Kompas.com - 10/08/2017, 16:44 WIB
|
EditorErvan Hardoko

JAKARTA, KOMPAS.com - Kaki Sutaryono (67) tak henti-hentinya bergerak untuk "mengayuh" sebuah mesin jahit tua.

Tangannya, meski sudah keriput di sana sini, masih cakap untuk memainkan roda mesin jahit model lama yang terus berputar sejak 1990.

Sutaryono atau biasa dipanggil Pakde  Yono adalah salah seorang penjahit pakaian pinggir jalan yang bekerja di sekitar kawasan Matraman, Jakarta Timur.

Pakde Yono dikenal sebagai penjahit senior yang sudah cukup lama membuka lapak di kawasan tersebut.

Baca: Putar Uang dari Upah Buruh Bangunan, Kakek Ini Ajak Istri Naik Haji

Saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (10/8/2017), Yono bercerita, profesi penjahit telah dia tekuni sejak 1990.

Sebelumnya, Yono bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Namun, karena hasil bekerja di bawah orang lain tak mencukupi, Yono memberanikan diri untuk membuka usaha jasa jahit pakaian.

Berbekal keahlian serta uang tabungan hasil bekerja di perusahaan konveksi itu, Yono membeli sebuah mesin jahit bekas.

Sekitar tahun 1990-an, mesin tersebut dibelinya dengan harga Rp 25.000. Sampai sekarang, mesin itu masih bisa bekerja dengan baik.

Sesekali Yono hanya perlu memberikan oli agar mesin tetap bisa berputar dengan halus. Beberapa bagian mesin memang sudah terlihat berkarat.

"Masih sehatlah mesinnya, cuma perlu kasih oli, kalau enggak ya enggak licin," ujar Yono.

Yono mengatakan, puluhan tahun menekuni profesi penjahit di pinggir jalan, banyak tantangan yang dihadapi.

Selain harus bersaing dengan penjahit lain yang lebih mapan, tantangan lain adalah dari petugas ketertiban.

Menghadapi para petugas ini membuat Yono dan rekan-rekannya sesama penjahit harus pintar-pintar menghindar.

Baca: Maksum Kakek Pengayuh Becak Akhirnya Akan Naik Haji

Bila melihat petugas ketertiban sedang berkumpul, maka Yono bergegas melarikan mesin jahitnya.

Sayangnya, tak jarang Yono tertangkap dan mesin jahit miliknya dibawa para petugas. Jika itu terjadi Yono harus rela merogoh kocek untuk menebus mesih jahitnya.

"Yah, bayar Rp 50.000 nebusnya. Namanya mesin buat cari makan, ya harus ditebus. Kalau enggak ya enggak makan. Tapi sekarang enggak ada lagi trantip kok, udah aman," ujar Yono.

Yono menyampaikan, dari hasil menjahit, dia bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Penghasilan Yono sebagai penjahit tak menentu. Dalam sehari, rata-rata ada sekitar 8-10 pelanggan yang datang untuk menjahit pakaian mereka yang robek.

Sekali menjahit Yono diupah sekitar Rp 15.000 hingga Rp 30.000 tergantung banyaknya pakaian.

"Mau banyak mau dikit yang pasti tetap bersyukur. Rejeki ada di Tangan tuhan," kata Yono.

Baca: Tekun Mencicil dari Gaji Rp 350.000, Kakek Penjaga Masjid Naik Haji

Selain bisa menyekolahkan keempat anaknya, dari hasil keringatnya itu Yono menyisihkan uang sedikit demi sedikit.

Uang yang dikumpulkannya itu digunakan untuk mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah haji.

Uang tabungannya selama bertahun-tahun itu dibelikannya sebidang tanah di kampung halamannya Kebumen, Jawa Tengah.

Beberapa tahun lalu, tanah tersebut dia jual dan hasil penjualannya digunakan untuk menunaikan ibadah haji.

Yono mendaftarkan diri untuk berangkat haji pada 2014 dan rencananya dia akan menuju ke Tanah Suci pada 2019.

Yono meyampaikan, niatnya untuk berangkat haji sudah terpikirkan sejak 2002 atau sebelum sang istri, Siti Siswayati meninggal dunia.

Namun, karena saat itu keempat anaknya masih kecil, maka almarhum istrinya mengurungkan niat untuk berangkat haji.

