Pencemaran Teluk Jakarta Kian Parah - Kompas.com

Pencemaran Teluk Jakarta Kian Parah

Kompas.com - 08/03/2018, 14:23 WIB
Nelayan tangkap melepaskan ikan tembang dari jala untuk dijual ke pengepul di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (19/7). Ratusan nelayan menikmati panen ikan tembang seminggu terakhir meski harus melaut lebih jauh karena reklamasi Teluk Jakarta.KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS Nelayan tangkap melepaskan ikan tembang dari jala untuk dijual ke pengepul di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (19/7). Ratusan nelayan menikmati panen ikan tembang seminggu terakhir meski harus melaut lebih jauh karena reklamasi Teluk Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pencemaran sampah di Teluk Jakarta yang kian memburuk dikhawatirkan menjadi bom waktu jika tak ditangani dengan terobosan.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) MS Sembiring menyebutkan, sampah terutaman plastik menimbulkan dampak kerusakan bagi ekosistem laut dan pesisir. Selain mengotori lautan, sampah plastik dapat meracuni biota laut, merusak terumbu karang, dan berbahaya bagi kehidupan manusia.

"Sudah cukup lama masalah sampah di Teluk Jakarta ini menjadi polemik. Namun tak kunjung mendapatkan solusi. Padahal setiap detik tumpukan sampah kian bertambah. Ini harus segera dicarikan terobosan agar tak kian parah," kata MS Sembiring dalam diskusi bertema "Menjawab Tantangan: Teluk Jakarta Bersih? Siapa Berani?" di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Kamis (8/3/2018).

Tenia Puspa Lestari, penggagas Divers Clean Action yang memiliki gerakan "menyapu" dasar laut, menyayangkan Kepulauan Seribu dipenuhi sampah. Sampah tak hanya mengganggu kegiatan menyelam tetapi juga buruk bagi masyarakat dan ekosistem di Kepulauan Seribu.

"Kami menemukan 936 sedotan dalam area 100 meter dari 30 menit bersih-bersih," ujar Tenia.

Padahal Kepulauan Seribu biasanya jadi tempat pertama yang dikunjungi warga Jabodetabek jika ingin belajar menyelam.

Sampah yang hanyut di Teluk Jakarta merupakan sampah-sampah dari daratan dan sungai. 


Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2016, pencemaran di wilayah Teluk Jakarta mayoritas bersumber dari limbah domestik rumah tangga. Hal itu  karena kawasan tersebut menjadi lokasi akhir dari berbagai macam distribusi limbah yang datang dari hulu 13 sungai di Jakarta. Akibatnya, Teluk Jakarta menjadi titik yang paling tercemar.

Temuan sampah pada November 2015 silam, limbah industri sebanyak 52.862 ton dan limbah anorganik sebanyak 24.446 ton. Sedangkan untuk limbah yang berasal dari rumah tangga, untuk organik sebesar 10.875.651 ton dan anorganik 9.766.670 ton.

Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X