Ahok: Terkadang, Staf Saya Bisa Lebih "Tough"

Kompas.com - 06/12/2016, 11:59 WIB
Calon pasangan cagub-cawagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama saat menerima pengaduan dari warga di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2016). Ahok menerima pengaduan warga mengenai permasalahan Ibu Kota setiap pagi dari Senin hingga Jumat di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGCalon pasangan cagub-cawagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama saat menerima pengaduan dari warga di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2016). Ahok menerima pengaduan warga mengenai permasalahan Ibu Kota setiap pagi dari Senin hingga Jumat di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta.
Penulis Jessi Carina
|
EditorIndra Akuntono


JAKARTA, KOMPAS.com -
Calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, bercerita mengenai staf pribadi yang sejak dulu sudah mendampinginya. Dia mengatakan para stafnya kini sudah sangat mengerti soal keinginannya menjadi pejabat yang betul-betul bersih.

Sejak Basuki atau Ahok cuti, dia tidak lagi menerima uang operasional. Gaji para stafnya pun tidak bisa sebesar dulu.

Ahok mengatakan dia pernah ditawari uang dari seorang pengusaha yang ingin membiayai kampanyenya. Tapi, Ahok mengatakan justru stafnya yang melarang.

"Terkadang, staf saya bisa lebih tough dari saya. Ini kan saya disuruh cuti, semua tunjangan operasional enggak boleh. Ada yang tawarin, 'sudahlah Hok saya aja yang biayain (kampanye)'," ujar Ahok di Rumah Lembang, Menteng, Selasa (6/12/2016).

"Staf saya bilang, 'Bapak sudah nanggung Pak, enggak usah terima, Pak'," tambah Ahok.

(Baca: Ahok: Dulu Eselon III dan IV Enggak Lapor Harta, padahal "Nyolong" Paling Gede)

Semangat dari para stafnya membuat Ahok yakin untuk mandiri dalam berpolitik. Ahok mengatakan sejak dulu dia biasa menjual aset pribadi untuk membiayai kegiatannya.

Ahok teringat ketika masih menjabat Bupati Belitung. Dia hanya diberi uang makan Rp 3,5 juta per bulan dan harus membuat laporan keuangan.

"Saya ditekan harus buat laporan itu beli beras berapa, gula berapa. Saya tanya bupati lain gini enggak? Ternyata enggak. Kenapa? Ternyata supaya tekan saya sampai enggak ada duit terus korupsi," ujar Ahok.

"Tapi saya enggak, saya sih jual aja gudang saya? tanah saya. Enggak apa-apa jual aja untuk hidup. Buat saya, jadi enggak jadi it's ok aja," lanjut Ahok.

(Baca: Ketika Ahok Tolak Sumbangan Dana Kampanye Rp 30 Miliar...)

Ahok maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017 bersama Djarot Saiful Hidayat. Pasangan petahana cagub-cawagub DKI Jakarta itu didukung PDI Perjuangan, Partai Golkar, Nasdem, dan Hanura.

Untuk biaya kampanye, Ahok-Djarot juga memerolehnya dari hasil penggalangan dana, dalam bentuk sumbangan atau makan berbayar. Sumbangan yang diberikan pada pasangan Ahok-Djarot tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan masuk ke dalam rekening yang telah disediakan.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

APBD-P DKI Diproyeksikan Defisit 31,04 Persen akibat Covid-19

APBD-P DKI Diproyeksikan Defisit 31,04 Persen akibat Covid-19

Megapolitan
Wali Kota Tangsel: 69 Kasus Covid-19 yang Baru Tercatat merupakan Kasus Lama karena Pasien Tes Mandiri

Wali Kota Tangsel: 69 Kasus Covid-19 yang Baru Tercatat merupakan Kasus Lama karena Pasien Tes Mandiri

Megapolitan
Tak Terima Dirawat di Ruang Perawatan Covid-19, Keluarga Pasien Kerahkan Massa ke RSUD Cengkareng

Tak Terima Dirawat di Ruang Perawatan Covid-19, Keluarga Pasien Kerahkan Massa ke RSUD Cengkareng

Megapolitan
Pesepeda Dijambret di Sekitar Bundaran HI

Pesepeda Dijambret di Sekitar Bundaran HI

Megapolitan
Sekelompok Remaja Bersenjata Tajam Serang Permukiman Warga di Bogor

Sekelompok Remaja Bersenjata Tajam Serang Permukiman Warga di Bogor

Megapolitan
800 Orang Lebih Hadiri Rapat Anggaran DKI di Puncak

800 Orang Lebih Hadiri Rapat Anggaran DKI di Puncak

Megapolitan
Cegah Penularan Rabies, 145 Hewan Divaksinasi di Johar Baru

Cegah Penularan Rabies, 145 Hewan Divaksinasi di Johar Baru

Megapolitan
Dua Kali Kejadian Begal Sepeda, Polsek Menteng Analisa Lokasi dan Waktu Kejadian

Dua Kali Kejadian Begal Sepeda, Polsek Menteng Analisa Lokasi dan Waktu Kejadian

Megapolitan
Pengendara Mobil yang Terekam Video Buang Sampah di Kalimalang Dicari Polisi

Pengendara Mobil yang Terekam Video Buang Sampah di Kalimalang Dicari Polisi

Megapolitan
Demo Buruh di Bogor, Bima Arya Ikut Berorasi dan Sampaikan Keberatan Kepada Jokowi

Demo Buruh di Bogor, Bima Arya Ikut Berorasi dan Sampaikan Keberatan Kepada Jokowi

Megapolitan
Bioskop di Jakarta Dibuka, Warga Minta Pengelola Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Bioskop di Jakarta Dibuka, Warga Minta Pengelola Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Megapolitan
Lubang untuk Aliran Air Dibuat di Jalanan Jaksel, Paling Banyak di Jalan Fatmawati

Lubang untuk Aliran Air Dibuat di Jalanan Jaksel, Paling Banyak di Jalan Fatmawati

Megapolitan
Wali Kota Tangsel: PSBB Diperpanjang karena Kasus Covid-19 Meningkat

Wali Kota Tangsel: PSBB Diperpanjang karena Kasus Covid-19 Meningkat

Megapolitan
Bawaslu Catatkan 23 Pelanggaran pada Pilkada Tangsel 2020, Kasus Netralitas ASN Mendominasi

Bawaslu Catatkan 23 Pelanggaran pada Pilkada Tangsel 2020, Kasus Netralitas ASN Mendominasi

Megapolitan
Dinkes Klaim Klaster Keluarga Covid-19 Kota Bekasi Telah Terkendali

Dinkes Klaim Klaster Keluarga Covid-19 Kota Bekasi Telah Terkendali

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X