieq Shihab Kabur dari RS, FPI: Bodoh Akut yang Bicara!

Megapolitan
Polemik Pasca Rizieq Shihab di Tanah Air: 7 Pejabat Dicopot, Klaster Covid-19, hingga Tindak Pidana

Polemik Pasca Rizieq Shihab di Tanah Air: 7 Pejabat Dicopot, Klaster Covid-19, hingga Tindak Pidana

Megapolitan
FPI Benarkan Rizieq Shihab Tinggalkan RS Ummi Bogor dan Tak Lagi Dirawat

FPI Benarkan Rizieq Shihab Tinggalkan RS Ummi Bogor dan Tak Lagi Dirawat

Megapolitan
Janji Anies dan Kritik soal Syarat NIK dan KK pada Smart E-budgeting

Janji Anies dan Kritik soal Syarat NIK dan KK pada Smart E-budgeting

Megapolitan
MER-C Sebut Rizieq Shihab Dapat Perlakuan Tak Beretika dari Bima Arya

MER-C Sebut Rizieq Shihab Dapat Perlakuan Tak Beretika dari Bima Arya

Megapolitan
Kasus Meningkat, Pusat Karantina Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Hampir Penuh

Kasus Meningkat, Pusat Karantina Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Hampir Penuh

Megapolitan
RS Ummi Dapat Teguran Keras, MER-C: Seharusnya Bima Arya Percaya Penuh pada RS

RS Ummi Dapat Teguran Keras, MER-C: Seharusnya Bima Arya Percaya Penuh pada RS

Megapolitan
Di Tengah Polemik Tes Swab, Rizieq Shihab Pergi Tinggalkan RS Ummi

Di Tengah Polemik Tes Swab, Rizieq Shihab Pergi Tinggalkan RS Ummi

Megapolitan
Kontroversi Tes Swab Diam-diam Rizieq Shihab yang Berbuntut Kasus Hukum...

Kontroversi Tes Swab Diam-diam Rizieq Shihab yang Berbuntut Kasus Hukum...

Megapolitan
Modus Pencabulan Bocah di Pondok Aren, Pelaku Mengaku Kru Televisi hingga Imingi Bertemu Artis

Modus Pencabulan Bocah di Pondok Aren, Pelaku Mengaku Kru Televisi hingga Imingi Bertemu Artis

Megapolitan
Terus Bertambah, Ini Sederet Pejabat yang Dicopot Akibat Kerumunan Massa Rizieq

Terus Bertambah, Ini Sederet Pejabat yang Dicopot Akibat Kerumunan Massa Rizieq

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X