Baca: Menabung Rp 10.000 Tiap Hari, Nenek Penjual Bubur Ini Naik Haji

Pada 2011, Siti meninggal karena penyakit maag akut. Meski tak bisa bersama dengan istrinya menunaikan ibadah haji, Yono akan membawa doa-doa dan harapan sang istri ke Tanah Suci.

"Inginnya pergi sama istri, eh dianya sudah berpulang. Saya selalu berdoa untuk dia," ujar Yono.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Pejuang Kemerdekaan di Garis Belakang, Terpaksa Curi Buah untuk Perbekalan Tentara hingga Tukar Beras dengan Senjata Jepang

Cerita Pejuang Kemerdekaan di Garis Belakang, Terpaksa Curi Buah untuk Perbekalan Tentara hingga Tukar Beras dengan Senjata Jepang

Megapolitan
Berlakukan Pergub 23 Tahun 2022, Anies: Untuk Hindari 'Pengusiran Secara Sopan' Karena Pajak

Berlakukan Pergub 23 Tahun 2022, Anies: Untuk Hindari "Pengusiran Secara Sopan" Karena Pajak

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari

Prakiraan Cuaca BMKG: Jakarta Cerah Berawan Sepanjang Hari

Megapolitan
7 Tahun Silam, Warga Kampung Pulo Digusur Paksa, Picu Bentrokan Besar

7 Tahun Silam, Warga Kampung Pulo Digusur Paksa, Picu Bentrokan Besar

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Mengenag Kong Usman yang Sudah Berusia Seabad | Gubernur DKI Selalu Ada | Pemilik Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok

[POPULER JABODETABEK] Mengenag Kong Usman yang Sudah Berusia Seabad | Gubernur DKI Selalu Ada | Pemilik Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok

Megapolitan
20 Warga Rawajati Mengaku Belum Terima Kompensasi dari Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Kali Ciliwung

20 Warga Rawajati Mengaku Belum Terima Kompensasi dari Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Kali Ciliwung

Megapolitan
Pidato Kebangsaan Anies: 85 Persen Rumah di Jakarta Tak Perlu Bayar PBB

Pidato Kebangsaan Anies: 85 Persen Rumah di Jakarta Tak Perlu Bayar PBB

Megapolitan
Anies: 85 Persen Warga dan Bangunan di Jakarta Tidak Dikenakan Pajak

Anies: 85 Persen Warga dan Bangunan di Jakarta Tidak Dikenakan Pajak

Megapolitan
Mengenal Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Mata Berdirinya Sekolah Kedokteran dan Organisasi Budi Utomo

Mengenal Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Mata Berdirinya Sekolah Kedokteran dan Organisasi Budi Utomo

Megapolitan
Kios Bensin Eceran Terbakar di Cibitung Bekasi, Dua Orang Tewas

Kios Bensin Eceran Terbakar di Cibitung Bekasi, Dua Orang Tewas

Megapolitan
Mengenal Kong Usman, Pejuang Kemerdekaan Asal Bekasi yang Kini Berusia Lebih dari Seabad

Mengenal Kong Usman, Pejuang Kemerdekaan Asal Bekasi yang Kini Berusia Lebih dari Seabad

Megapolitan
Menengok Taman Proklamasi yang Miliki 3 Monumen Bersejarah Terkait Kemerdekaan Indonesia...

Menengok Taman Proklamasi yang Miliki 3 Monumen Bersejarah Terkait Kemerdekaan Indonesia...

Megapolitan
Warga Hujani Anies dengan Teriakan Calon Presiden Saat Bagikan SPPT PBB-P2 di Mangga Besar

Warga Hujani Anies dengan Teriakan Calon Presiden Saat Bagikan SPPT PBB-P2 di Mangga Besar

Megapolitan
Lenggak-lenggok ala Citayam Fashion Week Warga Persada Raya di Bekasi

Lenggak-lenggok ala Citayam Fashion Week Warga Persada Raya di Bekasi

Megapolitan
Keseruan Perayaan HUT ke-77 RI di Aliran Kali Baru Pangeran Jayakarta Bekasi, Ada Lomba Gebuk Bantal hingga Panjat Pinang

Keseruan Perayaan HUT ke-77 RI di Aliran Kali Baru Pangeran Jayakarta Bekasi, Ada Lomba Gebuk Bantal hingga Panjat Pinang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.